BALIEXPRESS.ID – Dalam tradisi Hindu Bali, memandikan jenazah sebelum dikebumikan atau diaben merupakan bagian yang sakral dan wajib dilakukan.
Prosesi ini bukan sekadar tindakan fisik, tetapi penuh makna spiritual.
Berbagai hiasan dan ritual yang dikenakan di tubuh jenazah melambangkan harapan agar ketika almarhum lahir kembali, akan memiliki kondisi fisik dan spiritual yang lebih baik.
Sebab kematian dalam keyakinan Hindu Bali bukanlah akhir, melainkan proses di mana atma (jiwa) meninggalkan wadag (jasad) untuk menyatu kembali dengan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.
Sementara tubuh fisik dikembalikan ke alam asalnya melalui prosesi Panca Mahabhuta, yaitu pemurnian elemen-elemen dasar yang membentuk tubuh.
Tahapan ini dimulai dengan proses memandikan jenazah hingga diaben, dan diakhiri dengan upacara Nganyut, yakni melarung abu ke laut.
Menurut Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika, yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) pada 2019, proses memandikan jenazah dilakukan dengan penuh kehormatan.
Jenazah ditempatkan di balai dengan kepala mengarah ke utara atau timur, simbol arah spiritual.
Setelah itu tubuhnya diberi air cendana, yang melambangkan keharuman jiwa, dan berbagai hiasan lain disiapkan sebagai bekal spiritual.
Setiap hiasan yang dikenakan pada jenazah memiliki makna mendalam.
Alis jenazah, misalnya, dihiasi dengan daun intaran, yang dimaksudkan agar ketika almarhum lahir kembali, ia memiliki alis yang indah dan teratur.
Di antara kedua alis, ditempatkan bunga teleng sebagai simbol wawasan yang luas dan cemerlang di kehidupan berikutnya.
Di mata jenazah diberikan kaca, yang bertujuan agar pandangannya tajam dan penuh cahaya.
Sedangkan lubang hidung diisi dengan bunga menuh, sebagai lambang penciuman yang tajam dan sensitif.
Sementara giginya dilapisi dengan bahan waja, diharapkan agar kelak giginya kuat dan kokoh.
Selanjutnya telinga jenazah diberi malem, sebagai simbol pendengaran yang tajam dan kesetiaan pada prinsip hidup.
Di hulu hati diletakkan bahan anget-anget (wangen), yang melambangkan kebijaksanaan dan budi pekerti luhur.
Khusus di alat vital, diberikan daun terong untuk pria dan daun teratai untuk wanita, agar kelak nafsu dapat terkendali dan alat vitalnya sehat.
Tangan jenazah dipasangi paku atau jarum dengan makna agar lengan mereka kuat dan kokoh dalam kehidupan berikutnya.
Bunga kelor diletakkan di gigi taring sebagai perlambang agar almarhum mampu mengendalikan sifat buruk (sad ripu) di kehidupan yang akan datang.
Kemudian seluruh tubuh diberikan wewangian, yang melambangkan perilaku yang harum dan baik dalam kehidupan selanjutnya.
Pipi dihiasi daun Delem, simbol kecantikan dan kesempurnaan wajah di masa depan.
Tahap selanjutnya adalah makerik kuku (membersihkan kuku). Tujuan kuku layon dikerik adalah untuk membersihkan dasa mala.
Alat yang digunakan untuk mengerik kuku jenazah berbeda, antara laki dan perempuan.
Jenazah laki biasanya menggunakan pengutik, sedangkan wanita menggunakan pisau kecil.
Sebelum makerik kuku, lanjutnya, ada baiknya orang yang merasa punya salah meminta maaf kepada almarhum karena sebelum makerik kuku, almarhum masih dianggap masare (tidur) dan belum meninggal atau mati.
“Jadi lebih baik lakukan atau minta maaf bila punya kesalahan karena almarhum masih dianggap masare (tidur),” terangnya.
Setelah semua hiasan selesai dipasang, prosesi dilanjutkan dengan penyiraman tirta dari berbagai sumber suci, termasuk dari sanggah kemulan dan kahyangan desa setempat.
Air suci ini bertujuan memurnikan jiwa almarhum. Setelah itu, jenazah digulung dengan tikar dan kain merajah, serta dimasukkan ke dalam peti.
Prosesi memandikan jenazah dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar ritual fisik, melainkan proses pembersihan rohani yang mendalam.
Setiap detail dalam hiasan dan ritual memiliki makna yang bertujuan untuk mempersiapkan perjalanan atma menuju penyatuan dengan Sang Pencipta, serta membawa kebaikan ketika ia lahir kembali.
Editor : Nyoman Suarna