Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Burung Langka dari Indonesia Timur dalam Upacara Ngaben Umat Hindu Bali

I Putu Suyatra • Selasa, 24 September 2024 | 18:07 WIB

Penggunangan manuk dewata dalam upacara ngaben umat Hindu Bali.
Penggunangan manuk dewata dalam upacara ngaben umat Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Ketika umat Hindu Bali melaksanakan upacara Ngaben, sarana upakara seperti Manuk Dewata atau Burung Cendrawasih memainkan peranan yang sangat penting.

Namun, apa sebenarnya fungsi burung langka asal Indonesia Timur ini dalam prosesi sakral tersebut? Mari kita telusuri lebih dalam!

Keberadaan Manuk Dewata dalam Tradisi Bali

Manuk Dewata, dengan bulu-bulu indah yang berwarna-warni, digunakan sebagai bagian integral dari prosesi palebon, diletakkan di atas bade atau wadah.

Burung ini termasuk dalam famili Paradisaeidae, yang hanya dapat ditemukan di Indonesia bagian timur, Papua Nugini, dan Australia timur. Dengan sekitar 43 spesies, 30-an di antaranya dapat ditemukan di Indonesia.

Menurut Ketut Agus Nova, S.Fil.H, M.Ag, atau yang akrab disapa Jro Anom, penggunaan Manuk Dewata dalam upacara Ngaben adalah suatu keharusan.

Filosofis di balik penggunaan burung ini adalah sebagai wahana untuk mengantarkan Sang Atman menuju alam Swah Loka, memastikan perjalanannya lancar tanpa hambatan.

Dalam mitologi Hindu Bali, Burung Cendrawasih dianggap sebagai "burungnya para dewa."

Makna di Balik Upacara Ngaben

“Manuk Dewata itu wajib ada saat upacara Ngaben. Ini adalah burung kadewatan yang membantu mengantarkan Atman dari berbagai rintangan menuju Swah Loka. Penggunaan Manuk Dewata hanya berlaku khusus dalam Ngaben,” tegas Jro Anom saat diwawancarai oleh Bali Express di Singaraja.

Upacara Ngaben sendiri bertujuan untuk melepaskan unsur-unsur Panca Mahabhuta dan Panca Tan Matra dari jasad manusia yang telah meninggal.

Setelah prosesi ini, diharapkan Atma benar-benar terlepas dari unsur-unsur tersebut, yang sebelumnya menyatu untuk membentuk fisik manusia.

Simbol Spiritual dan Keberadaan Manuk Dewata

Dalam pandangannya, Jro Anom menjelaskan bahwa upacara Ngaben merupakan proses penyucian Atma saat meninggalkan tubuh kasar.

Burung Cendrawasih menjadi simbol pelepasan roh dari Panca Mahabhuta dan Panca Tan Matra untuk kembali ke sumbernya.

Bahkan jika tidak ada bade atau wadah dalam prosesi Ngaben, keberadaan Manuk Dewata tetaplah diperlukan.

Manuk Dewata menjadi pemandu bagi arwah mendiang saat menuju Swah Loka.

Umumnya, kerabat terdekat mendiang—seperti anak, cucu, atau saudara—akan memegang ubes-ubes yang bermahkotakan Burung Cendrawasih.

Mengapa Burung Cendrawasih?

Mengapa harus Burung Cendrawasih? Menurut Jro Anom, burung ini dinilai sebagai "burung Surga" karena keindahannya yang tiada duanya, terutama pada burung jantan yang memiliki bulu indah bak bidadari dari kayangan.

“Karena keindahan yang tiada tandingannya ini, Burung Cendrawasih dinobatkan sebagai burung Surga,” tambahnya.

Penggunaan Manuk Dewata sebagai sarana upakara dalam tradisi Hindu pun telah tercantum dalam kitab Manawadharmasastra V.42, yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan binatang dan tumbuhan untuk upacara kurban demi kebaikan bumi.

Tantangan dalam Memiliki Manuk Dewata

Meskipun keberadaan Manuk Dewata sangat penting dalam upacara Ngaben, tidak semua orang dapat memilikinya.

Burung ini merupakan satwa langka yang dilindungi, menjadikannya sulit untuk diperoleh.

“Hanya griya atau para sulinggih yang bisa memiliki Manuk Dewata, dan saat pengabenan, umat bisa meminjam untuk sarana upakara,” jelasnya.

Sering kali, Manuk Dewata dihias dengan berbagai aksesoris, termasuk emas, untuk mempercantik tampilan burung yang akan mengantar roh mendiang menuju alam sana.

Dengan demikian, Manuk Dewata bukan hanya sekadar burung, tetapi simbol spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan alam gaib, menjadikan upacara Ngaben semakin sarat makna dan keindahan. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #burung cendrawasih #ngaben #Manawadharmasastra #hindu #bade #manuk dewata