Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pelawah Kemong di Desa Bulian Dulu Jadi Tempat Sabung Jelema, Ada Pelinggih Pelawah  

I Putu Mardika • Kamis, 3 Oktober 2024 | 04:58 WIB

Pura Plawah Kemong Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan
Pura Plawah Kemong Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan
BALIEXPRESS.ID-Pura Pelawah Kemong menjadi salah satu pura tua yang bisa ditemukan di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali. Konon dalam kepercayaan masyarakat lokal, dulu di pura ini menjadi tempat tajen jelema atau sabung manusia.

Jika dilihat secara struktur, pura ini hanya memiliki eka mandala atau terdiri dari satu halaman saja. Konsep ini melambangkan Eka Bhuana.

Di Pura ini terdapat sejumlah pelinggih diantaranya Padmasana atau Surya, Palinggih Ratu Ngurah Pasek (Pelawah Kemong), Palinggih Piyasan, Palinggih Taksu Palinggih Apit Lawang.

Pemangku di Pura Pelawah Kemong, Jro Prewayah Kadek Metrawan menjelaskan tidak ada catatan tertulis yang mengulas tentang keberadaan pura ini.

Namun, masyarakat setempat meyakini jika Pura Pelawah Kemong diperkirakan keberadaannya berawal dari saat desa Banyubuah (Bulian sekarang) diserang oleh bajak laut asing (Inggris).

Sebagian desa dihancurkan, harta kekayaan dirampas, namun pendekar-pendekar Bulian bertahan dengan gigih. Berkat kegigihannya, pendekar Bulian pun berhasil mengusir mereka (bajak laut) meskipun banyak terjadi korban.

Baca Juga: Supit Tampung Aspirasi Pedagang Pasar Anyar, Keluhkan Retribusi dan Akses Pasar

Beberapa puluh orang bajak laut yang ditangkap, ditawan di suatu tempat.

Bahkan satu persatu dari mereka yang ditawan tersebut kemudian diadu kekuatannya dengan sesama temannya seperti orang mengadu ayam.

“Itulah pangkal cerita yang menyatakan bahwa di desa Bulian dulu pernah diadakan Tajen Jeleme atau sabung manusia. Mereka yang diadu itu adalah tawanan dari Bajak Laut yang mengganggu Desa Bulian” jelasnya.

Jro Prewayah Kadek Metrawan menambahkan, konon Pelawah Kemong yang ada di desa Bulian ini, dulunya merupakan sebuah alat yang digunakan sebagai saye atau juri dalam pelaksanaan tajen jelema atau sabung manusia.

Dalam pelaksanaan tajen jelema tersebut Pelawah Kemong akan selalu dibunyikan (dipetuk) sebagai pertanda dimulainya dan diakhirinya tajen jelema (sabung manusia).

Sekaligus pula sebagai penentu siapa yang menang dan kalah dalam tajen jelema (sabung manusia) tersebut.

Baca Juga: PAS Janji Tuntaskan Infrastruktur Jalan di Desa Tegalinggah Menuju Wanagiri

Dalam pelaksanaan tersebut akan diberikan peresan (tetesan) jeruk linglang yang menyebabkan orang tersebut hidup kembali.

Akan tetapi, seiring perubahan zaman dan berkembangnya pola pikir masyarakat desa Bulian, akhirnya tajen jelema (sabung manusia) tidak dilaksanakan lagi sampai sekarang.

Setelah tidak pernah dilaksanakan tajen jelema (sabung manusia) tersebut, saat ini tinggallah peninggalan berupa pelawah dan kemong yang dulunya digunakan sebagai saye atau juri dalam pelaksanaan tajen jelema.

Pelawah dan Kemong tersebut dikeramatkan dan disungsung oleh masyarakat desa Bulian dan desa Menyali sebagai rasa hormat dan bakti kepada Ratu Ngurah Pasek sebagai penguasa wilayah Bulian pada waktu itu, yang dipercaya berstana di pura Pelawah Kemong.

Pada saat ini di pura Pelawah Kemong di Desa Bulian hanya terdapat Pelawahnya saja, sedangkan Kemongnya terdapat di desa Menyali. Hal ini disebabkan karena dahulu desa Bulian dan Desa Menyali tergabung menjadi satu yang bernama desa Banyubuah.

Baca Juga: Pembuatan Tanda Daftar Pura, Kemenag Gianyar Gencar Sosialisasi ke Bendesa Adat

Setelah desa Banyubuah pecah menjadi dua desa yaitu desa Bulian dan desa Menyali, hal ini ini menyebabkan Pelawah dan Kemong yang dulunya disungsung secara bersama-sama, dimana Pelawah disungsung oleh masyrakat desa Bulian yang saat ini berada di pura Pelawah Kemong. Sedangkan Kemongnya berada di desa Menyali.

Sebelum berdirinya pura Pelawah Kemong di desa Bulian, pelawah yang berupa batu ini masih berada di pinggir jalan.

Pada suatu hari terjadi sebuah perkelahian antar warga di desa Bulian yang hampir mengakibatkan jatuhnya korban.

“Dari kejadian tersebut warga masyarakat di desa Bulian meyakini perkelahian disebabkan karena peninggalan berupa pelawah dari tajen jelema tersebut belum ditempatkan di tempat yang layak, sehingga masyarakat desa Bulian sepakat untuk membuatkan sebuah pelinggih yang saat ini diberi nama pura Pelawah Kemong,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#tajen #pura #kubutambahan #Bulian #Pelawah Kemong