Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jadi sarana Utama dalam bebantenan, Sirih Juga Miliki Manfaat Mistis hingga Menolak Bala

I Putu Mardika • Selasa, 17 September 2024 | 05:45 WIB

Sirih juga digunakan dalam ritual perkawinan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
Sirih juga digunakan dalam ritual perkawinan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Daun sirih atau daun base merupakan salah satu elemen ritual yang sering digunakan oleh umat Hindu di Bali. Selain melambangkan pemujaan terhadap Dewa Siwa, daun sirih juga berperan dalam mempererat persahabatan dan persaudaraan.

Ida Bagus Made Bhaskara, dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar yang juga seorang penekun sastra, menjelaskan bahwa penggunaan daun sirih telah menjadi bagian dari tradisi kuno.

Penelitian pada manusia purba di Gilimanuk menemukan adanya bercak pada gigi, yang setelah diteliti, ternyata berasal dari penggunaan daun sirih.

Ini menunjukkan bahwa tradisi ini sudah ada sebelum agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia dan Bali. Banyak teks sastra yang juga menguraikan penggunaan daun sirih.

Salah satu kisah dalam teks kuno menjelaskan bahwa ketika Dewa Siwa dan Dewi Uma baru menikah, Dewi Uma mempersembahkan daun sirih agar suaminya, yang sering bertapa, merasa nyaman di rumah. Kisah ini menggambarkan pentingnya daun sirih sebagai persembahan kepada Dewa Siwa.

Menurut Bhaskara, ada sebuah purana yang menyatakan bahwa tanaman base sangat istimewa, dengan akarnya tumbuh di bumi dan daunnya berkembang di langit. Karena itulah, tanaman ini dianggap sebagai tumbuhan surgawi dan sangat penting dalam ritus pemujaan.

Dalam upacara, daun sirih biasanya disajikan bersama bahan lain seperti buah pinang, kapur, dan gambir sebagai pelengkap.

Ada tiga kegunaan utama dari daun sirih. Pertama, sebagai simbol atau nyasa, misalnya dalam upacara kematian, daun sirih dipelintir membentuk jari sebagai simbol tubuh manusia.

Kedua, daun sirih digunakan sebagai persembahan, terutama ketika umat menghaturkan base saat meminta petunjuk kepada sulinggih. Daun sirih juga berperan dalam tradisi sosial, seperti menyambut tamu atau dalam percakapan antar sesama.

Ketiga, daun sirih memiliki fungsi magis. Daun yang dipilih untuk tujuan ini adalah daun base temu ros, yang memiliki struktur tulang daun sejajar, menyerupai tulang iga manusia.

“Daun ini dipercaya memiliki kekuatan dalam ritus penyembuhan, perlindungan metafisik, serta pengasihan. Misalnya, daun base silih asih dipilih untuk tujuan memikat karena diyakini lebih kuat dalam efeknya,” katanya.

Penggunaan daun sirih dalam berbagai ritus keagamaan Hindu di Bali terdiri dari sebelas rangkaian yang berbeda, masing-masing memiliki fungsi dan makna tersendiri sesuai dengan tujuan ritualnya.

Ida Bagus Made Bhaskara menjelaskan beberapa jenis sirih, salah satunya adalah sirih selongsong, yang biasa digunakan saat umat Hindu di Bali ingin mabebaosan (berbicara), seperti dalam rapat atau acara keluarga.

Ada juga jenis sirih tulak, di mana daun sirih diposisikan bolak-balik dan dipelintir, dengan ujung dan pangkal yang dipertemukan. Daun sirih jenis ini digunakan untuk menolak hal-hal negatif.

Selain itu, ada sirih silih asih, di mana ujung-ujung daun dipertemukan dan sejajar, melambangkan keselarasan dan kesamaan visi antara orang yang menggunakan daun tersebut dengan orang lain.

Kemudian, ada juga sirih jeriji yang biasa digunakan dalam upacara ngereka kajang, dan sirih porosan yang digunakan untuk canang. Totalnya ada sebelas jenis sirih yang digunakan dalam upacara keagamaan.

Daun sirih tidak hanya berfungsi sebagai sarana persembahan vertikal, tetapi juga memiliki fungsi horizontal dalam kehidupan sosial.

Di Bali, sirih sering disajikan kepada tamu yang berkunjung ke rumah sebagai simbol penyambutan dan untuk menciptakan suasana yang lebih rileks, khususnya dengan menggunakan sirih selongsong yang mudah dikonsumsi.

Selain digunakan dalam ritus keagamaan, daun sirih juga berhubungan dengan usadha (pengobatan tradisional).

Daun sirih memiliki kandungan antibiotik yang sangat tinggi dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional, baik daunnya maupun buahnya.

Salah satu manfaatnya adalah untuk mengobati radang tenggorokan, batuk, dan memperkuat gigi.

“Caranya adalah dengan mengunyah daun sirih, dan air liurnya ditelan, karena dipercaya memiliki sifat antioksidan yang dapat mengatasi radikal bebas serta menjaga kesehatan mulut,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#kuno #ritual #bali #daun sirih #sirih #hindu #menolak bala #tradisi