BALIEXPRESS.ID – Pada rahina Tilem Sasih Kesanga, warga Desa Adat Lepang, Desa Takmung, Banjarangkan, utamanya para pemuda, melaksanakan tradisi unik bernama siat sampian di depan Pura Penyimpenan desa setempat.
Tradisi umat Hindu Bali ini digelar sebelum para pemuda mengarak ogoh-ogoh berkeliling desa.
Sesuai namanya, siat sampian menggunakan sarana sampian yang telah disediakan oleh pihak desa adat setempat.
Nantinya, sarana tersebut akan dilempar ke masyarakat yang mengikuti jalannya prosesit.
Biasanya siat sampian ini dilaksanakan setelah sesuhunan di sana ngider bhuana (keliling desa) dan persembahyangan telah usai.
Bendesa Adat Lepang, I Made Merta menjelaskan, tradisi ini rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali.
Tujuannya tidak lain untuk mengusir hawa negatif di dalam tubuh diri masing-masing.
“Secara spiritual, kita usir semua energi negatif di bhuana alit (tubuh). Tetap kita lestarikan,” ujarnya belum lama ini.
Namun ditegaskan olehnya, tidak ada batasan bagi yang ingin mengikuti prosesi tersebut.
Sekalipun sudah berkeluarga dan berumur, kalau masih berkeinginan untuk bergabung, dipersilakan.
“Tidak hanya pemuda saja, siapa yang mau ikut diperbolehkan,” tandasnya.
Meskipun ‘berperang’ yang notabene adalah saling lempar sampian dengan sekuat tenaga, namun para peserta tidak boleh menyimpan rasa dendam.
Sejauh ini memang tidak ada yang sampai dendan dan berkelahi jika terkena lemparan sampian.
Itu bisa dilihat dari raut wajah para peserta usai melaksanakan tradisi tersebut yang terlihat ceria.
“Tidak ada dendam dalam pelaksanaan itu, semuanya baik-baik saja,” lanjut Merta.
Setelah siat sampian berakhir, barulah para pemuda kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri mengarak ogoh-ogoh.
Editor : Nyoman Suarna