BALIEXPRESS.ID - Bagi pasangan umat Hindu di Bali, yang belum dikaruniai keturunan, seringkali menempuh jalur skala dan niskala.
Beberapa tempat suci umat Hindu di Bali juga diyakini sebagai tempat memohon keturunan bagi setiap pasangan yang memohon.
Hal ini berdasarkan pengalaman dan penuturan para pemangku tempat suci tersebut.
Berikut rekomendasi 3 tempat yang diyakini memiliki kekuatan magis dan mampu memberikan jalan bagi pasangan yang belum memiliki keturunan:
1. Keunikan Pura Erjeruk di Gianyar: Tempat Memohon Keturunan Bagi Semua
Pura Erjeruk terletak sekitar 200 meter ke arah selatan dari simpang empat Bypass IB Mantra menuju Pantai Purnama, Kabupaten Gianyar, Bali.
Pura ini memiliki banyak keunikan, salah satunya adalah sebagai tempat memohon keturunan bagi masyarakat Hindu maupun non-Hindu.
Meski begitu, umat yang nangkil, wajib menghormati tempat suci sangat penting saat berkunjung.
"Jangan berperilaku sembarangan di tempat suci. Hal ini bisa menimbulkan kejadian aneh yang bisa dirasakan," kata Pemangku Pura Erjeruk, Ida Bagus Putra Adnyana.
Ia menceritakan kejadian aneh yang pernah dialami seorang warga saat hendak menebang dahan pohon Kampuak di jeroan pura menjelang piodalan.
Bersama beberapa pengayah, mereka berencana menebang beberapa cabang pohon agar terlihat bersih.
Namun, saat menarik dahan dengan tali, orang tersebut tiba-tiba merasa tenaganya hilang dan tubuhnya lemas.
"Begitu berusaha menarik tali, justru dia yang ditarik dahan. Untunglah tidak terjadi peristiwa fatal, dan semuanya bisa berjalan lancar setelah memohon permakluman," tutur Adnyana.
Pohon Kampuak (jambu) di tengah Utama Mandala Pura Erjeruk dipercaya sebagai jejak perjalanan Dang Hyang Niratha.
Pohon ini memiliki diameter batang sekitar tiga meter, berbeda dengan pohon Kampuak pada umumnya.
Mitos yang beredar mengatakan pohon ini merupakan tongkat sang Maharesi yang ditancapkan sebelum beliau meninggalkan Pura Erjeruk.
Di jaba tengah, tepat di depan candi bentar menuju jeroan, terdapat Palinggih Ratu Brayut yang diyakini sebagai tempat memohon keturunan.
Banyak masyarakat Bali dan orang dari luar Bali, termasuk warga non-Hindu, datang ke Pura Erjeruk untuk berdoa di Palinggih Ratu Gede Brayut agar dikaruniai keturunan.
Namun, Adnyana mengingatkan bahwa tidak semua permohonan terkabul.
"Semua permohonan tergantung pada sujud bakti dan karma yang bersangkutan," tutup Adnyana.
2. Keunikan Pohon Jati di Pura Dang Khayangan Jati Jembrana: Tirta Amertha Manik Jati yang Berkhasiat
Pura Dang Khayangan Jati Jembrana, atau sering disebut Pura Jati, terletak di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana.
Keunikan pohon jati di pura ini menjadi motivasi spiritual bagi para pemedek. Air yang keluar dari pohon jati ini diyakini bukan hanya sebagai tirta untuk kepentingan sembahyang, tetapi juga berkhasiat sebagai obat.
Menurut Jro Mangku I Ketut Sadia, air yang keluar dari pohon jati ini disebut Tirta Amertha Manik Jati.
Beberapa orang mempercayai bahwa tirta ini berkhasiat untuk memperoleh keturunan.
Hal ini didasarkan pada pengalaman para pemedek yang pernah bersembahyang di pura ini dan berhasil mendapatkan keturunan setelah melakukan ritual persembahyangan.
"Waktu itu pernah ada pasangan suami istri yang bersembahyang di sini memohon untuk memperoleh keturunan. Setelah itu, mereka kembali ke sini bersama anaknya yang telah lahir untuk mengucap rasa syukur," ungkap Mangku Sadia.
3. Keunikan Pura Tirta Sudhamala di Buleleng: Tempat Melukat yang Suci dan Berkhasiat
Bagi penekun spiritual yang gemar “berburu” tempat melukat, Pura Tirta Sudhamala di Desa Pakraman Banyuasri, Kecamatan Buleleng, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, patut dikunjungi.
Pura ini memiliki keunikan tersendiri, termasuk air suci dari pohon jati yang diyakini berkhasiat sebagai tirta untuk sembahyang dan obat.
Sejarah Pura Tirta Sudhamala
Sejarah mencatat bahwa pada zaman Raja Panji Sakti, Sungai Banyumala sering dijadikan benteng perbatasan Kerajaan Buleleng.
Beberapa kali terjadi peperangan di perbatasan ini, termasuk perang antara Sambangan dan Bangkang, serta antara Bangkang dan Banyumala.
Banyak penduduk gugur dalam peperangan dan mayatnya dibuang ke sungai, menyebabkan pencemaran air.
Ledakan Misterius dan Munculnya Tirta Amertha Manik Jati
Menurut Jero Mangku Gede Ferry Hariawan, pengempon Pura Tirta Banyumala, pernah terjadi ledakan besar di Sungai Banyumala yang terdengar hingga radius 500 meter.
Setelah ledakan, penduduk menemukan sumber air yang deras, yang berasal dari sebuah goa.
Goa tersebut diyakini tembus hingga Segara Banyumala, dan airnya dipercaya sebagai tirta suci untuk membersihkan sungai yang tercemar.
Asal Mula Nama Pura Tirta Sudhamala
Nama Pura Tirta Sudhamala berasal dari keinginan krama Desa Banyuasri untuk menata sumber air yang dulu dikenal sebagai Tukad Banyumala.
Saat melakukan upacara, salah seorang krama presutri kerauhan dan Ida Petapakan bernama Dewa Ayu Manik Sudhamala hadir, memberi petunjuk agar pura diberi nama Pura Tirta Sudhamala.
Pura ini dipercaya memiliki aura suci yang mampu memberikan penganugrahan melalui ritual melukat.
Struktur Pura Tirta Sudhamala
Pura Tirta Sudhamala menempati area seluas 700 meter persegi, terbagi menjadi Tri Mandala. Jaba pura berada di sebelah selatan sebagai areal parkir, Jaba Tengah atau jeroan pura sebagai stana Dewa Taksu Manik Geni, dan Utama Mandala sebagai stana Ida Bhatara Dewa Ayu Manik Sudhamala.
Pancuran Sudhamala berada di sisi barat pura, dipisahkan oleh aliran Sungai Banyumala dan dihubungkan oleh jalan beton untuk akses melukat.
Pancuran Naga Basuki
Air pancoran berasal dari tujuh mata air yang berbeda, keluar melalui mulut patung naga yang diyakini sebagai manifestasi Naga Basuki, tunggangan Ida Bhatara Dewa Ayu Manik Sudhamala. Pengawal naga dimanifestasikan dalam bentuk dua ekor macan.
Waktu dan Persiapan Melukat
Bagi umat Hindu yang ingin melukat, disarankan datang pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Purwani, Banyu Pinaruh, Ngembak Geni, Kajeng Keliwon, dan hari besar lainnya.
Persiapan utama untuk melukat meliputi banten Peras Pejati Jangkep, Canang Sari, Banten Peras, Canang Ajengan, Tipat Gong, Tipat Kelanan, Segehan putih kuning atau panca warna, Banyuawangan, dan bunga teratai.
Pengunjung Pura Tirta Sudhamala
Menurut Jero Mangku Ferry, pengunjung datang dari berbagai kalangan, agama, dan profesi. Pura ini dikenal suci dan pingit, dan banyak pemedek yang permohonannya terkabul, seperti memperoleh keturunan, jodoh, kesembuhan, dan kesehatan.
Mereka sering kembali untuk berterima kasih dengan memberikan busana Palinggih, wastra, tedung, dan dana punia.
Peran Vital Air Tirta Sudhamala
Tirta Sudhamala dikenal sebagai tirta panglukatan dan air suci yang digunakan oleh masyarakat Hindu untuk keperluan di sanggah merajan.
Tirta ini juga vital dalam upacara Pitra Yadnya atau Ngaben, khususnya dalam prosesi "manah toya". ***
Editor : I Putu Suyatra