Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keris Ini Dibuat Gunakan Pijatan Tangan, Hasil Karya Murid Mpu Gandring yang Dikoleksi Neka Art Museum: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Sabtu, 27 Juli 2024 | 00:06 WIB
KERIS: Keris Ki Pijetan yang dikoleksi Neka Art Museum, konon dibuat murid Mpu Gandring dengan cara dipijat menggunakan tangan.
KERIS: Keris Ki Pijetan yang dikoleksi Neka Art Museum, konon dibuat murid Mpu Gandring dengan cara dipijat menggunakan tangan.

BALIEXPRESS.ID -  Pembuatan keris tidak hanya ditempa dengan palu, tetapi ada juga keris yang dibuat dengan dipijat menggunakan tangan, disebut keris pijetan.

Salah satu mpu keris yang ahli membuat keris pijetan adalah Mpu Geni Sandang Jiwa.

Menurut prasasti Pura Dadia Pande Padukuhan yang terdapat di Desa Menanga, Karangasem, seorang mpu keris bernama Mpu Geni Sandang Jiwa yang hidup pada abad ke-13 memiliki keahlian khusus membuat keris pijetan.

Keris dibuat dengan cara memijat permukaan logam yang masih membara. Sehingga ciri khas keris pijetan buatan Mpu Geni Sandang Jiwa adalah bagian permukaan keris terdapat bekas pijatan-pijatan tangan.

Salah satu keris pijetan yang diberi nama Ki Pijetan, kini dikoleksi Neka Art Museum.

Keris yang panjang bilahnya 43,5 cm ini merupakan salah satu hasil karya Mpu Geni Sandang Jiwa saat berada di Bali sekitar abad ke-13.

Menurut sejarah, Mpu Geni Sandang Jiwa merupakan salah satu murid Mpu Gandring yang memiliki kesaktian untuk memijat-mijat besi panas dengan tangannya.

Jika mpu keris lainnya melakukan proses penempaan besi memakai palu, Mpu Geni Sandang Jiwa hanya menggunakan jari tangan dengan cara dipijat-pijat.

Keris Ki Pijetan ini memiliki ganja yang berbeda dengan keris pada umumnya.

Karena kekhasan bentuk dan cara pembuatannya, keris ini dipercaya memiliki tuah untuk kewibawaan, perlindungan dan kemakmuran.

Ki Pijetan memiliki dhapur jalak tilam sari. Jalak artinya burung jalak, tetapi sesungguhnya kata yang paling pas untuk menyebut dhapur keris ini adalah jarag yang artinya disengaja.

Dalam bahasa Bali, kata ‘Jarag” berarti berburu atau menangkap. Sedangkan  “tilam” artinya kasur atau berlaga, dan “Sari”artinya inti.

Jadi nama dhapur keris “Jalak Tilam Sari” ini dimaknai sebagai berlaga untuk perburuan inti keris.

Keris yang memiliki bentuk seperti ini diyakini memberikan kewibawaan, pengaruh dan kesejahteraan bagi pemiliknya.

Kini keris dengan dhapur seperti ini sudah sangat langka. Karena langka dan diyakini memiliki tuah yang baik, bilah keris pijetan ini banyak diburu para kolektor dan pencinta keris.

Keris Ki Pijetan memiliki pamor beras wutah motif pula tirta yang artinya pulau di dalam air suci yang diyakini dapat memberikan ketenteraman, kemakmuran dan luwes dalam pergaulan.

Untuk menambah kewibawaan dan nilai estetika, keris ki Pijetan ini diberi danganan (handle) bernama loncengan yang juga biasa disebut danganan cenangan karena merupakan pengembangan bentuk hulu (kepala) cenangan.

Handle hulu cenangan terlihat sederhana tetapi bagian tengahnya dililit dengan anyaman rambut manusia yang sangat halus, rumit dan rapi.

Warangka keris Ki Pijetan koleksi Neka Art Museum ini berbentuk kekandikan (kapak) terbuat dari gading, dilengkapi dengan pendok bunton dilapisi emas dengan motif sulur sekar-sekaran (bunga) sehingga membuat keris ini sangat indah, berwibawa dan memiliki tuah tinggi.     

Editor : Nyoman Suarna
#mpu gandring #keris #sejarah #Neka Art Museum #Ki Pijetan