BALIEXPRESS.ID - Bali, sebagai pulau yang kaya akan tradisi dan budaya Hindu, memiliki berbagai macam sarana upacara yang penuh makna. Salah satu sarana yang menarik perhatian adalah Sate Renteng.
Bagi masyarakat Hindu Bali, Sate Renteng bukanlah sekadar rangkaian tusuk sate biasa.
Terdiri dari beberapa tusuk sate dan rangkaian kulit babi, Sate Renteng memiliki makna mendalam dalam setiap pelaksanaan upacara.
Lalu, apa sebenarnya makna di balik Sate Renteng ini?
Makna Filosofis Sate Renteng: Lebih dari Sekadar Sarana Upacara
Walau dalam beberapa lontar Hindu belum ada yang secara jelas membahas tentang Sate Renteng, kehadirannya selalu wajib dalam setiap Banten Bebangkit, yaitu persembahan utama kepada Dewi Durga.
Menurut Budayawan I Gede Anom Ranuara, Sate Renteng memiliki kaitan yang sangat erat dengan Babi Guling sebagai ulam utama dalam upacara yadnya.
Namun, makna filosofisnya lebih dalam dari sekadar rangkaian sate.
Dalam Lontar Tattwa Mpu Kuturan, Sate Renteng disebut sebagai "Rerentengan Jatah," yang berarti rangkaian atau susunan sate.
Sedangkan dalam Lontar Kadurgan, rangkaian sate ini dikenal sebagai "Gayah," yang bermakna merangkai kembali tulang babi sebagai persembahan kepada Dewi Durga.
Segala olahan daging babi yang digunakan, termasuk Sate Renteng, diyakini dipersembahkan kepada Dewi Durga sebagai bentuk penghormatan atas kekuatannya.
Legenda di Balik Sate Renteng: Kisah Dewi Durga dan Mahesasura
Sejarah Sate Renteng juga terkait erat dengan legenda Hindu kuno. Diceritakan, Dewa Wisnu pernah memohon kepada Dewi Durga untuk membunuh Mahesasura, sosok jahat yang hanya bisa dikalahkan oleh Dewi Durga.
Dewi Durga pun menerima permintaan ini, namun meminta agar seluruh senjata para dewa diberikan kepadanya untuk mengalahkan Mahesasura.
Ini tercermin dalam bentuk Sate Renteng yang menyerupai sembilan senjata para dewa, memperlihatkan kekuatan dan perlindungan yang diberikan kepada Dewi Durga.
Jenis-Jenis Sate Renteng: Dari Puspusan hingga Durga Dewi
Ternyata, Sate Renteng tidak hanya memiliki satu jenis saja. Berikut adalah beberapa jenis Sate Renteng yang kerap digunakan dalam upacara besar di Bali:
1. Sate Renteng Puspusan
Menggunakan kelapa sebagai alas, terdiri dari 13 tusuk sate tanpa Bagia Pulekerti.
2. Sate Renteng Sari
Menambahkan Bagia Pulekerti dalam rangkaiannya, tetap menggunakan 13 tusuk sate.
3. Sate Renteng Utuh
Jenis yang lebih tinggi, menggunakan kepala babi utuh sebagai alas.
4. Sate Renteng Durga Dewi
Yang tertinggi di antara semuanya, menggunakan kepala babi disertai cabai merah yang melambangkan taring Dewi Durga.
Komponen Utama Sate Renteng: Filosofi dan Biologis yang Kuat
Merangkai Sate Renteng tidak bisa dilakukan sembarangan. Beberapa komponen penting harus selalu ada, seperti Sate Asem, Sate Serapah, Sate Lamat, serta simbol senjata Dewata Nawa Sanga.
Setiap komponen ini memiliki makna filosofis yang dalam, seperti kelapa yang melambangkan bumi, dan rangkaian tulang babi yang dikenal sebagai Gayah, simbol persembahan kepada Dewi Durga.
Tidak hanya itu, setiap komponen memiliki fungsi biologis yang penting. Misalnya, cabai merah yang diletakkan di ujung tusuk sate berfungsi sebagai simbol Banaspati, namun juga secara praktis menghalau lalat agar tidak hinggap di atas sate.
Kunyit yang digunakan berfungsi sebagai antibiotik alami agar sate tidak cepat busuk.
Rahasia Kanda Pat dalam Sate Renteng: Penggunaan Organ Hewan sebagai Simbol
Tak hanya itu, setiap arah mata angin juga memiliki komponen tertentu yang harus disusun dengan hati-hati. Paru-paru di arah timur, hati di arah selatan, empedu di arah barat, limpa di arah utara, dan ginjal di bagian tengah.
Susunan ini melambangkan Kanda Pat, yang diyakini sebagai penjaga Dewi Durga.
Penggunaan komponen ini menambah keagungan makna Sate Renteng dalam setiap upacara yang menggunakan Banten Bebangkit.
Kesimpulan: Sate Renteng sebagai Simbol Sakral dalam Upacara Bali
Dengan makna filosofis yang mendalam serta fungsinya yang penting dalam upacara Hindu di Bali, Sate Renteng bukan sekadar sarana upacara biasa.
Keberadaannya sebagai simbol persembahan kepada Dewi Durga menambah kekuatan spiritual dalam setiap upacara besar di Bali.
Setiap komponen dalam Sate Renteng, baik secara filosofis maupun biologis, dirancang untuk menciptakan keseimbangan antara dunia spiritual dan dunia nyata. ***
Editor : I Putu Suyatra