Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Rumah Adat Desa Sidatapa yang Membelakangi Jalan dan Tahan Gempuran Modernisasi: Warisan Berusia Lebih dari 1.200 Tahun

I Putu Mardika • Rabu, 11 September 2024 | 18:52 WIB
Rumah adat Sidatapa di Buleleng, Bali.
Rumah adat Sidatapa di Buleleng, Bali.

BALIEXPRESS.ID – Desa Sidatapa, sebuah desa tua di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, menyimpan sejarah panjang yang penuh keunikan.

Desa ini dikenal sebagai bagian dari Bali Aga (Bali Mula), yang dipercaya sudah ada sejak tahun 700 Masehi, jauh sebelum kekuasaan Kerajaan Majapahit menginjak Bali.

Lokasi desa ini terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, berbatasan langsung dengan tiga desa tua lainnya: Cempaga, Tigawasa, dan Pedawa. Keempat desa ini sering disebut dengan julukan SCTP (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa).

Selain dikenal sebagai sentra penganyaman alat-alat rumah tangga seperti soksasi, bakul, dan keranjang, Desa Sidatapa juga merupakan penghasil cengkih, kopi, dan cokelat musiman.

Namun, daya tarik utama desa ini adalah eksistensi rumah adatnya yang tetap bertahan di tengah gempuran modernisasi.

Rumah adat Sidatapa memiliki ciri khas unik, yang tak hanya berbeda dari rumah modern tetapi juga sarat makna spiritual. Bahkan, rumah adat ini dianggap begitu sakral oleh penduduk setempat.

Mengapa Banyak Rumah di Sidatapa Membelakangi Jalan?

Fenomena unik di Desa Sidatapa adalah banyak rumah yang dibangun membelakangi jalan.

Menurut Nyoman Kader, seorang tokoh masyarakat setempat, hal ini bermula dari cerita leluhur.

"Rumah-rumah ini dulu dibangun membelakangi jalan untuk melindungi penghuni dari serangan binatang buas. Hutan di sekitar desa sangat lebat, dan binatang buas bisa sewaktu-waktu menyerang," jelasnya.

Keunikan Arsitektur Rumah Adat Sidatapa

Rumah adat di Sidatapa ditopang oleh 12 tiang kayu yang disebut "Bale Gajah Tumpang Salu." Simbolisme yang terkandung di dalamnya sangat dalam: "Bale" bermakna tempat berlindung, "Gajah" melambangkan ilmu pengetahuan, dan "Tumpang Salu" berarti tiga bagian utama rumah, yang menyerupai konsep tri mandala dalam arsitektur pura di Bali.

Setiap rumah adat di Sidatapa memiliki tiga bagian utama:

  1. Nista Mandala: Bagian paling luar yang biasanya digunakan untuk menerima tamu dan juga sebagai tempat tidur.
  2. Madya Mandala: Bagian tengah yang berfungsi untuk aktivitas rumah tangga seperti memasak dan makan. Di sini juga terdapat perapian sebagai simbol Dewa Brahma, tempat penyimpanan air sebagai lambang Dewa Wisnu, dan tempat penyimpanan beras sebagai simbol Dewi Sri.
  3. Utama Mandala: Bagian paling dalam yang digunakan sebagai tempat suci untuk pemujaan leluhur, Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), serta pelinggih Dewi Sri, Taksu, dan Pelangkiran.

Yang membuat rumah adat ini semakin istimewa adalah, warga Sidatapa tidak memerlukan pelinggih penunggun karang seperti di banyak daerah di Bali.

Semua aktivitas persembahyangan, termasuk pemujaan leluhur dan Dewa, dilakukan di dalam rumah.

Misteri dan Kekuatan Spiritual Rumah Adat Sidatapa

Uniknya, meski berada di tengah gempuran arsitektur modern seperti rumah bergaya minimalis yang kian menjamur di Bali, rumah-rumah adat Sidatapa tetap kokoh dan dihormati oleh warganya.

Ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kekuatan spiritual dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang sudah berusia lebih dari 1.200 tahun.

Desa Sidatapa, dengan segala keunikannya, menjadi salah satu bukti kuat bahwa tradisi dan modernisasi bisa berjalan beriringan.

Hingga kini, kisah-kisah tentang desa tua ini terus hidup, diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi daya tarik yang membuat siapa pun penasaran ingin menyelami lebih dalam rahasia kehidupan masyarakat Bali Aga yang begitu sakral.

Tertarik mengunjungi Desa Sidatapa dan merasakan sendiri aura mistisnya? Siapkan dirimu untuk menjelajahi keunikan yang masih terjaga di era modern ini! ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #sidatapa #rumah adat #buleleng