Upacara yadnya tingkatan madya maupun utama sering menggunakan sarana berupa Sarad. Adonan yang dibuat dari tepung dan dibentuk sedemikian rupa ini melambangkan Tri Loka, yakni alam bhur, bwah dan swah dengan berbagai simbol dan maknanya.
Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, menjelaskan, kebesaran yadnya itu jika dilihat dari jenis dan tingkatan material diwakili oleh tampilan dari Sarad itu sendiri.
Sarad terbuat dari bahan adonan beras, menyerupai kerupuk beras yang dibentuk, diwarnai, digoreng dan disusun sesuai urutan, fungsi dan perannya dalam merepresentasikan simbol.
Secara struktur, Sarad melambangkan tri loka atau tiga alam. Yakni alam Bhur loka (alam bawah), Bwah loka (alam tengah) dan Swah loka (alam atas).
Pada alam bhur terlihat sejumlah ornament berupa Bedawang Nala dan Naga. Bedawang Nala, melambangkan dasar bumi, yaitu api magma.
Naga-naga melambangkan unsur dasar dari bumi. Naga Anantaboga melambangkan unsur kulit bumi dan Naga Basuki unsur air dan lautan dan naga Taksaka, yang melambangkan unsur dari udara.
“ketiga naga tersebut adalah hasil pertemuan ketiga dewa Trimurti Brahma, Wisnu dan Siwa dengan masing masing mewakili tanah, air dan udara,” ujarnya.
Kemudian pada bagian tengah (Bwah Loka), terlihat segala sesuatu dunia yang hidup. Yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia.
Pada kebanyakan Sarad yang dibuat, hanya terdapat figur Bhoma dan Garuda sebagai wakil dunia antara, tetapi ada juga sarad yang mengandung figur-figur manusia. Kerap juga terdapat dekorasi karang-karang yang melambangkan mahkluk alam karang asti (gajah), karang wurung, karang bentulu, karang sae.
Bhoma melambangkan unsur utama dunia hunian manusia, yaitu flora.
“Bhoma dikaitkan dengan mitos ketika Wisnu mencari ujung bawah lingga, dia terus ke pertiwi/Bumi, maka lahirnya Bhoma sebagai hasil pertemuan air (Wisnu) dan Bumi,” ungkapnya.
Garuda melambangkan makhluk yang terbang. Bahkan, dalam Adiparwa dikisahkan jika Garuda, di dalam upayanya untuk mencari air suci amerta, harus menaklukan dan membunuh aneka makhluk yang mengerikan terutama ular, gajah dan kura-kura, sebelum mencapai tujuannya dan mendapatkan amerta.
“Garuda kemudian diminta oleh Wisnu untuk menjadi kendaraannya. Cerita itu melambangkan bahwa kehidupan abadi hanya dapat dicapai bila kita mampu mengalahkan nafsu duniawi,” imbuhnya.
Pada bagian atas terdapat pengawak dan kekayonan bagian ini berisikan patung Dewata Nawa Sangga, para dewa penguasa sembilan arah mata angin dan diatasnya berisikan patung acitya serta aksara ongkara.
Kadang-kadang terdapat figur-figur yang melambangkan Trimurti yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, atau figur tunggal yang melambangkan Indra (raja para dewa) atau Sang Hyang Tunggal alias Sang Hyang Widhi.
“Secara umum konsep struktur Sarad yang digunakan dalam upacara Panca Wali Krama menyimbulkan isi tingkatan tiga alam (Tri Loka) bhur loka, bhuah loka, swah loka. Sarad di persembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa bertujuan untuk menghujudkan kembali isi alam semesta menjadi satu komponen yang utuh, sehingga terjadi keseimbangan di alam semesta ini,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika