Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

4 Tempat Suci Hindu di Bali yang Diyakini sebagai Tempat Mohon Keturunan tapi Jarang Diketahui

I Putu Suyatra • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 01:13 WIB
Pura Jati di Jembrana Bali.
Pura Jati di Jembrana Bali.

BALIEXPRESS.ID – Bagi umat Hindu di Bali, memperoleh keturunan adalah harapan yang diidam-idamkan setelah menikah.

Tapi, terkadang tidak semua pasangan di Bali memperoleh keturunan. Makanya, banyak yang menempuh jalur niskala dengan mendatangi tempat-tempat suci Hindu Bali yang diyakini bisa memenuhi keinginannya.

Berikut empat tempat suci umat Hindu di Bali yang diyakini bisa membantu memberikan keturunan bagi setiap pasangan yang memohon dengan tulus ikhlas:

Pura Luhuran Bingin yang terletak di Jalan Letda Made Putra, Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali
Pura Luhuran Bingin yang terletak di Jalan Letda Made Putra, Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali

1.  Pura Luhuran Bingin: Tempat Suci di Denpasar yang Diyakini Sebagai Pusat Keturunan, Taksu, dan Pengobatan

Pura Luhuran Bingin yang terletak di Jalan Letda Made Putra, Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali, adalah salah satu pura yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Tempat suci Hindu Bali ini tidak hanya dikenal sebagai tempat bersembahyang, tetapi juga sebagai tempat untuk memohon keturunan, taksu bagi seniman, dan penyembuhan berbagai penyakit.

Meski tampak kecil dari luar, pura ini menyimpan suasana tenang yang berbeda ketika memasuki areal dalamnya, memberikan kesan jauh dari keramaian kota.

Berdasarkan cerita leluhur yang diwariskan, Pura Luhuran Bingin telah berdiri sejak 1400 SM, di mana dulunya terdapat tiga pohon beringin besar yang menaungi kawasan pura, memberikan kesejukan bagi warga sekitar.

Menurut I Wayan Gede Jati Wiradharma, salah satu prajuru pura, Pura Luhuran Bingin berperan sebagai pelindung bagi tiga banjar di Dangin Puri, yaitu Banjar Kayu Mas Kaja, Kayu Mas Kelod, dan Banjar Abasan.

Masyarakat ketiga banjar ini sering memohon doa di pura ini saat menghadapi berbagai masalah, baik secara sekala maupun niskala.

Pura ini juga sering dikunjungi oleh warga dari luar Denpasar, terutama oleh seniman yang memohon taksu sebelum tampil dalam pementasan atau perlombaan.

Banyak dari mereka yang telah merasakan manfaat dari berdoa di pura ini, seperti keberhasilan dalam kompetisi.

Selain itu, Pura Luhuran Bingin juga menjadi tempat yang dipercaya untuk memohon keturunan dan kesembuhan.

Bagi mereka yang tulus berdoa, diyakini akan mendapatkan keturunan atau kesembuhan dari penyakit.

Tirta dari pura ini sering digunakan untuk panglukatan sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Namun, pura ini juga dikenal memiliki aura angker. Hanya orang dengan niat baik yang diperbolehkan masuk.

Bahkan, ada cerita tentang seseorang yang mengalami gangguan saat mencoba memasuki pura dengan niat buruk.

Pura Luhuran Bingin juga memiliki sejarah sebagai tempat mohon doa dalam perang melawan Kerajaan Mengwi pada zaman dahulu.

Pada saat itu, masyarakat dari tiga banjar yang terdiri dari 35 kepala keluarga mendapatkan anugerah berupa keris besar yang menjadi simbol perlindungan tanpa adanya korban jiwa.

Pura ini tidak memiliki tapakan barong, namun masyarakat setempat meyakini bahwa Sasuhunan Agung Pura Luhuran Bingin adalah yang berstana di sini.

Pura ini memiliki pengamong pokok sebanyak 35 krama dan ratusan pengempon dari berbagai daerah di Bali.

Dengan segala keunikan dan kekuatan spiritualnya, Pura Luhuran Bingin menjadi salah satu tempat suci yang sangat dihormati di Denpasar dan sekitarnya.

Pura Keraban Langit di Desa Sading, Badung
Pura Keraban Langit di Desa Sading, Badung

2.  Pura Keraban Langit di Desa Sading, Tempat Wisata Rohani Unik Tanpa Genta

Pura identik dengan bunyian genta, asap dupa harum, dan percikan tirta yang membasahi ubun-ubun pemedek setelah sembahyang.

Namun, ada yang berbeda dengan Pura Keraban Langit di Desa Sading, Badung. Di pura ini, penggunaan genta dalam pelaksanaan yadnya tidak diperkenankan.

Hal ini diungkapkan oleh tokoh adat Desa Sading, I Ketut Witera, saat ditemui di rumahnya, Banjar Karang Suwung, Sading, Badung, Selasa (3/10/2017).

Pura Keraban Langit terletak di sebuah goa yang memiliki lubang di bagian atas, sehingga sinar matahari dapat masuk.

Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama setelah salah satu pemedek mengunggahnya di media sosial, menarik minat para penggemar wisata rohani untuk berkunjung.

Menurut cerita pemedek, doa yang dipanjatkan di Pura Keraban Langit diyakini dapat terkabul dengan rasa dan pikiran yang tulus.

Namun, hingga kini belum ada sumber pasti mengenai asal-usul pura ini. Dalam prasasti Sading Isaka 923, pada masa pemerintahan Sri Udayana, Pura Keraban Langit sudah ada.

Berdasarkan mitologi Bali, pura ini terkait dengan permohonan keturunan oleh Dalem Sri Masula dan Sri Masuli ke hadapan Bhatara di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung).

Witera menjelaskan bahwa sejak berdirinya Kerajaan Mengwirajya pada tahun 1634, Pura Keraban Langit berada di bawah pengawasan Puri Sading.

Lokasinya yang berada di pinggir jurang dengan aliran sungai di depannya, menjadikan pura ini sebagai tempat yang sakral dan menarik. Di dalam goa, terdapat sumber air yang sangat jernih yang dikenal sebagai Tirta Selaka, menjadikan pura ini sebagai tempat yang disakralkan oleh masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaan upacara di Pura Keraban Langit, hanya pemangku Pura Khayangan Tiga yang bertugas, karena pemangku aslinya masih hidup dan belum boleh dilakukan pawintenan untuk mengangkat pemangku baru.

Di dalam goa terdapat padma sebagai palinggih Ratu Gede, Ratu Made, dan Ratu Ayu, serta patung penjaga di depan padma. Di luar tembok pura, terdapat palinggih batu bolong yang digunakan untuk upacara adat dan keagamaan.

Witera juga menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan piodalan, yang bertepatan pada Buda Wage Ukir, penggunaan genta tidak diperkenankan sebagai bentuk penghormatan kepada yang bersthana di pura tersebut.

Selain itu, bagi yang cuntaka juga dilarang nangkil ke pura ini.

Pura Keraban Langit juga dikenal sebagai tempat yang sakral dan banyak pemedek yang kembali untuk naur sesangi, berupa dana punia atau perbaikan bangunan pura, setelah doa mereka terkabul.

Salah satu pemedek, Ni Made Novita Yanti, mengaku takjub dengan keindahan dan keagungan Tuhan yang tersembunyi di dalam goa ini.

Dengan segala keunikan dan kesakralan yang dimiliki, Pura Keraban Langit menjadi destinasi wisata rohani yang penuh makna, memberikan pengalaman spiritual yang berbeda bagi para pengunjung.

Pura Dalem Pande Temesi, yang terletak di Banjar Temesi, Desa Temesi, Gianyar
Pura Dalem Pande Temesi, yang terletak di Banjar Temesi, Desa Temesi, Gianyar

3.  Pura Dalem Pande Temesi Gianyar: Tempat Sakral untuk Memohon Kesembuhan dan Keturunan

Pura Dalem Pande Temesi, yang terletak di Banjar Temesi, Desa Temesi, Gianyar, dikenal sebagai tempat suci bagi mereka yang mencari kesembuhan dari penyakit non-medis dan masalah keturunan.

Meskipun memiliki potensi spiritual yang besar, keberadaan pura ini masih belum banyak diketahui, karena hanya diempon oleh 11 kepala keluarga dari trah Pande di desa tersebut.

Lokasi Pura Dalem Pande Temesi cukup strategis, hanya sekitar 1,5 kilometer dari pusat Kota Gianyar.

Dari Lapangan Astina Gianyar, pemedek dapat menyusuri jalan ke arah timur hingga mencapai lampu lalu lintas di pertigaan Temesi, kemudian belok kanan menuju arah selatan.

Pura ini terletak di tengah persawahan, dikelilingi oleh pohon pule besar dan pohon bambu kuning, serta dipagari tembok bata merah.

Jero Mangku Made Suwisna, pemangku pura, menjelaskan bahwa Pura Dalem Pande Temesi awalnya hanya berupa gundukan tanah yang kemudian dibangun menjadi pura oleh leluhurnya.

Selama bertahun-tahun, pura ini mengalami beberapa kali renovasi dan kini terdiri atas tiga mandala.

Selain warga Pande dari Desa Temesi, banyak panyungsung dari luar desa, bahkan luar Kabupaten Gianyar, yang juga bersembahyang di sini.

Pura ini memiliki khasiat spiritual yang diyakini oleh para pangempon dan panyungsung.

Di mandala utama pura terdapat Palinggih Perapen, yang sering digunakan untuk malukat atau pembersihan diri dari kekotoran lahir batin.

Banyak pemedek yang datang untuk memohon kesembuhan, dan beberapa di antaranya mengaku sembuh dari penyakit setelah melakukan malukat di pura ini.

Selain itu, pohon pule di jeroan pura juga dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Kulit pohon ini dikikir dan ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit, terutama untuk penyakit yang tidak dapat dijelaskan secara medis.

Banyak pemedek yang datang kembali ke pura untuk naur sesangi (membayar kaul) setelah mendapatkan kesembuhan atau diberkati dengan keturunan.

Untuk mereka yang ingin nangkil (bersembahyang) di Pura Dalem Pande Temesi, cukup menyiapkan pajati atau canang sebagai persembahan. Prosesinya dimulai dengan malukat di depan Palinggih Perapen, kemudian dilanjutkan dengan sembahyang.

Meskipun berasal dari trah Pande, masyarakat umum juga diperbolehkan untuk bersembahyang di sini, karena semua tergantung pada niat, kepercayaan, dan keyakinan.

Namun, Jero Mangku Suwisna mengingatkan pemedek untuk berhati-hati saat melintas di areal persawahan menuju pura, karena terkadang ada ular di sekitar area tersebut.

Meskipun jinak, pemedek disarankan untuk berdoa sebelum melintas demi keselamatan.

Pura Jati di Jembrana Bali.
Pura Jati di Jembrana Bali.

4.  Pohon Jati di Pura Dang Khayangan Jati Jembrana, Sumber Tirta Sakral Berkhasiat

Keunikan pohon jati di Pura Dang Khayangan Jati Jembrana, yang terletak di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana, menjadi daya tarik spiritual bagi para pemedek.

Pohon ini tidak hanya dikenal sebagai sumber tirta untuk sembahyang, tetapi air yang keluar dari pohon jati ini juga diyakini memiliki khasiat sebagai obat atau tamba.

Menurut Jro Mangku Pura Jati I Ketut Sadia, air yang keluar dari pohon jati ini disebut Tirta Amertha Manik Jati.

Banyak pemedek yang mempercayai bahwa tirta ini memiliki kekuatan khusus, salah satunya adalah membantu pasangan untuk memperoleh keturunan.

Kisah ini diperkuat oleh pengalaman beberapa pemedek yang berhasil mendapatkan keturunan setelah melakukan ritual persembahyangan di Pura Jati.

“Pernah ada pasangan suami istri yang bersembahyang di sini memohon keturunan. Setelah beberapa waktu, mereka kembali bersama anaknya untuk mengucapkan rasa syukur karena doanya terkabul,” ungkap Mangku Sadia.

Pura Dang Khayangan Jati Jembrana, atau yang sering disebut Pura Jati, dengan pohon jati yang penuh keajaiban ini, telah menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat sekitar dan para pemedek yang datang dari berbagai daerah untuk mencari berkah dan kesembuhan. ***

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#pura keraban langit #Pura Jati #bali #Pura Luhuran Bingin #keturunan #tempat suci #Pura Dalem Pande Temesi #hindu #tamba