Barong Landung, dilihat dari namanya, memiliki bentuk yang tinggi. Landung berarti tinggi. Wujudnya berupa manusia dengan tinggi bisa mencapai 3 meter. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, seperti Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan
Kedua tokoh utama dalam cerita Barong Landung ini sudah menjadi mitologi yang begitu keramat di Bali, dan secara nyata dipuja sebagai Dewa oleh hampir sebagian besar masyarakat Bali.
Kedua tokoh yang dilukiskan berwarna hitam dan berwarna putih merupakan perlambangan dari keadilan atau kewenangan serta kebijaksanaan untuk menentukan atau menegakkan kebajikan.
Simbol-simbol ini terasa sangat serasi hal ini ada kaitannya dengan persamaan konsep religi orang Bali yang dikenal dengan istilah “Rwabineda” atau dalam istilah Cina dikenal dengan istilah “Im-Yang” yang juga memiliki kesamaan dalam tafsiran.
Pengempon Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Jro Mangku I Nengah Kadi menjelaskan Barong landung laki-laki merupakan simbol suci untuk memuja kebesaran raja Sri Jaya Pangus yang bertahta di Istana Panarajon, sekarang termasuk wilayah Desa Pinggan (Sukawana), Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Barong landung wanita tua merupakan simbol dari permaisuri beliau, yang memiliki keturunan ras Mongoloid (Tionghoa).
Secara kebetulan pula pada zaman pemerintahan raja suami istri ini terjadi suksesi penyatuan mazhab besar dalam agama Hindu di Bali ke dalam paham Siwa-Budha.
Pura Dalem Balingkang erat kaitannya dengan Barong Landung yakni kisahnya diambil dari hikayat Sri Jaya Pangus, Raja Bali dari dinasti Warmadewa. Kerajaannya berpusat di Penarajon sebelah utara Kintamani.
Sri Jaya Pangus melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni mengawini putri Cina yang bernama Kang Cing Wie.
Raja Jaya Pangus tetap ngotot kawin meski tak direstui pendeta kerajaan Mpu Siwa Gandu. Akibatkan sang pendeta marah-marah, lalu menciptakan hujan terus-menerus sehingga seluruh kerajaan tenggelam.
Singkat cerita, Jaya Pangus pun dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang. Raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang.
Sayang, karena lama Kang Cing Wei tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugrahi anak.
Dalam perjalanannya sang raja bertemu dengan Dewi Danu yang wajahnya cantik jelita. Sang raja pun terpikat, dan akhirnya menikah.
Di sisi lain, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah.
Akhirnya, Kang Cing Wei pun bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun ketika berada di tengah hutan belantara, Kang Cing Wei terkejut saat menemukan suaminya telah menjadi milik dari Dewi Danu.
Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit. Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka.
Dengan kekuatan gaibnya, Dewi Danu melenyapkan Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dari bumi ini.
“Oleh rakyat yang mencintainya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika