BALIEXPRESS.ID- Sejumlah desa di Bali memiliki perjalanan sejarah tersendiri. Tak terkecuali Desa Tek Tek yang kini bernama Banjar Tek Tek di Peguyangan, Denpasar, Bali.
Dikutif dari Web Sejarah pemecutan blogspot.com, sejarah Desa Tek Tek tak terlepas dari perjalanan Mpu Ketek.
Diceritakan, Mpu Ketek mempunyai putra bernama Kiyai Agung Pasek Padang Subadra bertempat di lereng Gunung Lempuyang Karangasem.
Setelah mediksa, beliau bergelar Ki Dukuh Sakti sehingga sangat dihormati oleh penduduk setempat.
Beliau menurunkan 5 orang anak, yaitu Ki Pasek Subrata, Ki Pasek Tegalwangi, Ki Pasek Sadra Kusamba, Ki Pasek Suladri, dan Ki Pasek Kuru Badra.
Ki Dukuh Suladri berpindah tempat ke Sungai Melangit sehingga lama kelamaan tempat itu disebut Tirta Harum.
Di tempat itu Ki Dukuh Suladri mengasuh anak kecil bernama Sang Anggatirta yang selanjutnya menurunkan Kesatriya Taman Bali di Bangli.
Ki Dukuh Suladri memiliki beberapa keturunan yang kemudian tinggal di daerah Kesiman, Pahang Penatih dan Desa Intaran Sanur.
Sementara yang tinggal di daerah Kesiman menurunkan keturunan yang berpindah ke Serangan, Pecatu, Ungasan, Kedonganan dan Kelan.
Yang tinggal di Kedonganan mempunyai putra 2 orang yaitu I Wayan Kedonganan dan I Made Klan.
Kedua orang ini dididik oleh kedua orang tuannya untuk menjadi petani yang ulet.
Tidak berapa lama I Wayan Kedonganan memutuskan pindah ke Desa Pedungan. I Wayan Kedonganan menurunkan 2 orang Putra.
Karena sudah kehendak dari Yang Maha Kuasa maka I Wayan Kedonganan dan istrinya meninggal dunia ketika anaknya baru umur 4 tahun dan 2 tahun.
Untunglah ada orang yang berbaik hati mau mengasuh kedua anak tersebut.
Oleh karena itulah anaknya yang sulung dinamakan I Wayan Tektek.Tektek yang artinya tiwas atau miskin.
Sedangkan yang bungsu bernama dan I Made Pitik, yang artinya anak ayam (pitik) kehilangan induknya.
Lama kelamaan desa tempat tinggal I Made Pitik di daerah Pedungan dinamakan Desa Pitik.
Setelah meningkat dewasa, kedua anak tersebut dikagumi oleh penduduk setempat karena tingkah lakunya yang hormat dan suka menolong.
Karena tekatnya untuk maju dan mengubah nasibnya, maka kedua anak ini meninggalkan Desa Pitik menuju kearah utara.
Kedua remaja akhirnya menjumpai sebuah tegalan yang tidak ada penghuninya.
Tepat yang baru dijumpai tersebut menarik hati mereka sehingga bermaksud untuk tinggal dan bercocok tanam.
Karena di tempat tersebut ada bekas kubangan kerbau, sapi dan kuda dan banyak kotoran hewan, maka I Wayan Tektek mengambil kesimpulan bahwa tanah ini pasti subur.
Keduanya mulai membuka lahan perkebunan dan persawahan sehingga lama kelamaan tempat tersebut menjadi sangat makmur.
Para pendatang baru pun mulai berdatangan sehingga tempat tersebut menjadi suatu perkampungan.
Untuk menjaga ketertiban kampung tersebut maka dibangunlah Bale Banjar Tektekan yang terletak di sebelah selatan Desa Peguyangan.
Karena I Wayan Tektekan yang pertama kali membuka lahan tersebut maka oleh penduduk setepat beliau dipanggil Ki Dukuh Tektek.
Demikian pula tempat kubangan kerbau tersebut kemudian menjadi perkampungan sehingga diberi nama Peguyangan .
Desa Tektek, Peguyangan dan Peraupan adalah merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Badung.
Memburuknya hubungan antara Kerajaan Badung dan Mengwi berpengaruh terhadap daerah yang baru dibuka tersebut.
Desa Peraupan yang berada di sebalah timur Peguyangan merupakan daerah kekuasaan Kiyai Lanang Karang, putra Kiyai Lanang Cempaka dari Jero Tegal Denpasar.
Sebelumnya, Desa Peraupan berada di bawah kekuasaan I Gusti Pinatih Kiyai Lanang Karang.
Daerah tersebut sering terjadi pelanggaran karena merupakan perbatasan antara Kerajaan Badung dan Kerajaan Mengwi.
Atas kondisi tersebut, Ki Dukuh Tektek menghadap Ida Bhatara Sakti, Raja Pemecutan III.
Dia meminta salah seorang putra raja agar ditempatkan di wilayah tersebut untuk menjamin keamanan.
Setelah melalui pertimbangan yang matang maka Ida Bhatara Sakti memerintahkan salah satu putranya yaitu Kiyai Lanang Wayahan Lumintang pindah ke Desa Peguyangan dan mendirikan jero di tempat tersebut.
Kiyai Wayahan Lumintang diikuti 50 orang pilihan yang mempunyai kemampuan untuk beradaptasi di tempat tersebut.
Jero tersebut kemudan dibangun di sebelah timur jalan yang diberi nama Jero Gde Peguyangan.
Editor : Nyoman Suarna