BALIEXPRESS.ID - Siapa yang tidak kenal dengan Mahapatih Kebo Iwa, sosok gagah berani nan sakti yang menjadi legenda di masa pemerintahan Raja Bedahulu di Bali?
Patih asal Blahbatuh, Gianyar ini dikenal tidak hanya sebagai panglima perang yang tangguh, tetapi juga sebagai undagi terkemuka.
Salah satu jejak sejarahnya yang penuh misteri ada di Desa Pakraman Bedha, Tabanan, di mana konon Patih Kebo Iwa membangun Bale Agung yang legendaris.
Pura Puseh Lan Bale Agung Desa Pakraman Bedha mungkin sekilas terlihat seperti Pura Kahyangan Tiga pada umumnya.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Begitu memasuki areal pura, kita langsung disambut oleh Bale Agung yang sangat panjang.
Menurut babad setempat, Bale Agung Bedha adalah salah satu yang terbesar di Bali, hanya kalah dari Bale Agung di Taro, Gianyar.
Uniknya, kedua Bale Agung ini memiliki hubungan erat dengan Patih Kebo Iwa. Masyarakat setempat meyakini bahwa Bale Agung tersebut dulunya adalah tempat tidur sang Patih yang sakti.
Menariknya lagi, meskipun Bale Agung Bedha saat ini memiliki ukuran 26 meter dengan lebar 7 meter, ada cerita yang mengatakan bahwa dulunya bangunan ini memiliki panjang hingga 500 meter, bahkan sampai melewati Sungai Tukad Yeh Empas di sebelah barat pura!
Kepercayaan ini semakin kuat setelah ditemukan bekas pilar bangunan di sebelah barat sungai.
"Dulu, Bale Agung ini diyakini panjangnya mencapai 500 meter hingga melewati Tukad Yeh Empas, karena ditemukan bekas sendi bangunan di barat sungai," ungkap Tokoh Adat Bedha, I Gusti Nyoman Wirata, saat diwawancarai.
Legenda ini juga tercatat dalam Babad Kebo Iwa Purana Bali Dwipa, di mana Kebo Iwa disebut sebagai Patih sakti yang tak tertandingi.
Selain dikenal ahli dalam seni perang, ia juga memiliki keterampilan luar biasa sebagai undagi, seorang arsitek tradisional Bali.
Jika Mpu Kuturan dikenal sebagai pembangun Kahyangan Tiga dan Pedanda Sakti Wawu Rauh terkenal sebagai undagi Padmasana, Kebo Iwa adalah undagi yang membangun Bale Agung.
Tidak hanya dikenal karena jasanya dalam melindungi Bali, Kebo Iwa juga memiliki tubuh raksasa yang konon tidak dapat ditembus senjata apapun.
Bahkan, kekuatan Kebo Iwa ini membuat Patih Gajah Mada dari Majapahit kesulitan menaklukkannya dalam rangka mewujudkan Sumpah Palapa.
Ketika serangan Majapahit datang pada abad ke-13, Kebo Iwa bersama 800 pasukannya segera bergerak ke wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pakraman Bedha.
Di sana, mereka membangun benteng-benteng pertahanan yang disebut Bedog, yang kemudian menjadi asal mula nama Desa Bedha.
Selain benteng, Kebo Iwa juga membangun tempat peristirahatan yang kemudian dikenal sebagai Bale Agung.
"Tempat peristirahatan inilah yang sekarang disebut Bale Agung Desa Pakraman Bedha," jelas Wirata.
Menurut cerita, pembangunan Bale Agung ini menggunakan kayu-kayu besar yang terdampar di pesisir selatan Tabanan setelah badai besar melanda.
Kayu-kayu yang hanyut dari Jembrana inilah yang menjadi bahan utama dalam membangun Bale Agung tersebut.
Bagaimana bisa bangunan sepanjang 500 meter ini dibangun di zaman dahulu? Apa rahasia di balik kehebatan Kebo Iwa sebagai undagi?
Temukan jawaban dari kisah penuh misteri ini di balik sejarah Bale Agung Bedha yang legendaris! ***
Editor : I Putu Suyatra