Pemangku Pura Ulun Kulkul I Gusti Mangku Jana mengatakan Pujawali di Pura Ulun Kulkul dibagi menjadi tiga.
Pertama puawali setiap 210 hari sekali atau setiap enam bulan, saat Saniscara Wuku Kuningan atau tepat Hari Raya Kuningan.
Ada juga piodalan setiap setahun sekali, yakni pada Tilem Katiga yang disebut Aci Pengurip Bumi.
Aci ini sebagai rangkaian Aci yang dilaksanakan di Pura Gelap yang disebut Aci Pengenteg Jagat, di Pura Ulun Kulkul yakni Aci Pengurip Bumi, di Pura Batu Madeg Aci Penaung Bayu dan Kiduling Kreteg Aci Penyeeb Brahma.
Ritual Aci Pengurip Bumi menjadi ritual penting untuk menjaga Bumi ini tetap memberikan kesuburan.
Menurutnya, Bumi ini ke bawah memiliki tujuh lapisan yang disebut Sapta Patala. Kalau masing-masing lapisan ini berfungsi dengan sebaik-baiknya maka kehidupan di permukaan bumi ini akan berlangsung dengan baik.
Di semua lapisan-lapisan bumi ini ada kemahakuasaan Tuhan sehingga lapisan bumi ini dapat berdinamika sesuai dengan hukum Rta.
Kalau lapisan bumi ini dapat berfungsi sesuai dengan hukum Rta maka sumber-sumber alam akan berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup di permukaan bumi ini.
Karena itu Pura Ulun Kulkul sebagai media untuk memohon agar tanah seperti sawah, ladang maupun hutan dapat menjadi tempat tumbuhnya tanam-tanaman dengan suburnya
“Ida Bhatara Nyejer tiga hari sejak Tilem Katiga,” paparnya.
Baca Juga: Pura Dalem Blanjong di Sanur: Saksi Bisu Perpaduan Ajaran Siwa-Buddha di Bali
Ada juga Aci Pecayan yang dilaksanakan saat Usaba Pura Dalem Puri atau Usaba Pitara saat Sasih Kaulu, tanggal Ganjil nemu kajeng.
“Disini juga dilakksanakan petabuhan saba sebagai piuning jika ada pujawali di Pura Dalem Puri pada sore hari dengan sarana caru, banteng,” tutupnya.
Pura ini juga diempon oleh masyarakat Kabupaten Gianyar. “Namun ini sebagai pura sungsungan jagat. Jadi siapapun bisa nangkil ke Pura Ulun Kulkul,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika