Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terungkap Alasan hanya Gigi Bagian Atas yang Dipotong dalam Tradisi Hindu Bali Matatah: Ada Makna Khusus Ritual Membalikkan Kasur

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 4 September 2024 | 21:00 WIB
Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari
Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari

BALIEXPRESS.ID - Upacara Potong Gigi, yang juga dikenal sebagai Matatah atau Mapandes, adalah salah satu ritual sakral dalam tradisi Bali Bali yang menandai peralihan seorang individu dari masa remaja menuju kedewasaan.

Lebih dari sekadar tradisi, upacara Hindu Bali ini memiliki makna mendalam, yaitu menetralisir sifat-sifat keraksasaan dalam diri manusia sekaligus mengurangi pengaruh negatif dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia yang meliputi kesombongan, amarah, kerakusan, kebingungan, mabuk, dan iri hati.

Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, seorang tokoh spiritual Hindu Bali, menjelaskan bahwa upacara Potong Gigi didasarkan pada dua lontar suci, yaitu Lontar Kala Tattwa dan Lontar Sastra Kloklah.

Dalam lontar-lontar ini, dijelaskan bahwa seseorang yang telah menginjak usia dewasa seyogyanya melaksanakan upacara Potong Gigi.

Upacara ini bertujuan untuk menghilangkan sifat keraksasaan yang ada dalam diri manusia, yang dilambangkan dengan gigi taring dan gigi seri yang dipotong dalam ritual ini.

Menurut Ida Pedanda Gede Wayahan, manusia memiliki dua sifat yang dikenal sebagai Rwa Bhineda, yaitu sifat baik dan buruk.

Gigi yang berada di bagian atas dianggap melambangkan sifat negatif, sementara gigi di bagian bawah melambangkan sifat positif.

Oleh karena itu, dalam upacara Potong Gigi, hanya gigi di bagian atas yang dipotong, khususnya enam gigi, sebagai simbol pengurangan Sad Ripu yang ada dalam diri seseorang.

"Sad Ripu mencakup enam sifat negatif utama yang dapat menghalangi seseorang mencapai kedamaian batin dan kebijaksanaan sejati," ungkapnya.

Dengan melaksanakan upacara Potong Gigi, diharapkan seseorang dapat menghilangkan sifat-sifat negatif ini dan menjadi "amertrah putra," yaitu manusia yang abadi, yang telah melalui proses penyucian diri dari sifat kebinatangan menuju sifat kemanusiaan.

Hasil akhirnya adalah individu yang hidup dengan damai, penuh cinta kasih, dan selalu bersyukur.

Lebih lanjut, Ida Pedanda Gede Wayahan menekankan bahwa upacara Potong Gigi juga bertujuan untuk mengendalikan hawa nafsu berlebihan, termasuk kerakusan, kemarahan, kebingungan, mabuk, dan iri hati.

Semua sifat negatif ini harus dihilangkan agar seseorang dapat mencapai keseimbangan dalam kehidupan, sesuai dengan konsep Rwa Bhineda.

Menariknya, tidak melaksanakan upacara Potong Gigi tidak dianggap sebagai masalah besar.

Ida Pedanda menyatakan bahwa ritual ini lebih berkaitan dengan niat dan rasa tulus dalam diri seseorang, mirip dengan keputusan seseorang untuk menikah atau tidak menikah.Baca Juga: Menelusuri Keunikan Lelakut: Karya Seni Petani Bali yang Berfungsi Ganda sebagai Penolak Bala dan Penjaga Sawah

Namun, bagi mereka yang memilih untuk melaksanakan upacara ini, ada serangkaian prosesi yang harus diikuti dengan cermat.

Prosesi dimulai dengan upacara ngekeb, yang bertujuan untuk mematangkan jiwa dan mental seseorang.

Selama prosesi ngekeb, peserta tidak diperbolehkan keluar dari pekarangan rumah. Keesokan harinya, saat matahari terbit, dilakukan upacara ngendag, di mana aksara Bali disuratkan (ditulis) pada tubuh peserta, termasuk pada dahi, gigi, lidah, bahu, dan dada.

Penulisan aksara ini menggunakan cincin merah delima yang dikenal sebagai windu segara atau rubi.

Setelah prosesi nyurat selesai, peserta menuju tempat pemotongan gigi yang dilakukan oleh seorang sangging, yaitu orang yang memiliki keahlian khusus dalam memotong gigi.

Sebelum pemotongan dilakukan, peserta harus terlebih dahulu sembahyang kepada Sang Hyang Kama Jaya dan Kama Ratih, yang diyakini sebagai dewa yang mengendalikan nafsu manusia.

Setelah Potong Gigi selesai, dilanjutkan dengan prosesi majaya-jaya dan upacara membalikkan kasur tiga hari kemudian.

"Membalikkan kasur ini merupakan simbol mapralina, atau kembalinya sifat-sifat negatif ke asalnya, sehingga prosesi Potong Gigi dianggap selesai tanpa gangguan," jelasnya.

Di tempat terpisah, seorang sangging bernama Ida Bagus Gede Searsa Tana menjelaskan bahwa ada beberapa sarana yang digunakan dalam prosesi Potong Gigi, termasuk caket, mutik, kikir, bungkak, dadap, tebu, kunyit, base, loloh, dan kwangen.

Semua sarana ini memiliki fungsi khusus dalam prosesi, yang dimulai dengan peserta berbaring telentang, membuka mulut, dan diisi dengan tebu pada pangkal gigi.

Proses pemotongan dilakukan hingga gigi terlihat sejajar, dan sisa potongan gigi tersebut kemudian ditanam di belakang merajan atau dibuang ke laut sebagai simbol pralina.

Dengan proses yang begitu mendetail dan makna mendalam, upacara Potong Gigi tidak hanya menjadi penanda kedewasaan, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang mengarahkan individu menuju keseimbangan hidup dan kebijaksanaan sejati. ***

Editor : I Putu Suyatra
#sad ripu #bali #gigi #kwangen #LONTAR KALA TATTWA #Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari #hindu #tradisi #Lontar Sastra Kloklah #matatah #rwa bhineda