Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Beji Waringin Pitu: Tempat Melukat Tersohor di Bali dengan Tujuh Simbol Khusus

IGA Kusuma Yoni • Sabtu, 27 Juli 2024 | 19:15 WIB
Beji Waringin Pitu, yang terletak di Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali
Beji Waringin Pitu, yang terletak di Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali

BALIEXPRESS.ID - Beji Waringin Pitu, yang terletak di Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, adalah tempat pengelukatan atau melukat (pengruwatan) yang dikenal luas umat Hindu di Bali.

Lokasi ini sehari-harinya digunakan sebagai tempat pemandian umum oleh masyarakat setempat.

Lokasi dan Akses Beji Waringin Pitu

Beji Waringin Pitu berlokasi di Jalan Sandat Banjar Celuk Desa Adat Kapal.

Dari Jalan Raya Kapal, akses ke tempat ini cukup mudah. Tepat di depan Banjar Celuk, terdapat jalan aspal ke arah utara.

Dari jalan tersebut, kita hanya perlu menempuh jarak sekitar 1 kilometer, melewati perumahan penduduk dan areal persawahan milik warga Banjar Celuk.

Plang nama Beji Waringin Pitu akan terlihat di sebelah kiri jalan. Dari sana, kita akan sampai di areal parkir yang cukup luas.

Untuk mencapai areal pemandian, pengunjung harus turun melalui anak tangga.

Sejarah Beji Waringin Pitu

Menurut Ida Bagus Ngurah Suparsa, pemangku Beji Waringin Pitu, beji ini sudah ada sejak zaman dahulu.

"Beji ini memang sudah ada sejak saya masih kecil dan menjadi tempat pemandian umum serta tempat melukat," jelasnya.

Gus Ngurah telah menjadi pemangku sejak tahun 2008.

Asal Usul Nama Beji Waringin Pitu

Nama "Waringin Pitu" diambil dari kondisi alam Beji tersebut. Pada zaman dahulu, di sekitar Pura yang terletak di pinggir Tukad Penet ini, terdapat tujuh batang pohon beringin tua.

Namun, bencana banjir yang melanda Banjar Celuk mengakibatkan longsor dan menghanyutkan enam dari tujuh pohon beringin tersebut.

"Satu pohon yang tersisa masih berdiri kokoh karena lokasi pohon yang cukup tinggi dan akarnya yang kuat," tambahnya.

Tujuh Pancoran di Beji Waringin Pitu

Beji Waringin Pitu dikenal memiliki tujuh pancoran yang memiliki fungsi pembersihan untuk masing-masing anggota tubuh.

Setiap pancoran melambangkan aksara tertentu dan memiliki simbol khusus.

1.  Pancoran pertama di sisi utara dengan aksara Ang-Ung melambangkan panas atau api dan udara, berfungsi untuk membersihkan pori-pori kulit.

2.  Pancoran kedua dengan aksara Chandra (Mang) berfungsi untuk membersihkan organ mata.

3.  Pancoran ketiga dengan aksara Ongkara (Siwa) berfungsi untuk membersihkan mulut.

4.  Pancoran keempat dengan aksara Mangkara (Iswara) berfungsi untuk membersihkan hidung.

5.  Pancoran kelima dengan aksara Ungkara (Dewa Wisnu) berfungsi untuk membersihkan telinga.

6.  Pancoran keenam dengan aksara Akara (Brahma) disimbolkan dengan relief alat kelamin laki-laki.

7.  Pancoran ketujuh juga dengan aksara Akara (Brahma) disimbolkan dengan anus.

"Kedua simbol terakhir ini merupakan manifestasi dari Lingga dan Yoni atau manifestasi Purusa dan Predana," jelas Gus Ngurah.

Beji Waringin Pitu terus menjadi tempat yang dihormati dan dikunjungi oleh masyarakat Bali untuk pengelukatan dan pemandian umum.

Dengan sejarah panjang dan keunikan pancorannya, Beji Waringin Pitu tetap menjadi salah satu tempat spiritual yang penting di Bali. ***

Bupati Sumenep  Achmad Fauzi Wongsojudo
Bupati Sumenep  Achmad Fauzi Wongsojudo
BERJALAN LANCAR: Tim Bapenda Sumenep melakukan sosialisasi kebijakan penghapusan sanksi administrasi PBB P2 di Kecamatan Nonggunong, Selasa (16/7). (BAPENDA SUMENEP UNTUK JPRM)
BERJALAN LANCAR: Tim Bapenda Sumenep melakukan sosialisasi kebijakan penghapusan sanksi administrasi PBB P2 di Kecamatan Nonggunong, Selasa (16/7). (BAPENDA SUMENEP UNTUK JPRM)
Editor : I Putu Suyatra
#BEJI WARINGIN PITU #melukat #bali #mengwi #Brahma #Wisnu #lingga #hindu #yoni #kapal #simbol