BALIEXPRESS.ID - Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng, menyimpan sebuah tempat suci Hindu Bali yang penuh dengan keunikan dan misteri, yakni Pura Penyegaraan.
Berbeda dari pura lainnya, Pura ini hanya memiliki satu palinggih, yaitu Palinggih Ratu Bagus Ngurah Segara.
Namun, yang paling menarik adalah syarat khusus yang harus dipenuhi oleh masyarakat Desa Petandakan, terutama bagi mereka yang memiliki anak pertama di setiap generasi.
Tradisi Unik: Babi Guling Betina Sebagai Persembahan Wajib
Bagi warga Desa Petandakan, di mana pun mereka berada, jika memiliki anak pertama, wajib menghaturkan sesajen berupa babi guling betina ke Pura Penyegaraan.
Tokoh Desa Adat Petandakan, Putu Gelgel, menjelaskan bahwa tradisi ini tetap dijalankan meskipun belum ada catatan tertulis yang menjelaskan asal-usul sejarahnya.
“Belum ada dokumentasi tertulis tentang sejarah Pura Penyegaraan ini, meskipun kami sudah mencoba menelusuri di pusat Lontar Gedong Kertya,” ujar Putu Gelgel.
Meski begitu, tradisi ini terus dipertahankan, karena dipercaya jika tidak dilakukan, akan ada akibat berupa sakit berkepanjangan.
Asal Usul Palinggih dan Tradisi yang Masih Menjadi Misteri
Palinggih di Pura Penyegaraan ini dahulu terletak di bawah pohon asem keramat. Seiring berjalannya waktu, karena kondisinya yang sudah tua, palinggih tersebut roboh dan dibangun kembali seperti sekarang.
Menariknya, para tetua desa pun tidak mengetahui asal mula tradisi menghaturkan babi guling ini.
“Hingga sekarang, tidak ada yang tahu pasti bagaimana awal mula tradisi ini terbentuk. Namun, keyakinan terhadap tradisi tersebut sangat kuat dan dijalankan secara turun-temurun,” lanjut Putu Gelgel.
Akibat Jika Tidak Menjalankan Tradisi: Sakit yang Tak Kunjung Sembuh
Salah satu misteri dari Pura Penyegaraan adalah akibat yang terjadi jika tradisi menghaturkan babi guling ini dilupakan, terutama oleh anak pertama.
Putu Gelgel mengisahkan pengalaman banyak warga yang merantau, bahkan tinggal di luar negeri, yang mengalami sakit berkepanjangan karena lupa menjalankan tradisi tersebut.
“Banyak yang mengalami sakit misterius. Setelah berkonsultasi dengan paranormal, mereka disarankan untuk menghaturkan babi guling ke Pura Penyegaraan. Menariknya, setelah sesajen dihaturkan, mereka sembuh,” jelas Putu Gelgel.
Ia pun menambahkan, ada kasus seorang warga yang tinggal di luar negeri dan menderita sakit pada tangannya.
Setelah berbagai pengobatan medis gagal, akhirnya orang tersebut menghaturkan babi guling ke Pura Penyegaraan, dan penyakitnya sembuh.
Keunikan Pura Penyegaraan: Tidak Ada Pujawali, Hanya Tangkil di Purnama dan Tilem
Berbeda dengan pura lainnya, Pura Penyegaraan tidak memiliki pujawali khusus. Namun, pamedek (umat) ramai tangkil pada saat Purnama dan Tilem dengan membawa sesajen babi guling hitam berjenis kelamin betina.
Menurut Putu Gelgel, meskipun banyak pamedek dari luar Buleleng, leluhur mereka pasti berasal dari Desa Petandakan.
“Anak pertama dari tiap generasi, baik laki-laki maupun perempuan, wajib tangkil ke sini dan menghaturkan sesajen, bahkan jika mereka tinggal di luar desa atau luar negeri,” ungkapnya.
Makna Pura Penyegaraan: Penyembuhan dan Simbol Laut Dewa Wisnu
Menurut Putu Gelgel, nama "Penyegaraan" berasal dari kata "seger" atau "sembuh", yang menandakan bahwa pura ini menjadi tempat penyembuhan.
Selain itu, "segara" juga bermakna laut, yang merupakan simbol dari Dewa Wisnu. Oleh karena itu, babi hitam dipilih sebagai sesajen utama, karena warna hitam merupakan simbol Dewa Wisnu dalam Dewata Nawa Sanga.
Merekatkan Tali Kekerabatan Antar Generasi
Putu Gelgel berharap tradisi di Pura Penyegaraan ini mampu mempererat tali kekerabatan masyarakat Desa Petandakan yang tersebar di berbagai tempat.
“Harapan kami, dengan menjalankan tradisi ini, hubungan antar generasi semakin kuat dan tidak menjauh,” pungkasnya.
Misteri dan keunikan Pura Penyegaraan terus menjadi daya tarik tersendiri.
Bagi anak pertama dari setiap generasi, tradisi ini bukan hanya sebuah kewajiban, tetapi juga sebuah simbol kesetiaan pada leluhur yang tidak boleh dilupakan.
Apa yang akan terjadi jika tradisi ini dilanggar? Tampaknya, banyak yang percaya bahwa tidak ada yang berani mengambil risiko tersebut. ***
Editor : I Putu Suyatra