Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitologi Daun Dapdap, Muncul dari Pemutaran Gunung Mandara, Jadi Sarana Tulus Lumbung, Bisa menjadi Obat

I Putu Mardika • Kamis, 19 September 2024 | 04:32 WIB

Dapdap juga digunakan dalam pementasan wayang lemah
Dapdap juga digunakan dalam pementasan wayang lemah
BALIEXPRESS.ID-Pohon dapdap merupakan tanaman penting yang sering digunakan dalam berbagai upacara keagamaan umat Hindu di Bali. Filosofinya, daun dapdap digunakan untuk keperluan penyucian (Prayascita), menstanakan dewa (Pratista), dan untuk pengobatan tradisional (usada).

Menurut Ida Bagus Made Baskara dari Geriya Gunung Kawi Manuaba, Tampak Siring, penggunaan daun dapdap dalam yadnya di Bali sangatlah umum.

Daun ini digunakan dalam berbagai prosesi, seperti nuntun meideran dan pertunjukan wayang, yang mencerminkan pentingnya daun dapdap dalam budaya Bali.

Penggunaan daun dapdap tidak hanya terbatas di Bali, tetapi juga berperan vital dalam budaya Hindu di India, yang terlihat dalam mitologi.

Dalam bahasa Sansekerta, daun dapdap dikenal sebagai Mandara, yang erat kaitannya dengan kisah Ksirarnawa, di mana pohon ini muncul saat para dewa dan raksasa mengaduk lautan susu untuk memperoleh amerta (air keabadian).

Dikatakan bahwa daun dapdap pertama kali diambil oleh Dewa Indra dan ditanam di sorga, menjadikannya salah satu dari lima tanaman suci (panca wrska).

"Ketika agama Hindu menyebar ke Bali, daun dapdap mulai digunakan dalam berbagai ritual, terutama sebagai sarana pembersihan atau Prayascita, seperti ketika Sahadewa meruwat Bhatari Durga," katanya.

Selain itu, daun dapdap berfungsi sebagai sarana tulus lumbung atau untuk membangun pelinggih sementara.

"Tanaman ini juga diyakini sebagai simbol kekuatan spiritual (taru sakti) karena daunnya yang bercabang tiga, melambangkan kekuatan tiga sakti," sebutnya.

Kayu pohon dapdap juga digunakan dalam ritual penyembuhan untuk orang yang terkena ilmu hitam, dengan daun dapdap dipakai untuk memercikkan air suci.

Selain itu, pohon dapdap sering ditanam di samping rumah untuk menetralisir energi negatif, berfungsi sebagai penolak bala.

Penelitian ilmiah bahkan menunjukkan bahwa akar pohon dapdap dapat menyuburkan tanaman di sekitarnya, sehingga sering dijadikan pagar alami di masa lalu.

Dalam teks Taru Pramana, daun dapdap memiliki peran penting dalam pengobatan tradisional atau usadha. Dalam Usada Sari disebutkan bahwa ada tiga penyebab utama penyakit, yaitu panes (panas), tis (dingin), dan dumelada (campuran panas dan dingin).

Ida Bagus Made Baskara menjelaskan bahwa pengobatan tradisional untuk ketiga jenis penyakit ini bergantung pada berbagai jenis tumbuhan, yang masing-masing memiliki karakter panes, tis, atau dumelada.

Pohon dapdap dianggap memiliki efek tis, sehingga sering digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh panas, seperti panas dalam. Oleh karena itu, daun dapdap sering dimanfaatkan sebagai loloh (jamu) karena diyakini mampu menurunkan panas dalam.

"Selain daunnya, kulit batang pohon dapdap juga sering digunakan sebagai boreh (parem) yang berfungsi menurunkan panas," imbuhnya.

Secara ilmiah, manfaat kulit batang dapdap telah diteliti. Kulit batangnya mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, pterocarpans, stilbenes, dan arylbenzofurans, yang efektif dalam mengatasi masalah pencernaan serta memiliki sifat antioksidan dan antikanker.

 

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #hindu bali #hindu #usada #Dadap #daun