Kata Rsi Bojana itu dijelaskan jika arti kata ‘Rsi’ artinya ‘orang suci’ dalam hal ini pemuput yadnya/karya; dan ‘bhojana’ artinya ‘rayunan (makanan).
Prof. Dr. Ida Bagus Putu Suamba, M.A. Ph.D selaku Akademisi Poltek Negeri Bali menjelaskan Resi Bhojana adalah upacara mempersembahkan makanan (rayunan) suci kepada pemuput yadnya sebagai bentuk rasa terima kasih dan angayu bagia atas karya sudah berjalan dengan baik dan sukses.
“Beliau pemuput karya terlah ikut mendoakan karya. Tanpa peran serta pemuput karya, karya tidak akan bisa terlaksana. Rsi Bhojana termasuk Rsi Yadnya,” katanya.
Ini menandakan suatu karya yadnya, misalnya Ngenteg Linggih, tidak hanya Dewa Yadnya saja dilakukan, namun juga yang lain: Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Resi Yadnya, Namun, yang pokok Dewa Yadnya. Jadi, ada yadnya-yadnya yang terintegrasi di sini.
Ia menjelaskan, terintegrasi yang dimaksud adalah antara wewantenan dan puja mantra, karma kanda dengan jnana kanda.
Menurutnya, Rsi Bhojana hanya dipersembahkan kepada para Rsi saja. Sedangkan, kepada Pemangku tidak dipersembahkan Rsi Bhojana. Namun, para pemangku itu hanya sebagai ngiringang para pemuput karya.
“Yang ditekankan dalam acara Rsi Bhojana adalah persembahan kepada beliau yang meraga rsi sebagai orang suci. Di dalam tradisi Bali/Lombok seseorang sudah didiksa. Dalam prakteknya disesuaikan dengan tradisi yang berlaku di suatu pura/tempat. Ada tatalinggih atau tegak linggih berlaku,” katanya.
Lalu, kapan Rsi Bhojana dilaksanakan. Dikatakan Prof Suamba, Rsi Bhojana dilaksanakana dalam rangkaian (eedan) karya tergolong uttama seperti misalnya Ngenteg Linggih di suatu pura, atau karya Atma Wedana tergolong Uttama, misalnya Baligia/Ligia.
Pelaksanaannya biasanya menjelang berakhirnya karya atau setelah karya puncak atau setelah Ida Bhatara ngeluwur. Salah satu ciri karya uttama adalah membangun sanggar tawang sebagai sanggar upasaksi.
Lalu siapa yang menghaturkan Rsi Bhojana? Ia yang melaksanakan yadnya/karya, sang adruwe karya. Ia yang nuwur wiku/wiku-wiku pemuput karya patut menghaturkan Rsi Bhojana. Apa saja yang dihaturkan? Utamanya makanan (rayunan) suci.
Rayunan suci adalah rayunan satwika menurut ketentuan di dalam teks-teks Sasana, misalnya Wrati Sasana.
Makanan suci antara lain ulam bebek, angsa, dan sebagainya. Secara teknis, makanan (rayunan) itu ada nasi yang ditaruh di tengah-tengah, lauk-pauk, sayur, dan berisi canang sari; ada air untuk mencuci tangan; ditata sedemikian rupa, kemudian disuguhkan menggunakan dulang.
Disamping itu, dipersembahkan keperluan-keperluan seorang wiku di dalam malaksanakan swadharma-nya, misalnya payung, lungka-lungka, lampu senter, perangkatan, dan sebagainya.
Ada banten berupa rayunan disebut Rsi Bhojana dihaturkan/ditempatkan di pelinggih-pelinggih. Banten ini dihaturkan terlebih dulu, baru Rsi Bhojana para pemuput/wiku pemuput mulai melaksanakan Rsi Bhojana.
Tempatnya di uttama mandala. Adakah dasar pelaksanaan Rsi Bhojana ? Ada. Di dalam Tutur Kala Tattwa ada ungkapan yang menjadi dasarnya.
“...kunang rsi yadnya abhojana ring watek sang maha rsi saha dulur wastra, kampuh, mas, perak, ratna, yogya agung alit ikang punia ya rsi yadnya, sekadi nulur ri budinira mahening tan ana tresnan i dreweya, dening resi yadnya ilanging papa patakaning ira sang ayadnya tekeng papa gati sasaraning kawitaniya, mangkana pwa ya, apan wus kapari sudha dening watek rsi gana kabeh...”.
Artinya: bahwa rsi yadnya adalah tindakan mempersembhakna makanan (abhojana) kepada maha resi diiringi kain (wastra), kampuh, perak, ratna, sesuai dengan besar kecil punia (persembahan), ya ini disebut rsi yadnya.
Ini dilakukan untuk menyucikan pikiran tidak terikat lagi oleh kepemilikannya, karena rsi yadnya bisa menghilangkan dosa-dosa orang yang melaksanakan yadnya beserta ke-papa-an leluhurnya, demikian lah keadaannya setelah disucikan oleh watek rsi gana (dewata di angkasa).
Dikatakan Prof Suamba, makna Rsi Bhojana tidak lain sebagai rasa berterima kasih kepada Ida Sang Hyang Weda karena beliau memberikan ilmu pengetahuan kepada kita/dunia, memberikan pencerahan. Weda/sastra dipakai landasan/petunjuk pelaksanaan karya. Di dalam Tri Kerangka ini disebut tattwa.
Di dalam muput karya, para wiku nguncarang Weda/Puja Pangastawa. Pengetahuan itu dimiliki oleh resi/orang suci, penerima wahyu. Dengan demikian resi adalah Weda Paraga/Sastra Paraga. “Yang memperagakan Weda itu adalah resi; dan di sini adalah orang suci, yaitu pemuput atau wiku yajamana,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika