Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catat! Kwangen punya fungsi yang berbeda dalam setiap Yadnya, Ini Maknanya

I Putu Mardika • Sabtu, 14 September 2024 | 03:52 WIB

Kwangen memiliki fungsi yang berbeda dalam upacara panca yadnya
Kwangen memiliki fungsi yang berbeda dalam upacara panca yadnya
BALIEXPRESS.ID-Kwangen menjadi sarana penting yang digunakan Umat Hindu di Bali dalam aktifitas. Meskipun ukurannya mini, namun sarana sarat akan makna di setiap panca yadnya yang dilaksanakan.

Kata kwangen merujuk pada sarana persembahayangan, selain bunga, air, dan dupa. Kwangen berasal dari kata ‘wangi’ yang artinya ‘wangi’/’harum’/’semerbak’.

Karena makna ini, kwangen dikaitkan dengan pemujaan dan upakara yadnya sebagai sarana atau media mengungkapkan rasa bhakti dan dalam megubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Kwangen merupakan sarana persembahyanga atau unsur yadnya berbentuk lonjong (kojong) terbuat dari daun pisang, janur, bunga, plawa, porosan, dan uang kepeng.

Dosen Poltek Negeri Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Putu Suamba, M.A. Ph.D memaparkan secara keseluruhan kwangen merupakan simbol Ongkara, aksara suci (pranawa) yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa. Ongkara merupakan wijaksara, Ongkara disebut juga Ekaksara.

Sumber-sumber yang menyebutkan kwangen, makna dan penggunaannya di dalam yadnya, antara lain Lontar Sri jaya Kesunu, Yadnya Prakerti. Kwangen mempunyai bentuk, makna, dan fungsi. Masing-masing mempunyai makna.

Kojong artinya berbentuk lonjong (dan jika ditekan nampak sebagai bentuk segi tiga), bermakna arda chadra (bentuk setengah lingkaran).

Sampian kwangen /uras sari / kembang payas / reringgitan terbuat dari janur berbentuk cili, bermakna sebagai nada.

Uang kepeng (pis bolong) berbentuk pipih bundar 2 biji sebagai lambang windu (nol). Uangnya sendiri juga sebagai simbol sarining manah di dalam beryadnya.

Porosan silih-asih yang terbuat dari kapur, sirih dan daun base ditata sedemikian rupa sebagai simbol Arda Nareswari. Porosan silih asih juga melambangkan dalam pemujaan terdapat hubungan bhakti dan asih.

“Porosan silih asih juga bisa dilihat sebagai maithun antara purusa dengan pradhana yang ditemukan di dalam ajaran Tantra. Maithuna bagian dari Panca Ma (Mada, Mamsa, Matsya, Mudra, Maithuna),” katanya.

Sedangkan sikap cakupan tangan saat menyembah bisa dikatakan sebagai bentuk sebuah mudra. Hal ini juga menandakan Siwa di Indonesia adalah juga Siwa Tantris, artinya ajaran Siwa yang dipengaruhi oleh ajaran Tantra.

“Porosan silih asih juga menyimbulkan Tri Murti, buah pinang simbol Brahma, Daun base/sirih simbol wisnu dan kapur simbol Iswara,” sebutnya.

Bunga dipakai seperti bunga jepun, sandat, cempaka yang segar. Sebagai simbul kesegaran pikiran/perasan memuja Tuhan.

Keharuman bunga/kembang juga membantu menciptakan keheningan dan kekhidmatan sembahyang, dan Plawa, dedaunan berwarna hijau sebagai simbul ketenangan hati.

Kwangen sebagai lambang ongkara, secara Etika aspek siwam (kesucian) menjadi penting, seperti tempat membuat, kebersihan dan kesucian hati ia yang membuat juga sangat penting. Unsur Estetika juga tidak kalah penting karena yang dibangun dari aspek estetika adalah unsur rasa.

Kwangen digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai pelengkap banten tebasan, prayascita, dan beberapa jenis sesayut. Rsi Yadnya, kwangen digunakan sebagai pelengkap banten tebasan.

Pitra Yadnya kwangen digunakan pada saat upacara mebersih/mersihin sawa yang diletakkan pada bagian badan tertentu dengan jumlah kwangen dan uang kepeng tertentu; kwangen di sini berfungsi sebagai pengurip.

Dalam ritual Manusa Yadnya kwangen digunakan pada upacara ngotonin, potong gigi, perkawinan, dan sebagainya dan pada upacara

Dalam ritual Bhuta Yadnya kwangen digunakan di dalam upacara memakuh, mecaru, mendem pedagingan. Dalam pedagingan berfungsi sebagai Panca Datu.

Meski semakin sulit mendapatkan uang kepeng (pis bolong) namun tidak bisa diganti dengan uang kertas. Yang dipentingkan bukan nilai nominalnya, namun bentuk yang bundar dan bahan-bahan yang digunakan (yaitu Panca Datu).

Uang kepeng (pis bolong) bisa diganti dengan uang logam, asalkan bentuknya bundar dan terbuat dari unsur-unsur panca datu.

Kwangen sebagai simbol Ongkara adalah simbol Tuhan dan manusia sebagai Penyembah memandang dirinya sebagai Ongkara.

“Di dalam teks Jnana Siddhanta disebutkan: Sang Hyang Ongkara, yan ring raga: dada: okara, bahu: arda chandra, sirah: windu, sikha: nada. Yang ring dalem: paru-paru: okara, limpa: ardha candra, hati: windu, ampru: nada.

Pada pemujaan seorang pendeta (sadhaka), sarana-sarana pemujaan disebut Siwakrana juga ada unsur-unsur Ongkara Tripada sebagai Arda Chandra, siwamba sebagai Windu, dan sesirat sebagai Nada.

“Tubuh manusia sebagai tempat bersemayamnya roh (atma) oleh karena sangat penting usaha-usaha penyucian diri,” pungkasnya (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ongkara #bali #yadnya #Kesucian #kwangen #POROSAN #hindu bali #manusa yadnya #hindu #uang kepeng #etika #Bhuta Yadnya #Rsi Yadnya