BALIEXPRESS.ID - Di balik keteduhan Hutan Pala Sangeh, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, tersimpan sebuah kisah yang memikat hati dan pikiran.
Hutan ini tidak sekadar rimbunan pohon yang meneduhkan, tetapi juga saksi bisu dari perjalanan spiritual yang menghubungkan manusia dengan kekuatan gaib.
Di tengah hutan yang penuh misteri ini, berdirilah Pura Pucak Bukit Sari, sebuah tempat suci Hindu Bali yang keberadaannya tak terpisahkan dari pohon-pohon pala yang menjulang tinggi.
Keajaiban Pohon Pala yang Menghentak Sejarah
Keunikan Hutan Pala Sangeh tidak hanya terletak pada jenis pohon yang tumbuh subur di sana, tetapi juga pada kisah-kisah di baliknya.
Pohon-pohon pala di hutan ini diyakini berasal dari Gunung Agung, Karangasem, dan konon pernah melakukan perjalanan menuju Taman Ayun, Mengwi, Badung.
Namun, perjalanan tersebut terhenti karena ada seseorang yang melihatnya, sehingga pohon-pohon itu berhenti dan menetap di Sangeh.
Nama "Sangeh" sendiri berasal dari kata 'Sang' yang berarti 'orang' dan 'Ngeh' yang artinya 'melihat', merujuk pada peristiwa ini.
Pura Pucak Bukit Sari: Simbol Kesucian dan Kesaktian
Pura Pucak Bukit Sari yang berdiri di tengah hutan ini dibangun oleh Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti, anak angkat Raja Mengwi, Tjokorda Sakti Blambangan.
"Pura ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga merupakan simbol kesucian dan penghormatan keturunan Raja Mengwi kepada Ida Bhatara di Gunung Agung," ungkap Ida Bagus Nyoman Purna, Pamangku Pura Pucak Bukit Sari.
Keberadaan pura ini juga diperkuat oleh Lontar Babad Mengwi yang mengisahkan perpindahan hutan pala dari Gunung Agung ke Sangeh, tempat putri Ida Batara Gunung Agung ingin disungsung di Kerajaan Mengwi.
Ritual Suci di Tengah Hutan Pala
Pura Pucak Bukit Sari memiliki tidak kurang dari 36 bangunan suci, termasuk Palinggih utama berupa Meru Tumpang Sembilan dan Palinggih Padmasana sebagai pemujaan Batara Sada Siwa.
Selain itu, terdapat empat Padmasari lagi yang masing-masing sebagai pemujaan Pucak Batur, Ratu Entap, Ratu Manik Galih, dan Batara Wisnu.
Di antara bangunan-bangunan suci ini, Palinggih Bale Paselang menjadi pusat ritual Pedanaan yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan dan anugerah-Nya.
Keajaiban Lain di Hutan Sangeh
Selain pohon-pohon pala, Hutan Sangeh juga terkenal dengan Pohon Lanang Wadon yang memiliki bentuk unik, menyerupai alat kelamin pria dan wanita.
Pohon ini tumbuh di pelataran depan tempat wisata Sangeh, menambah daya tarik mistis kawasan ini.
Hutan Pala Sangeh yang luasnya mencapai 14 hektare ini juga dihuni oleh ratusan kera jinak yang hidup harmonis dengan alam sekitarnya.
Pesona Sangeh yang Tak Terlupakan
Wisatawan yang berkunjung ke Sangeh akan disambut oleh ratusan ekor kera abu-abu yang ramah.
Kera-kera ini, meskipun terlihat liar, sebenarnya telah divaksin dan diawasi dengan ketat oleh Balai Penelitian Primata yang dibangun dekat lokasi.
Selain itu, pemandu wisata berpakaian adat Bali siap mengantarkan pengunjung berkeliling hutan, memanggil-manggil kera agar menampakkan diri, dan menceritakan kisah-kisah penuh misteri yang tersembunyi di balik hutan Pala Sangeh.
Dengan segala keajaiban dan sejarah yang menyertainya, Hutan Pala Sangeh bukan sekadar destinasi wisata alam biasa, tetapi juga tempat di mana sejarah, mitos, dan kepercayaan lokal menyatu, menciptakan sebuah pengalaman spiritual yang tak terlupakan. ***
Editor : I Putu Suyatra