Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Trunyan, Kintamani: Legenda Tentang Anak-anak Dalem Solo, Mengembara Mencari Sumber Bau Harum

I Putu Mardika • Selasa, 23 Juli 2024 | 23:48 WIB

 

Landscape suasana Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali
Landscape suasana Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali
BALIEXPRESS.ID-Selain adanya kisah seorang Dewi yang Mengembara bau harum dan dihamili Matahari, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali yang merupakan Desa Bali Aga juga memiliki kisah atau legenda lainnya yang sangat populer.

Dalam Buku Fungsi dan Makna: Upacara Ngusaba Gede Lanang Kapat di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli yang ditulis I Made Sumerta dkk menjelaskan selama ini gambaran sejarah tentang awal mula Desa Trunyan sangat sulit untuk diungkapkan.

Pada musim-musim yang penuh angin seperti biasa keharuman makin semerbak menebar dari tempat itu, tak hanya ke langit namun juga sampai jauh ke seberang, di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Dalem Solo.

Dalem Solo memiliki empat anak; tiga lelaki dan yang bungsu perempuan, keempatnya sangat tertarik dengan bau harum yang semerbak yang menyelimuti wilayah kerajaan ayahnya dan berkehendak hendak mencari sumbernya.

Ayahandanya pun ingin tahu asal keharuman itu, mengizinkan keempat anaknya bertualang mencari sumber keharuman itu.

Maka berangkat keempatsaudara itu menjejaki arah datangnya keharuman; pelahan-lahan mereka bergerak, memastikan dari arah mana harum itu tercium. Mereka bergerak ke timur, sempat berputar ke utara,

Keharuman itu makin menyentak saat mereka melewati celah laut, pengembaraan mereka memasuki Pulau Bali. Hingga sempat mereka memasuki daerah Desa Culik lalu ke Desa Tepi.

Sebuah perbatasan antara Karangasem dengan Buleleng, bau harum itu makin menguat dari arah Gunung Batur, mereka pun menyusuri jalan mendekati Gunung Batur.

Setibanya di kaki gunung, anak perempuan dari empat bersaudara itu memutuskan untuk berdiam di sana, tempat itu sekarang di wilayah Pura Batur. Anak perempuan itu mendapat gelar Ratu Ayu Mas Maketeg, sedangkan ketiga saudara lelakinya melanjutkan perjalanan menyusuri pinggir Danau Batur.

Setibanya di tempat datar di Baratdaya danau terdengar suara seeker burung yang teramat nyaring, tempat itu lalu dinamakan Desa Kedisan (kedis adalah bahasa Bali untuk menyebut burung).

Waktu mendengar suara burung itu karena girang putra Dalem Solo yang termuda bersorak kegirangan. Sorakannya itu membuat kakak sulungnya tidak senang dan memerintahkan untuk tidak  melanjutkan perjalanan.

Namun adiknya dengan lembut menjawab dan akan tetap turut mencari sumber keharuman. Ia bahkan tidak tergoda sedikit pun dengan kemerduan suara burung itu.

Mendengar sahutan adiknya itu, bukannya sang kakak senang hati, justru dengan penuh amarah menendang sehingga adiknya jatuh duduk bersila, itu sebabnya di Kedisan hingga kini ada patung yang duduk bersila bergelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero.

Setelah meninggalkan adiknya dalam kondisi duduk bersila, kedua putra Dalem Solo yang sulung dan yang nomor dua melanjutkan pengembaraannya kini menyusuri tepian timur dan tiba di tempat yang datar serta menemukan dua orang perempuan sedang mencari kutu di atas kepala yang lainnya.

Karena gembira melihat manusia setelah sekian lama melakukan pengembaraan, putra Dalem Solo yang kedua amat gembira dan menyapa kedua perempuan itu. Perbuatannya itu ternyata membuat sang kakak murka.

Sang kakak naik pitam lalu menyepak dengan sekuat tenaga, sehingga adiknya jatuh melingkuh (telungkup), hingga sampai kini di sana ada patung yang bentuk telungkup dan asal kata melingkuh itulah dikenal kemudian Dukuh (merujuk nama daerah Abang Dukuh, dalam prasasti Abang disebut Air Hawang).

Setelah meninggalkan ketiga adiknya, si sulung terus melangkah menyusuri tepian danau menuju Utara, melewati jalanan yang curam, bau semerbak itu makin terasa dekat, dan akhirnya dia tiba di suatu dataran di mana dia temukan seorang dewi, yang sungguh jelita, membuat jantungnya berdetak hebat.

Dewi itu tengah duduk terpejam di bawah pohon-pohon menyan. Dengan penuh kasmaran didekatinya dewi itu, disampaikannya hasrat hatinya.

Sang dewi menjelaskan bahwa, dia memiliki seorang kakak. Maka sang kakak pun ditemui oleh putra sulung Dalem Solo. Dengan tenang, kembaran sang dewi menjawab boleh mengawini adiknya dengan satu syarat harus mau menjadi raja di sini.

Putra sulung Dalem Solo pun menyetujui permintaan itu dan mendapatkan gelar Ratu Sakti Pancering Jagat dan istrinya Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar, berdua mereka menguasai wilayah Danau Batur hingga kini tetap dipuja dengan tradisi Trunyan.

Oleh karena tak ingin daerah kekuasaannya di cari oleh orang-orang, disebabkan oleh bau harum yang menembus langit dan lautan. Maka keduanya memerintahkan kepada rakyat Desa Trunyan.

Bahwa, jika ada yang meninggal, jangan dikubur, tapi dipasah, dijajar agar keharuman menyan tidak menyebar, tapi cukup hanya disekitar wilayah Batur ini saja.

Tradisi mepasah ini mirip jika dibandingkan dengan beberapa cara di beberapa negara lain seperti Toraja, Mesir, dan lain-lain. Sejak itulah bau harum tak lagi memancar dari tempat itu. (dik)

Kimetsu no Yaiba
Kimetsu no Yaiba
Kimetsu no Yaiba
Kimetsu no Yaiba
Editor : I Putu Mardika
#desa trunyan #Kintamani #bali aga #bangli #sejarah