Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Air dalam Hindu, Tirta Diartikan sebagai Guru, Sering Disebut Kamandalu

I Putu Mardika • Selasa, 3 September 2024 | 04:10 WIB

 

Ida Sulinggih menggunakan tirta sebagai sarana dalam muput ritual
Ida Sulinggih menggunakan tirta sebagai sarana dalam muput ritual
BALIEXPRESS-Umat Hindu dalam melaksanakan ritual atau upacara tidak pernah terlepas dari penggunaan sarana air. Bahkan, dalam berbagai Pustaka suci Hindu, air juga banyak disebut dengan berbagai makna.

Ada banyak istilah untuk menyebut air menurut bahasa Sanskerta, Jawa Kuna, Bali Kuna, dan tentu saja bahasa Bali yang sekarang. Di antaranya: apah, apas, jala, apsu, toja, toya, ambu, tirtha, banyu, er, air, her, amerta, dan sebagainya.

Akademisi UNHI Denpasar, Gede Agus Darma Putra, M.Pd menjelaskan, menjelaskan kata-kata yang bermakna air itu kemudian digunakan dalam berbagai ragam upacara, aktivitas sosial, maupun kehidupan sehari-hari.

Selain kata-kata yang secara langsung merujuk pada arti air, ada juga kata-kata yang menjelaskan mengenai penggunaan air dengan cara yang berbeda-beda.

Kata yang paling sering digunakan berkaitan dengan upacara agama Hindu di Bali adalah kata tirtha. Tirtha berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti jalan, tempat pemandian, tempat suci, pembimbing, guru.

Baca Juga: Menguak Sejarah Hindu Bali di Pancoran Batan Nyuh: Sumber Air Sakral dan Tempat Melukat di Desa Kapal

“Tirtha juga berarti tempat mandi yang suci, sungai suci, kolam suci. Selain itu, tirtha juga berarti air suci, air (secara umum). Oleh karena itu, ternyata tirtha memiliki banyak pengertian. Di dalam konteks Bali, frase nunas tirtha berarti memohon air suci,” katanya.

Air suci tersebut dapat berupa air yang memang sudah suci karena muncul dari tempat-tempat yang diyakini suci, maupun air biasa yang masih baru (toya anyar) yang dirapalkan mantra-mantra penyucian.

Mengenai tirtha yang berasal dari cara yang kedua, mesti ditanyakan kepada orang-orang yang paham, khususnya para sadhaka.

“Kata tirtha sering pula dipasangkan dengan kata amerta, sanjiwani, kamandalu, pangentas, panglukatan, pabersihan, empul, mangening, wayang, dan seterusnya,” sebutnya.

Air tempat melukat bagi yang hendak membersihkan diri secara sekala dan niskala
Air tempat melukat bagi yang hendak membersihkan diri secara sekala dan niskala

Amerta berarti tidak mati, sehingga tirtha amerta adalah air suci yang diyakini dapat memberikan keabadian.

Sanjiwani juga berarti hidup, eksis, membuat hidup, dan seterusnya. Sehingga tirtha sanjiwani berarti air suci yang menjadikan tetap hidup. Secara harfiah, kata ini memiliki pengertian yang sama dengan tirtha amerta.

Bahkan kadang-kadang kedua kata tersebut disatukan sehingga membentuk kata frase tirtha amerta sanjiwani.

Tirtha juga sering disatukan dengan kata kamandalu. Beberapa sumber lisan memaknai kata ini sebagai sesuatu yang memberi daya hidup dalam kegelapan karena dianggap berasal dari kata kama dan dalu. Kama berarti keinginan yang memberi daya hidup, sedangkan dalu berarti gelap atau malam.

Baca Juga: Rekomendasi Tempat Melukat di Bali: Pancoran Yeh Bengu, Misteri dan Khasiat dari Air Berbau Busuk di Banjar Sayan

Namun, setelah ditelusuri, kamandalu sendiri merupakan nama benda atau wadah yang memang digunakan sebagai tempat tirtha. Sehingga kata tirtha kamandalu berarti air suci yang ditempatkan di dalam wadah.

“Wadah air suci ini ada beberapa jenisnya, ada yang terbuat dari bambu, tanah, atau logam,” paparnya.

Misalkan yang terbuat dari logam emas, disebut kamandalu kancana. Ada juga yang terbuat dari tembaga, disebut kangsa bhajana. Kamandalu sendiri lebih sering disebut-sebut berwarna putih, sehingga disebut dengan nama swetakamandalu.

Selain nama benda, kamandalu juga digunakan sebagai analogi dari seorang sadhaka atau pendeta.

“Beliau disebut demikian, karena dianggap di dalam dirinya terdapat amerta. Dan amerta itulah yang seharusnya terus menerus dialirkan,” ungkapnya.

Lain lagi dengan tirtha pangentas, sebagaimana selalu digunakan di dalam upacara pitra yadnya. Pangentas berasal dari kata entas yang berarti lewat, bebas, lepas. Sehingga kata pangentas berarti alat yang berfungsi sebagai bantuan untuk lewat, pembebas, pelepas.

Biasanya di dalam konsep agama Hindu, selalu ada ikatan-ikatan yang harus dilepaskan. Semua ikatan itulah yang disebut sebagai wisaya.

Yakni segala hal yang telah dinikmati oleh perasaan atau pun batin, sehingga ia menyebabkan batin dan perasaan terikat. Hal-hal yang mengikat itu, dapat berupa papa, klesa, mala, bisa juga sukha-dukha, dan sebagainya.

“Tirtha pangentas tampaknya bertujuan untuk melepaskan segala macam ikatan itu. Entah ikatan atas segala duka, maupun ikatan atas segala suka,” tutupnya. (dik)

Keterangan foto

Air seringkali digunakan dalam upacara yadnya untuk Umat Hindu termasuk untuk melukat(ist)

Editor : I Putu Mardika
#bali #sanjiwani #air #hindu bali #hindu