BALIEXPRESS.ID - Keberadaan Desa Bali Aga di Buleleng selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Tradisi dan ritual Hindu Bali yang digelar di desa ini memiliki keunikan tersendiri, berbeda dengan desa pakraman pada umumnya.
Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Ngaben di Desa Pakraman Cempaga, yang memancarkan keunikan tersendiri dalam setiap prosesi dan perlengkapannya.
Ngaben Tanpa Bade, Hanya Banten Bangun Urip
Ngaben di Desa Cempaga, yang merupakan salah satu dari empat Desa Bali Aga di Kecamatan Banjar, Buleleng, berbeda dari Ngaben di daerah lain di Bali.
Di sini, prosesi pengabenan tidak menggunakan bade atau wadah sebagai sarana pengantar jasad menuju setra (kuburan).
Sebaliknya, cukup dengan menggunakan Banten Bangun Urip yang terbuat dari daging babi goreng.
Hal ini membuat pengabenan di Desa Cempaga tidak memiliki prosesi pembakaran seperti yang umum dilakukan dalam upacara Ngaben di desa-desa lainnya.
Prosesi di Wantilan, Bukan di Kuburan
Selain tidak menggunakan bade, keunikan lainnya terletak pada lokasi pelaksanaan upacara.
Di Desa Cempaga, seluruh prosesi pengabenan dilaksanakan di wantilan desa, bukan di setra atau kuburan seperti yang biasa dilakukan oleh desa pakraman lainnya.
Upacara ini merupakan simbol kebersamaan dan rasa hormat terhadap leluhur yang telah berpulang.
Pengabenan Massal yang Diikuti Puluhan Keluarga
Putu Suarjaya, Tokoh Desa Cempaga, menjelaskan bahwa tradisi pengabenan di desa ini wajib dilakukan setiap lima tahun sekali, dan tidak boleh lebih atau kurang dari lima tahun.
Meskipun tidak ada catatan tertulis mengenai sejarah ritual ini, tradisi tersebut dilaksanakan secara turun-temurun dengan keyakinan yang kuat oleh warga desa.
Banten Bangun Urip, Simbol Kehidupan Baru
Menurut Suarjaya, yang menjadi ciri khas dalam pengabenan ini adalah penggunaan Banten Bangun Urip, yang dibuat dari daging babi hitam mulus dan diolah menjadi sate.
Daging tersebut kemudian disusun di atas nasi yang menyerupai kuburan. Bagi masyarakat Desa Cempaga, Banten ini merupakan simbol dari jasad yang telah berpulang, dan satu ekor babi biasanya digunakan untuk satu sawa.
Setelah banten selesai disusun, mereka akan ditempatkan di bale (tempat khusus) yang telah disiapkan oleh keluarga.
Foto almarhum juga diletakkan di dekat banten tersebut sebagai tempat bagi roh untuk "distanakan" sementara sebelum menuju ke alam keabadian.
Pengabenan Bayi dengan Ritual Sederhana
Jika yang diaben adalah bayi, maka prosesnya sedikit berbeda. Untuk bayi yang sudah berusia lebih dari tiga bulan, Banten Bangun Urip masih digunakan.
Namun, jika bayi meninggal sebelum usia tiga bulan, cukup dilakukan upacara ngerapuh, tanpa perlu banten khusus.
Menek Pangkonan, Simbol Kebersamaan dan Kesakralan
Pada puncak acara, dilaksanakan prosesi menek pangkonan, yang menyerupai acara makan bersama atau magibung.
Prosesi ini melibatkan tokoh-tokoh desa, pemimpin upacara, serta pejabat pemerintahan jika hadir.
Mereka makan bersama sebagai saksi atas terselenggaranya upacara pengabenan. Dalam acara ini, hidangan khas seperti lawar mancawarna dari olahan daging babi disajikan, bersama dengan sate, daging goreng, serta tuak, arak, dan kue tradisional.
Prosesi ini tak hanya melibatkan kaum laki-laki, namun juga perempuan, dan dianggap sebagai simbol kebersamaan serta upaya memupuk persaudaraan antarwarga agar tradisi ini tetap lestari di masa mendatang.
Ritual Tanpa Sulinggih, Dipimpin oleh Balian Desa
Menariknya, upacara pengabenan massal ini tidak dipimpin oleh seorang sulinggih (pendeta Hindu), melainkan oleh Balian Desa dan pemangku desa.
Meski begitu, tujuan ritual ini tetap sama, yaitu mendoakan agar roh yang telah meninggal dapat kembali ke asalnya serta memohon kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Pengabenan Tanpa Api, Filosofi Wisnu dalam Kehidupan
Tidak seperti upacara Ngaben pada umumnya yang menggunakan api sebagai simbol pemurnian, di Desa Cempaga, api tidak digunakan.
Desa ini menganut ajaran Wisnu, bukan Siwa, yang lebih umum di desa-desa lain. Bahkan, Desa Cempaga tidak memiliki Pura Dalem atau Pura Puseh, melainkan hanya Pura Desa.
“Sudah turun-temurun seperti ini. Kami tidak menggunakan sarana api seperti di tempat lain, karena ajaran kami Wisnu. Kami hanya memiliki Pura Desa,” pungkas Suarjaya.
Ritual pengabenan unik di Desa Cempaga ini bukan hanya sekadar prosesi, tetapi merupakan refleksi dari nilai-nilai spiritual dan kebersamaan yang telah terjaga selama berabad-abad, sebuah tradisi yang penuh makna dan patut untuk terus dipertahankan. ***
Editor : I Putu Suyatra