BALIEXPRESS.ID - Petani di Bali punya cara unik untuk mendapatkan panen berlimpah, salah satunya melalui ritual sakral yang telah menjadi tradisi turun-temurun: Biyu Kukung.
Menariknya, ritual ini tetap dijalankan meskipun hasil panen tidak selalu sesuai harapan.
Ketut Kaper, seorang petani dari Subak Mas, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, menceritakan bagaimana dirinya tetap setia melaksanakan upacara Biyu Kukung setiap kali padi mulai berbuah.
“Panen atau tidak, ritual ini tetap harus dijalankan. Harapannya, padi bisa tumbuh subur dan terhindar dari hama,” ungkapnya.
Ritual ini tak hanya sekadar tradisi. Ada serangkaian upacara lain yang mengiringi proses penanaman padi, mulai dari mendak toya, tedun ke carik, hingga ngebulanin, semuanya demi memastikan padi tumbuh dengan baik.
Meski pernah mengalami kegagalan panen, Ketut Kaper tetap teguh melaksanakan ritual ini.
“Walaupun padi tidak tumbuh sempurna, dengan daun yang berwarna merah kecokelatan dan pendek-pendek, saya tetap menjalankan Biyu Kukung. Harapannya, panen berikutnya bisa lebih baik,” tambahnya.
Di sisi lain, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, menjelaskan makna mendalam dari upacara Biyu Kukung ini.
Ritual yang penuh cinta ini bertujuan untuk memohon berkah dari Bhatari Dewi Sri agar padi tumbuh padat dan subur.
"Jika ritual ini diabaikan, hasil panen bisa terganggu oleh hama atau virus," jelasnya.
Ritual ini juga diiringi tradisi magoak-goakan, di mana anak-anak biasanya berburu jajan dari upacara Biyu Kukung.
Semua ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan permohonan kepada Tuhan agar hasil panen melimpah dan membawa manfaat berkelanjutan.
Dengan ritual yang penuh makna ini, petani Bali tak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memastikan harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga, demi keberkahan panen yang melimpah. ***