BALIEXPRESS.ID - Ritual Sapuh Leger dalam tradisi Hindu Bali erat kaitannya dengan cerita legenda tentang Bhatara Kala dan Bhatara Kumara, kisah raksasa yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat Bali.
Terutama, bagi orang tua yang memiliki anak lahir pada wuku wayang atau tumpek wayang, rasa khawatir dan ketakutan sering kali muncul.
Namun, mengapa upacara Sapuh Leger dan Mabayuh dianggap begitu penting bagi anak-anak yang lahir di waktu tersebut?
Asal Usul Ritual dari Dongeng Mistis
Menurut kisah yang termuat dalam Geguritan Sudamala, anak-anak yang lahir pada wuku wayang dan tidak melakukan ritual Mabayuh akan mengalami penderitaan sepanjang hidupnya.
Mereka disebut akan menghadapi gering agung (penyakit parah) dan selalu menjadi korban fitnah.
Hal ini disampaikan oleh Ida Bagus Adi Supartha, penyelenggara ritual Sapuh Leger massal di Griya Beng Gianyar.
Cerita ini bermula dari kelahiran Bhatara Kala, sosok raksasa yang lahir dari hubungan terlarang Dewi Uma di dunia.
Dewi Uma, yang dikutuk menjadi Dewi Durga oleh Dewa Siwa, melahirkan Bhatara Kala.
Ketika Bhatara Kala bertanya apa yang bisa ia makan, Dewa Siwa memberi izin kepadanya untuk memakan anak-anak yang lahir pada hari kelahirannya, yakni wuku wayang.
Karena inilah, ritual Sapuh Leger diyakini sebagai cara untuk melindungi anak-anak yang lahir pada waktu tersebut dari bahaya Bhatara Kala.
Pentingnya Ritual Sapuh Leger Menurut Para Ahli
Menurut Supartha, Sapuh Leger memiliki makna yang mendalam. Secara filosofis, "kala" berarti waktu, dan Mabayuh adalah cara untuk membersihkan diri dari "kekotoran waktu," seperti kesalahan atau penyesalan dari masa lalu.
"Sapuh Leger berasal dari dua kata, yakni Sapuh yang berarti pembersihan, dan Leger yang merujuk pada unsur duniawi yang perlu disucikan," jelasnya.
Ritual ini biasanya dilakukan bagi mereka yang lahir pada wuku wayang, yang dalam kepercayaan Hindu Bali dianggap membawa cemer, mala (sial), dan melik (ketidakseimbangan).
Upacara ini dipercaya dapat membersihkan anak-anak dari pengaruh negatif, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik dan harmonis.
Pendapat Para Ahli Spiritual Tentang Bahaya Tidak Melakukan Ritual
Dr. I Komang Indra Wirawan, S.Sn., M.Fil.H, seorang ahli spiritual, juga menyampaikan pentingnya melakukan Pabayuhan dan Sapuh Leger bagi mereka yang lahir di wuku wayang.
Menurutnya, anak-anak yang lahir pada wuku tersebut sangat dipengaruhi oleh kekuatan spiritual Siwa, sehingga ritual ini diperlukan untuk menetralkan sifat ruwabhineda atau dualitas yang ada dalam diri mereka.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, seorang rohaniawan dan dosen di UHN Sugriwa Denpasar.
Menurutnya, anak-anak yang lahir pada tumpek wayang dianggap memiliki mala atau sial karena lahir pada hari yang kurang baik.
Untuk menghindari kesialan ini, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual), diperlukan pabayuhan dan ruatan.
“Ketika kita merasa kotor, kita akan merasa sial dan hidup terasa berat. Maka, Mabayuh adalah cara untuk membersihkan jiwa, raga, dan pikiran kita agar hidup lebih ringan dan tujuan kita lebih mudah tercapai,” jelasnya.
Kekhawatiran Orang Tua yang Memiliki Anak Melik
Kekhawatiran ini dirasakan oleh banyak orang tua, seperti yang dialami oleh Dwi Ristani, ibu dari tiga anak.
Anak sulungnya yang lahir di wuku wayang membuatnya merasa cemas. Meski secara sekala, tidak tampak ada kelebihan yang dimiliki, namun secara niskala, ia percaya ada perbedaan.
"Saya sangat khawatir karena anak-anak yang terlahir melik sering kali dianggap memiliki umur pendek. Makanya, saya ingin segera melakukan Mabayuh dan Sapuh Leger untuk anak saya," ujarnya.
Ritual Sapuh Leger tidak hanya sebatas upacara tradisi, melainkan memiliki filosofi mendalam yang dipegang erat oleh masyarakat Bali.
Bagi mereka yang lahir di wuku wayang, upacara ini dianggap sebagai cara untuk membebaskan diri dari kesialan dan pengaruh buruk, sehingga kehidupan mereka dapat berjalan lebih baik dan seimbang. ***