Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pecalang di Desa Babahan: Tempat Suci Hindu Bali yang Memiliki Fungsi Unik  dan Jarang Diketahui

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 21 Agustus 2024 | 00:49 WIB
Pura Pecalang yang dipercaya sebagai tempat memohon kewibawaan bagi para pecalang di Bali.
Pura Pecalang yang dipercaya sebagai tempat memohon kewibawaan bagi para pecalang di Bali.

BALIEXPRESS.ID - Selain sebagai tempat pemujaan umat Hindu, Pura di Bali juga memiliki fungsi sebagai tempat memohon berkah tertentu, seperti memohon kebijaksanaan, memohon keturunan, memohon dilapangkan jodoh dan lain sebagainya. 

Salah satu pura di Kabupaten Tabanan Bali, yang memiliki fungsi cukup unik adalah Pura Pecalang.

Tempat suci Hindu Bali yang masih menjadi satu bagian dalam Pura Luhur Pekiyisan, Beji Agung Sad Kahyangan Jagad Bali, Luhur Batukaru yang terletak di Desa Babahan, Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan ini kerap didatangi pecalang dari berbagai penjuru Pulau Bali untuk memohon kewibawaan atau taksu sebagai pecalang.

Bendesa Adat Desa Babahan, Made Sukawana, menyebutkan sejarah dari Pura Pecalang ini, sangat erat kaitannya dengan Pura Luhur Batukaru.

"Karena Pura Pecalang berada di lokasi yang sama dengan Pura Luhur Pekiyisan, tempat Ida Betara di Pura Luhur Batukaru melakukan pemelastian," jelasnya.

Meski menjadi bagian dari Pura Luhur Pekiyisan, namun fungsi dari Pura Pecalang ini, dikatakannya lebih dikenal sebagai pura bagi para pecalang dari seluruh Bali untuk memohon taksi (kewibawaan) pecalang.

Jika dilihat dari penelusuran sejarahnya, diakui Sukawana, keberadaan Pura ini sudah cukup lama, bahkan termasuk salah satu pura kuno.

Karena dari bebatuan yang digunakan sebagai tempat pemujaan, batu-batu besar di pura ini berasal dari jaman megalitikum, sedangkan dari catatan yang ada, keberadaan pura ini diperkirakan sudah ada sejak abad keempat.

Selain didatangi oleh para Pecalang untuk memohon kewibawaan, Pura ini juga sering didatangi masyarakat sebagai tempat memohon "Taksu Geginan" bagi sekaha pementasan tradisional di Bali, seperti sekaha arja, sekaha drama dan sekaha lainnya. 

"Karena namanya adalah Pura Ratu Pecalang, maka yang sering datang adalah mereka yang ingin memohon berkat kewibawaan. Tidak hanya pecalang, tetapi juga para sekaha drama, sekaha arja dan lain sebagainya, mereka sering memohon Taksu Geginan di pura ini," lanjutnya. 

Untuk sarana persembahyangan yang dibawa dalam ritual ini, Sukawana menyebutkan tidak ada sarana khusus, biasanya pemedek yang datang ke pura ini membawa sarana persembahyangan berupa pejati dan canang. 

Selain itu, dikatakannya pura ini juga tidak memiliki pantangan apapun, sehingga selain pejati pemedek juga bisa membawa sarana persembahyangan lainnya, seperti sodaan ataupun canang rarapan. 

"Di sini tidak ada pantangan apapun, siapapun boleh datang kemari untuk bersembahyang, untuk pejabat yang datang cukup banyak, mulai dari tingkat kabupaten sampai pejabat pusat juga pernah datang kemari, bahkan ada yang rutin datang dan menghaturkan Punia," urainya. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Pecalang #hindu #taksu #tabanan