BALIEXPRESS.ID - Di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, berdiri sebuah tempat suci Hindu Bali yang sarat dengan aura mistis dan penuh dengan cerita legendaris, Pura Goa Raja Tajun.
Pura ini tidak hanya menyimpan keheningan dan kedamaian, tetapi juga berhubungan erat dengan kisah legenda Naga Gombang, yang dihukum karena gagal menelan Puncak Bukit Sinunggal.
Ketika Anda memasuki goa yang memiliki tinggi sekitar tiga meter ini, ketenangan yang menyelimuti terasa begitu kuat, meskipun letaknya berada di dekat air terjun yang mengeluarkan suara bergemuruh.
Di dalam goa, terdapat sebuah palinggih yang dijaga oleh tiga patung naga: Naga Taksaka (Iswara), Naga Anantaboga (Brahma), dan Naga Basuki (Wisnu).
Palinggih ini dipercaya sebagai stana Dewa Siwa, membuat setiap upacara melukat yang dilakukan di sini dipersembahkan langsung kepada Panca Dewata.
Keajaiban Tirta Pingit Sang Hyang Tunggal
Menurut Jero Nyoman Sukrai, mata air penglukatan di sini dikenal sebagai Tirta Pingit Sang Hyang Tunggal.
Air suci ini diyakini memiliki kekuatan untuk melebur segala dosa dan kekotoran (dasa mala), serta mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Yang unik, meski mata air ini tidak berasal dari pancuran, gentong yang berada di dalam goa selalu terisi penuh secara misterius, sebuah fenomena yang banyak dibuktikan oleh para pemedek.
Legenda Naga Gombang dan Hukuman Ilahi
Pura Goa Raja tak terpisahkan dari kisah Naga Gombang yang berusaha menyantap Puncak Bukit Sinunggal.
Diceritakan, dari Pulau Jawa, Naga Gombang melihat bukit tersebut terlihat kecil dan dengan sombongnya berniat menelan seluruh bukit.
Namun, ketika sampai di Bali, ia sadar bahwa bukit itu jauh lebih besar dari perkiraannya. Meskipun telah melilit bukit dengan segenap kekuatannya, Naga Gombang gagal.
Akibat kesombongannya, ia dihukum oleh Dewa yang berstana di Pura Bukit Sinunggal.
Kepala Naga Gombang dikisahkan berada di dasar jurang di Pura Goa Raja, sementara darah dan bagian tubuhnya tersebar di berbagai wilayah sekitar Desa Tajun.
Ritual Wajib Sebelum Tangkil ke Pura Bukit Sinunggal
Bagi para pemedek yang hendak melakukan persembahyangan di Pura Bukit Sinunggal, mereka diwajibkan melakukan penglukatan atau melukat terlebih dahulu di Pura Goa Raja.
Setelah menjalani prosesi pembersihan diri, barulah mereka melanjutkan sembahyang ke Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha dan kemudian ke Pura Bukit Sinunggal.
Jero Mangku Nyoman Sukrai menegaskan, tidak ada aturan khusus mengenai sarana yang harus dibawa saat melukat di Pura Goa Raja.
Bahkan, canang sari sederhana sudah cukup selama niat pemedek tulus.
"Yang paling penting adalah niatnya, kami hanya memfasilitasi," ujarnya.
Kisah mistis Pura Goa Raja dan Naga Gombang ini membuat banyak orang penasaran untuk datang dan merasakan sendiri keajaiban serta ketenangan yang ditawarkan oleh pura ini.
Apakah benar keajaiban Tirta Pingit Sang Hyang Tunggal mampu menghapus dosa dan menyembuhkan penyakit?
Temukan jawabannya dengan mengunjungi Pura Goa Raja Tajun dan rasakan langsung suasana magis yang melingkupinya. ***
Editor : I Putu Suyatra