Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ditinggal Mati kakak dan Adiknya, Wajib jalani Otonan Sanan Empeg, Gunakan Kain Khusus

I Putu Mardika • Minggu, 22 September 2024 | 05:30 WIB

Prosesi otonan Sanan Empeg sebagai penolak bala
Prosesi otonan Sanan Empeg sebagai penolak bala
BALIEXPRES.ID-Kelahiran anak yang kehilangan kakak atau adiknya, yang dikenal sebagai sanan empeg, memerlukan upacara otonan. Umat Hindu di Bali, meyakini jika penggunaan kain tenun endek sanan empeg sangat penting sebagai bagian dari ritual tersebut.

Putu Maria Ratih Anggraini, akademisi dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan bahwa kain ini dipercaya oleh masyarakat Bali sebagai penangkal bencana dan memiliki nilai magis.

Ia menekankan bahwa kelahiran dalam kondisi ini perlu dilakukan upacara sanan empeg agar anak yang lahir bisa mendapatkan umur panjang.

Istilah sanan empeg sendiri berasal dari dua kata yakni "sanan" yang berarti alat dan "empeg" yang berarti hampir patah, sehingga bisa diartikan sebagai alat penyelamat dari patah.

Motif kain tenun endek sanan empeg biasanya berupa kotak-kotak yang terpisah, melambangkan perlindungan bagi anak dari bahaya kematian yang mungkin menimpa kakak atau adiknya.

Bagi sebagian masyarakat Bali, kain tenun ini sangat penting dalam upacara otonan untuk menetralisir pengaruh negatif.

Upacara ini, atau yang dikenal sebagai bayuh oton, menggunakan kain tersebut untuk menyejukkan dan menetralkan pengaruh buruk saat kelahiran.

"Sarana banten yang digunakan dalam upacara ini termasuk Banten Teg-teg, simbol kestabilan dan harmoni antara manusia dan alam," paparnya.

Daksina melambangkan hubungan yang baik antara manusia dengan pencipta serta sesama. Sarana Peras melambangkan permohonan kepada Tuhan, dan penyeneng berfungsi untuk memohon kebahagiaan bagi yang diupacarai.

Telur itik, yang dipilih dalam banten ini, melambangkan kebijaksanaan. Selain itu, ada juga ajuman yang terbuat dari nasi sebagai persembahan di tempat suci.

Tipat kelanan terdiri dari enam tipat nasi, berisi telur dan ikan, serta buah-buahan sebagai persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kain tenun sanan empeg digunakan dalam upacara bayuh oton. Setelah prosesi mabyakala atau mabyakaon, kain ini baru dapat dikenakan oleh anak yang diupacarai.

Putu Maria Ratih Anggraini menjelaskan bahwa penggunaan kain ini diyakini dapat menghilangkan semua kekotoran (keregedan) dari diri anak.

Tenun endek sanan empeg khususnya dipakai dalam upacara Manusa Yadnya untuk anak yang lahir sanan empeg.

"Tanpa menggunakan kain tenun sanan empeg, upacara otonan dianggap tidak lengkap."

Ada keyakinan yang diturunkan dari generasi ke generasi bahwa dengan mengenakan tenun endek sanan empeg saat natab banten otonan, semua kekotoran anak akan hilang dan mereka dapat terhindar dari bahaya kematian.

Sebagian masyarakat Bali meyakini bahwa tenun endek sanan empeg dapat memberikan keselamatan bagi anak yang lahir sanan empeg, terutama bagi mereka yang sebelumnya sering sakit. Setelah menggunakan kain ini, banyak yang mengalami perbaikan dan kesembuhan.

"Selain dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, tenun endek sanan empeg juga diyakini mampu melindungi dari bahaya kematian yang pernah dialami oleh kakak dan adiknya," tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #Otonan #hindu bali #kain #hindu #Sanan Empeg