Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Sejarah Pura Yeh Ketipat di Desa Wanagiri, Berawal dari Cegukan Pengikutnya Panji Sakti

I Putu Mardika • Kamis, 5 September 2024 | 04:37 WIB

Areal utama mandala Pura Yeh Ketipat di Desa Wanagiri
Areal utama mandala Pura Yeh Ketipat di Desa Wanagiri
BALIEXPRESS.ID-Pura Yeh Ketipat, yang terletak di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan perjalanan Ki Barak Panji Sakti menuju Den Bukit (Buleleng) beberapa ratus tahun yang lalu.

Keberadaan pura ini berawal dari sebuah kejadian unik ketika Ki Barak Panji Sakti cegukan saat hendak menikmati ketupat yang disajikan oleh pengiringnya.

Lokasi Pura Yeh Ketipat sangat strategis, terletak di pinggir Jalan Singaraja-Bedugul, tepat di selatan pintu masuk jalur pintas titik 5-6.

Karena posisinya di tepi jalan, banyak pengendara yang melintas, baik dari arah Singaraja menuju Denpasar maupun sebaliknya, sering berhenti sejenak untuk sembahyang di pura ini, memohon keselamatan dalam perjalanan mereka.

Menurut Jero Mangku Ketut Lanus, salah satu pengempon pura berusia 63 tahun, tidak ada catatan tertulis yang pasti mengenai sejarah Pura Yeh Ketipat yang disungsung oleh Desa Adat Wanagiri dan Dusun Amerta Sari Desa Pegayaman. Sejarah pura ini disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.

Mangku Lanus menceritakan bahwa Pura Yeh Ketipat memiliki kaitan erat dengan perjalanan Ki Barak Panji Sakti bersama ibunya, Sri Luh Pasek, dari Istana Gelgel di Klungkung menuju Den Bukit, ditemani oleh kakeknya, Ki Manca Warna, dan beberapa pengikutnya sekitar tahun 1568.

Setelah dua hari menempuh hutan belantara dan cuaca dingin, mereka tiba di celah Bukit Mangu. Setelah melalui pendakian terjal di Watusaga, Ki Barak Panji Sakti meminta untuk beristirahat dan menikmati makan siang.

Sementara itu, sang kakek mendaki puncak bukit untuk melakukan semadi, memohon perlindungan dan keselamatan bagi rombongannya.

Setelah bersembahyang, karena kebetulan saat itu adalah Saniscara Kliwon Wuku Landep (Tumpek Landep), mereka menikmati ketupat yang dibawa.

Namun, beberapa pengikutnya mengalami cegukan karena persediaan air habis.

Melihat hal ini, Ki Barak Panji Sakti yang saat itu berusia 12 tahun, menancapkan keris pusaka ke tanah.

"Tiba-tiba, mata air muncul dari dalam tanah, dan para pengikutnya yang cegukan langsung meminum air tersebut hingga cegukan mereka hilang," katanya.

Selain keajaiban itu, Mangku Lanus menjelaskan bahwa dari lokasi pura yang tinggi, Ki Barak Panji Sakti dapat melihat wilayah Blambangan dari kejauhan, membuatnya terkesan dan menjadikan tempat tersebut sebagai titik pengamatan.

Sejak saat itu, mata air di Pura Yeh Ketipat sangat disucikan oleh masyarakat sekitar dan digunakan sebagai sarana penyucian dalam acara pujawali di pura tersebut.

Mata air ini masih ada hingga kini, terletak sekitar 20 meter di sebelah selatan pura, dengan kolam yang terawat dengan baik.

"Setiap kali pujawali yang bertepatan dengan Tumpek Landep berlangsung, pralingga di pura ini disucikan di mata air tersebut," paparnya.

Tidak hanya Pura Yeh Ketipat yang memanfaatkan mata air ini, tetapi juga beberapa pura di Buleleng menggunakan air tersebut sebagai tirta dalam upacara pujawali.

Mangku Lanus, yang telah ngayah di pura ini sejak 1990, menyebutkan bahwa mata air ini juga digunakan oleh masyarakat untuk memohon kesembuhan.

Secara konsep, Pura Yeh Ketipat terdiri dari tiga bagian nista, madya, dan utama mandala, dengan berbagai pelinggih di dalamnya seperti Padmasana, Gedong Sesuunan Pucak Luhur Yeh Ketipat, Meru Tumpang Pitu, dan lainnya.

"Selain sebagai tempat pemujaan, pura ini sering dijadikan titik awal napak tilas oleh pelajar, terutama saat peringatan HUT Kota Singaraja yang erat kaitannya dengan kisah perjuangan Ki Barak Panji Sakti," tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#wanagiri #yeh ketipat #sukasada #pura #panji sakti