BALIEXPRESS.ID – Tradisi 'Mula Keto', yang berarti "memang seperti itu", adalah sebuah tradisi Bali yang sarat dengan nilai nisthata-bhakti, yaitu bhakti yang mendalam dan tulus.
Namun, tradisi ini bisa kehilangan makna jika terjebak dalam anisthata-bhakti, yakni bhakti yang dilakukan tanpa keyakinan atau tujuan spiritual yang jelas.
Dalam beberapa kasus, tradisi 'Mula Keto' kerap ditunggangi oleh tradisi baru yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam susastra Weda (kitab suci Hindu).
Acharya Praburasa Darmayasa, seorang tokoh spiritual ternama dan Presiden World Divine Society, menegaskan bahwa terdapat berbagai cara untuk mendekatkan diri kepada Ida Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa.
Dari yang paling sederhana seperti ngaturang canang (mempersembahkan sesaji) hingga praktik spiritual yang lebih mendalam seperti tapa, brata, yoga, dan samadhi.
Beliau menekankan bahwa tradisi 'Mula Keto' bukanlah tradisi yang lahir secara sembarangan, melainkan memiliki dasar yang kokoh dalam ajaran Weda yang diwariskan oleh para leluhur.
Tradisi 'Mula Keto' dalam Perspektif Modern
Darmayasa menjelaskan bahwa tradisi 'Mula Keto' adalah bentuk pendekatan spiritual yang sederhana namun penuh makna.
Meskipun sering kali dipandang negatif dan dianggap ketinggalan zaman, tradisi ini sebenarnya mencerminkan kedalaman filsafat dan kebijaksanaan leluhur.
Dalam praktik sehari-hari, banyak umat Hindu Bali yang tanpa sadar tetap menjalankan tradisi ini, meskipun mungkin mereka mengkritiknya secara terbuka.
Kritik Terhadap 'Mula Keto' dan Pengaruhnya Terhadap Tradisi Leluhur
Sering kali, kritik terhadap 'Mula Keto' membuat orang tergoyahkan dan berpaling dari tradisi ini, beralih ke pendekatan yang lebih modern atau bahkan menolak tradisi leluhur sepenuhnya.
Darmayasa mengingatkan bahwa menuduh 'Mula Keto' sebagai sesuatu yang berbahaya tanpa pertimbangan matang adalah tindakan yang tidak bijak.
Tradisi ini, meskipun tampak sederhana, memiliki landasan kuat dalam susastra Weda dan mengandung nilai-nilai spiritual yang mendalam.
'Mula Keto' dan Relevansinya di Era Modern
Meskipun ada tradisi-tradisi baru yang muncul dan dianggap tidak sesuai dengan ajaran Weda, 'Mula Keto' tetap relevan dan dihormati sebagai bagian integral dari warisan budaya Bali.
Tradisi ini didasarkan pada bhakti yang tulus, yang oleh leluhur kita dipilih sebagai jalan pintas spiritual melalui Bhakti Marga, atau jalan bhakti.
Darmayasa menekankan pentingnya memahami tradisi leluhur dengan matang sebelum menilai atau mengkritiknya.
Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan menghargai warisan spiritual yang telah diturunkan kepada kita, dan 'Mula Keto' adalah salah satu tradisi yang layak dipertahankan.
Melalui tradisi 'Mula Keto', umat Hindu Bali diajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.
Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebuah praktik spiritual yang mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan dan ketulusan. ***
Editor : I Putu Suyatra