BALIEXPRESS.ID- Sejarah tradisi Ngelawang, menjadi salah satu tradisi yang sangat melekat dengan ritual Agama Hindu.
Bahkan jika dilihat dari ideologinya, ritual Ngelawang bertujuan untuk menetralisir aura negatif atau pengeruwat jagat.
Seperti apa sejarah Ngelawang? Berikut penjelasan Budayawan Bali, Prof. Made Bandem.
Seperti yang diterangkan Prof Bandem, Ngelawang adalah suatu tradisi yang pementasan keliling desa yang jika dilihat dari ideologinya, ngelawang berkaitan erat dengan ritual Agama Hindu.
Karena dipentaskan dengan menyertakan sesajen atau persembahan.
“Secara filosofis, ngelawang bertujuan untuk menetralisir kekuatan bhuta agar menjelma kekuatan dewa. Barong merupakan simbol kekuatan dewa yang hendak menyucikan alam semesta," jelas Maestro Tari Bali ini.
Baca Juga: Miliki Peluang Karir di Luar Kota, EDST Memilih Tetap Berproses di Singaraja
Karena berkaitan dengan ritual keagamaan, maka pelaksanaan dari Ngelawang ini diakui Prof. Bandem dilaksanakan dalam rentang waktu tertentu.
Biasanya Ngelawang sangat identik dengan perayaan Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan.
Selain itu, Ngelawang masih bisa dilakukan hingga satu bulan setelah hari Raya Galungan, tepatnya hingga hari perayaan Buda Kliwon Pahang, atau 35 hari setelah Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Rabu Kliwon Wuku Dunggulan.
Ngelawang dilakukan pada rentang waktu tersebut, karena dalam tradisi keagamaan masyarakat Bali rentang waktu tersebut,dikenal sebagai hari Rahinan Jagat (Hari Raya untuk bumi).
Baca Juga: Jaringan Narkoba Gianyar Terbongkar, 8 Orang Ditangkap
"Sehingga harus dilakukan perayaan yang diisi dengan beragam kegiatan, seperti hiburan dan ritual keagamaan. Sehingga Ngelawang yang merupakan bagian dari ritual juga harus dilakukan," lanjutnya.
Adapun sarana yang digunakan dalam Ngelawang, adalah barong, tapel dan gambelan yang memiliki kekuatan spiritual sehingga dapat berfungsi sebagai pengeruwat jagat. Simbol dari pengeruat jagat ini.
Disebutkan Prof. Bandem adalah dengan melakukan kirab keliling desa (Napak Pertiwi). Barong yang digunakan ini, adalah Barong yang dimiliki Desa Adat yang ada di Bali seperti Barong Macan, Barong Bangkung, Barong Kedingkling, Wayang Wong dan lain sebagainya.
"Barong ini bisa disesuaikan dengan kepercayaan yang ada di desa adat tersebut, seperti barong Menjangan, Barong Kedingkling yang berfungsi sebagai simbol pengusir Butha Kala,” urainya.
Baca Juga: Parade Gebogan dan Pementasan Seni: Strategi Tanah Lot Menarik Wisatawan Selama Low Season
Sementara jika dilihat idiologinya, ngelawang harus berpatokan pada Siwam, Satyam dan Sundaram, yang memiliki arti,kesucian, Etika dan Keindahan. Sehingga dalam penampilannya, ngelawang harus memiliki keindahan baik dari segi gerak tarian dan keindahan ritme dari tetabuhan yang digunakannya, etika pementasan dan kesucian property yang digunakan untuk ngelawang.
Pada waktu kirab ini, Barong yang ngelawang memang bisa diberikan sesajen sebagai wujud syukur masyarakat. Sehingga lungsuran dari prani tersebut bisa dinikmati oleh orang yang mementaskan barong.
“Hal itu wajar, karena penari ini diizinkan untuk menikmati lungsuran dari persembahan tersebut,” tambah Prof. Bandem. (gek)
Editor : Wiwin Meliana