BALIEXPRESS.ID – Keberadaan Banjar Medura, di Desa Pekraman Intaran, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali tak terlepas dari perjalanan seorang adipati asal Madura.
Dikutif dari Web Warisanbudaya kemendikbud.go.id yang mewawancarai I Wayan Kalut, Pemanku Gede Pura Dalem Kembar Medura, disebutkan, berdasarkan transkrip Lontar Purwa Wangsa Arya Madura dan Geguritan Babad Arya Medura disebutkan, setelah meninggalnya Adipati Medura yaitu Arya Wiraraja, pemerintahan dipegang oleh anaknya bernama Arya Kuda Pinolih.
Beliaulah menjadi Adipati Medura, dengan pusat kerajaan di Sumenep.
Pada masa pemerintahannya, Arya Kuda Pinolih melaksanakan upacara Pitra Yadnya yaitu upacara penebusan dosa arwah leluhurnya di masa lampau yang sebut dengan upacara Ngaro.
Arya Kuda Pinolih mengundang raja-raja yang ada di wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit seperti raja Cina, Raja Palembang, Raja Banten, Raja Pasuruan, Raja Bali dan Raja Makasar.
Raja Bali pada waktu itu adalah Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan hadir menyaksikan upacara tersebut.
Setelah upacara Ngaro selesai dilaksanakan, Raja Bali berbincang-bincang dengan Arya Kuda Pinolih soal keinginannya untuk melaksanakan upacara Bhiseka Atitiwa Arjuna.
Upacara Bhiseka Atitiwa Arjuna merupakan upacara yang dilaksanakan untuk menghormati dan mensucikan roh leluhur.
Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan bermaksud mengudang Adipati Medura (Arya Kuda Pinolih) untuk menghadiri upacara Bhiseka Atitiwa Arjuna tersebut di Bali.
Arya Kuda Pinolih dengan senang hati memenuhi permintaan Raja Bali.
Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan pun mengajak Arya Kuda Pinolih bersama-sama ke Bali dengan menaiki perahu.
Perjalanan Dalem Bali dengan Arya Kuda Pinolih inilah menjadi awal terlaksananya upacara Ngaro di Banjar Medura Desa Pekraman Intaran Desa Sanur Kauh.
Geguritan Babad Arya Medura menceritakan, perjalanan Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan dengan Arya Kuda Pinolih beserta rombongan mengarungi perairan laut Bali Selatan (sekitar Pantai Canggu Krobokan).
Dalam perjalanan tiba-tiba keris Dalem Bali terpental jatuh ke dalam lautan dan Arya Kuda Pinolih dengan cekatan menceburkan diri ke dalam lautan untuk mencari keris yang terjatuh tersebut.
Arya Kuda Pinolih merasa sedih ketika keris tersebut tidak ditemukan di kedalaman lautan hingga dia berucap, jika keris itu ditemukan, di tempat tersebut akan didirikan pura.
Berselang beberapa saat setelah janji itu diucapkan, datang seekor ikan kucul/cucul (sejenis ikan barakuda) menghampiri Arya Kuda Pinolih.
Ikan tersebut mengantarnya ke tempat keris itu berada, di lautan sekitar Pantai Karang Intaran Sanur.
Di perairan inilah Arya Kuda Pinolih menemukan seekor naga yang kemudian ditarik sampai ke perairan laut Canggu.
Naga itu disambut dengan mengacungkan warangka keris yang dibawanya. Sontak naga tersebut berubah menjadi keris dan masuk ke warangkanya.
Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan kemudian memberi gelar keris tersebut Ki Bhagawan Canggu.
Sesuai janji, Arya Kuda Pinolih mohon ijin kepada Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan untuk mendirikan pura di areal perairan Pantai Karang Intaran Sanur.
Raja Bali merestui permohonan Arya Kuda Pinolih dengan memberkahi sebuah pustaka yang bernama Dug Swamba (Ajian Siwa) dan cincin bermatakan mirah.
Arya Kuda Pinolih menaiki ikan kokak (sejenis ikan krapu) menuju perairan Pantai Karang Intaran Sanur.
Sebagai balas budi kepada ikan tersebut, Arya Kuda Pinolih mengeluarkan bhisama/kesepakatan, kelak keturunannya tidak akan mengkonsumsi ika kokak dan ikan cucul.
Setibanya di Pantai Karang Intaran Sanur, Arya Kuda Pinolih mengeluarkan aji Tapa Lare yang mengubah wujudnya menjadi seorang bayi.
Bayi itu ditemukan oleh istri Ki Ngurah Pinatih yang sedang berada di tepi Pantai Karang Intaran Sanur.
Bayi itu dipungut dan diajak ke Kerthalangu (wilayah Kesiman sekarang).
Namun Ki Ngurah Pinatih sudah mengetahui siapa sebenarnya bayi tersebut. Dia berkata, “Wahai engkau Arya Kuda Pinolih janganlah engkau menyembunyikan dirimu. Aku sudah tahu engkau adalah Adipati Medura yang bersamaku menemani Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan satu perahu dari Medura ke Bali. Kembalilah engkau pada jati dirimu yang sebenarnya”.
Arya Kuda Pinolih kembali pada wujudnya semula dan menyampaikan keinginannya kepada Ki Ngurah Pinatih untuk membangun pura di segara/lautan dan di daratan wilayah Intaran Sanur yang bernama Pura Tengahing Segara dan Pura Medura Raja (letak Banjar Medura sekarang, Desa Pekraman Intaran Desa Sanur Kauh).
Setelah membangun pura di wilayah Intaran Sanur, Arya Kuda Pinolih menikah dengan anaknya Ki Gusti Kanca yang paling bungsu.
Sebelum dikaruniai anak, beliau menyucikan diri (medwijati) pada hari Purnamaning Sasih Karo di Pura Tengahing Segara menjadi seorang Bhagawan.
Ketika putra-putrinya menginjak dewasa, Arya Kuda Pinolih (Arya Medura) memohon kepada Ki Ngurah Pinatih menjadi saksi dalam sebuah perjanjian yang dilakukan dengan anak-anak dan istrinya.
Arya Kuda Pinolih bermaksud untuk kembali ke Medura Jawa, untuk melanjutkan kewajibannya menjadi Adipati Medura.
Perjanjian tersebut isinya: “Wahai istri dan anak-anakku, demikian pula pertisentana/keturunanku kelak, kalian tidak boleh mengkonsumsi daging babi. Bahkan memeliharapun engkau tidak boleh, karena aku ayahmu berhutang budi dengan babi itu”.
Warga Arya Medura tidak boleh mengkonsumsi daging babi dan memelihara babi karena saat melakukan semedhi di Gunung Lempuyang, Arya Kuda Pinolih dilindungi oleh seekor babi sehingga tapanya tidak diganggu oleh binatang buas.
Babi tersebut sangat setia menemani Arya Kuda Pinolih dalam mejalankan semedhinya, hingga dia mendapatkan wahyu untuk mendirikan puri dan pura di tepi daerah rawa-rawa, yang sekarang disebut Banjar Medura, Desa Pekraman Intaran, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali.
Editor : Nyoman Suarna