BALIEXPRESS.ID – Terbetuknya nama Desa Jagapati, di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung melalui sejarah panjang pada zaman kerajaan.
Dilansir dari desajagapati.badungkab.go.id. yang bersumber dari Babad Mengwi dari Puri Agung Belang dan cerita turun-temurun dari tokoh masyarakat setempat, sejarah Desa Jagapati bermula sekitar tahun 1300.
Ketika itu seorang bangsawan dari Majapahit bernama I Gusti Ngurah Pinatih datang ke Bali bersama para pengikutnya.
Saat itu Bali masih berupa hutan belantara. Dalam perjalanannya, I Gusti Ngurah Pinatih merasa sangat lelah dan memutuskan untuk beristirahat.
Tempat ia beristirahat kemudian dijadikan tempat suci bernama Pura Jenggala, yang sekarang berada di Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.
Nama "Jenggala" berasal dari kata "mejanggelan," yang dalam bahasa Bali berarti istirahat.
Suatu malam, ketika bulan berada di fase Sasih Kepitu, I Gusti Ngurah Pinatih mendengar sabda dari angkasa yang memerintahkannya untuk pergi ke selatan.
Ia diminta untuk mengikuti cahaya api yang akan menunjukkan tempat tinggalnya yang baru.
Setelah melihat sinar tersebut, ia bergegas mengejarnya. Namun, cahaya tersebut tidak jatuh ke tanah, melainkan bertengger di atas pohon besar yang akarnya dililit banyak ular.
Ketika mendekati pohon itu, cahaya berubah menjadi sebuah tombak yang kemudian diambil oleh I Gusti Ngurah Pinatih untuk dijadikan pusaka.
Keesokan harinya, I Gusti Ngurah Pinatih memerintahkan para pengikutnya untuk menebang hutan dan mendirikan sebuah puri.
Baca Juga: Tahun 2025, DPRD Badung Agendakan Hanya Dua Perda Inisiatif
Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Puri Bun, dan I Gusti Ngurah Pinatih mengganti namanya menjadi I Gusti Ngurah Bija Bun.
Nama "Bun" berasal dari kata ular dalam bahasa setempat, yang merujuk pada peristiwa ular-ular yang melilit pohon besar tempat sinar api muncul.
Seiring waktu, warga dari Puri Bun sering berbelanja di Pasar Pengumpian, yang berada di wilayah Kerajaan Pengumpian.
Namun, terjadi konflik antara warga Bun dan warga Pengumpian, yang berujung pada laporan kepada Raja Pengumpian.
Merasa terganggu, Raja Pengumpian memerintahkan pengusiran warga Bun dari wilayahnya.
Mendengar hal ini I Gusti Ngurah Bija Bun marah dan memerintahkan melakukan penyerangan ke Kerajaan Pengumpian.
Dalam pertempuran tersebut, Raja Pengumpian tewas, dan pengikutnya melarikan diri ke daerah Tumbak Bayuh, Kauripan, dan Beraban.
Setelah peristiwa tersebut, Kerajaan Bun di bawah kepemimpinan I Gusti Ngurah Bija Bun mengalami masa damai dan kesejahteraan.
Pendeta kerajaan saat itu adalah Ida Pedanda Mabian beserta putra-putranya.
Setelah beberapa lama, terjadi perselisihan antara I Gusti Ngurah Bija Bun dan putranya, I Gusti Ngurah Putu Bija Bun, mengenai perebutan wilayah kekuasaan.
Meski Raja Mengwi berusaha menengahi, perang tetap tak terhindarkan.
Sebelum perang pecah, I Gusti Ngurah Putu Bija Bun menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada ayahnya, sehingga pertempuran antara ayah dan anak itu dibatalkan.
Baca Juga: Viral Video Wikwik 29 Detik di Pantai Mandalika, Polisi Buru Pelaku dan Pengunggah Video
Karena insiden tersebut batal, dan dalam bahasa Bali istilah "Jaga Kesedayang/Kepatiang" yang berarti berniat membunuh anak, kemudian berkembang menjadi "Jagapati," yang akhirnya menjadi nama desa ini hingga sekarang.
Editor : Nyoman Suarna