Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Ngaro Digelar Warga Madura di Sanur Bali, Konon Atas Perintah Hyang Yogi Swara dan Mpu Baradah : Begini Sejarahnya

IGA Kusuma Yoni • Kamis, 12 September 2024 | 02:36 WIB
NGARO: Tradisi Ngaro digelar setiap bulan Oktober bertepatan dengan bulan Purnama Kapat oleh warga Banjar Madura, Sanur.
NGARO: Tradisi Ngaro digelar setiap bulan Oktober bertepatan dengan bulan Purnama Kapat oleh warga Banjar Madura, Sanur.

BALIEXPRESS.ID- Tradisi Ngaro diselenggarakan oleh warga Banjar Madura di Desa Sanur, Denpasar Bali.

Ngaro merupakan salah satu tradisi yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu secara turun temurun.

Meski tradisi Ngaro ini dilakukan warga Banjar Madura di Desa Sanur, ternyata tidak ada kaitannya dengan warga Pulau Madura di Provinsi Jawa Timur.

Sejarah tradisi Ngaro yang dilaksanakan warga Banjar Madura di Sanur terkait dengan perjalanan Mpu Baradah dan Hyang Yogi Swara dari Pulau Jawa ke Pulau Bali.

Dari wawancara Koran Bali Express pada tanggal 15 Oktober 2016 dengan salah seorang pengempon Pura  Dalem Segara, Nyoman Sunarta, terungkap tradisi Ngaro adalah sebuah upacara yang dilaksanakan oleh warga Banjar Madura di Desa Sanur sejak abad ke-10 silam.

Upacara ini dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat (keempat)  kalender Bali atau Purnama yang jatuh pada bulan Oktober setiap tahunnya.

"Jadi jika dilihat dari sejarahnya, tradisi Ngaro bermakna sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih leluhur kami dari Madura kepada Dewa Baruna yang sudah memberikan berkah," jelasnya.

Sejarah dari tradisi Ngaro, jelas Sunarta, berawal dari terbentuknya kawasan yang diberi nama Madura di sekitar Desa Sanur.

Terbentuknya Banjar Madura ini, menurut Sunarta, tidak terlepas dari kisah perjalanan Mpu Baradah dan Hyang Yogi Swara ke Bali.

Seperti dikisahkan, ketika kerajaan Singasari runtuh pada abad ke-10, keamanan dan wilayah di Kerajaan Singasari sangat kacau, sehingga Sang Hyang Yogi Swara yang merupakan seorang pendeta kerajaan bersama dengan Mpu Baradah memutuskan untuk berlayar ke wilayah Timur Pulau Jawa.

Setelah menyeberangi Pulau Jawa, akhirnya Mpu Baradah dan Sang Hyang Yogi Swara sampai di sisi utara Pulau Bali.

Di tempat tersebut Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Beradah mendirikan pemujaan bernama Pura Dalem Sari yang terletak di Bukit Gondol Singaraja.

"Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke arah Timur hingga sampai di Tulamben.  Di tempat ini kemudian mendirikan Pura dengan nama Pura Manik Sakti,” paparnya.

Setelah beberapa lama di Tulamben, Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Baradah melanjutkan perjalanan ke arah barat hingga sampai di kawasan Sanur.

Sesampainya di Desa Sanur ini, Sang Hyang Yogi Swara melakukan semedi di tengah segara.

Sedangkan Mpu Baradah melanjutkan perjalanan ke daratan dan mendirikan banyak pura di wilayah Sanur dan Kabupaten Badung

Hingga akhirnya mendirikan sebuah pura bernama Pura Dalem Madura di Desa Cemagi Kabupaten Badung.

Setelah melakukan tapa semedi tersebut, Sang Hyang Yogi Swara dan Mpu Baradah bertemu.

Tempat pertemuan itulah disebut dengan Madura, yang berasal dari dua kata yakni Madu yang artinya bertemu dan Ara yang artinya air. Jadi Madura ini berarti pertemuan daratan dan air laut.

Sehingga rawa-rawa jadi tempat pertemuan tersebut disebut Banjar Madura.

Setelah memiliki wilayah dan memiliki keturunan, Hyang Yogi Swara memerintahkan keturunannya untuk melaksanakan ritual yang disebut dengan nama Ngaro.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #Hyang Yogi Swara #ngaro #Mpu Baradah #tradisi #madura