Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kain Tenun Songket Jinengdalem Pernah dipakai Presiden Jokowi, Masih Gunakan Cag Cag  

I Putu Mardika • Minggu, 13 Oktober 2024 | 20:32 WIB

 

Tenun Songket Jinengdalem
Tenun Songket Jinengdalem
BALIEXPRESS.ID-Songket Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng sudah melanglang buana ke seantero negeri.

Kain tradisional ini bahkan pernah digunakan Presiden Joko Widodo pada tahun 2019 lalu saat acara Kongres PDIP ke V yang berlangsung di Bali. Lantas apa yang membuat songket khas Jinengdalem ini menjadi begitu istimewa?

Seperti diketahui, Desa Jinengdalem merupakan salah satu desa penghasil kerajinan tenun songket utamanya dengan bahan baku benang sutra selain benang emas.

Meski persaingan makin ketat, kain songket yang diproduksi di desa tersebut, tetap dicari konsumen hingga saat ini.

Jika dilihat secara seksama, proses tenun songket oleh kelompok pengrajin songket dilakukan melalui alat tenun cag-cag.

Kelompok pengrajin songket di Desa Jinengdalem selama ini masih minim dalam produksi kain tenun songket.

Hal ini terjadi karena minimnya alat tenun cag-cag yang selama ini dipandang sebagai alat yang masih memberikan kualitas proses penenunan dibandingkan alat tenun bukan mesin.

Salah seorang pengrajin tenun songket Jinengdalem, Ni Ketut Sriponi, 48 menjelaskan jika dirinya memang menekuni bisnis songket sejak tahun 2012 silam. Kala itu, ia memang memngawali sebagai sorang pengrajin songket.

Baca Juga: Tari Ijang Kidung Keli di Tigawasa Ditarikan saat Usaba Kuningan Nadi, Simbol Syukur dan Kegembiraan

Bahkan, sampai saat ini para pengrajin yang ia rangkul jumlahnya mencapai puluhan orang. Rata-rata mereka merupakan ibu rumah tangga yang nyambi mencari uang tambahan sebagai penenun kain songket.

Kendati sebagai kain tradisional, namun Sriponi tak menampik jika tenun songket khas Jinengdalem memiliki peminat yang cukup tinggi.

Tak pelak, agar tetap diminati, pihaknya pun melakukan berbagai inovasi dari sisi desain dan peningkatan kualitas motif

Ia menyebut, para pengrajin di Desa Jinengdalem mengakui bahwa mereka merasa tidak akan kalah bersaing dengan pengrajin dari kabupten lainnya.

“Karena produksi tenun songket khas Desa Jinengdalem memiliki motifnya sendiri (khas Buleleng) dan tidak mungkin akan disamakan dengan motif di luar Kabupaten Buleleng,” jelasnya.

Selama ini, pengraji lebih memilih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) atau cag cag untuk memproduksi kain songket.

Penggunaan cag cag juga diyakini mampu menghasilkan kain yang berkualitas.

Salah satu kualitas songket adalah terletak pada proses pewarnaan.

Baca Juga: Puri-puri di Klungkung Bersatu, Deklarasikan Dukungan untuk Paslon Koster-Giri dan Satria-Tjok Surya

Selama ini proses pewarnaan songket yang dilakukan pengrajin di Desa Jinengdalem adalah melalui pewarnaan kimia, sementara minat konsumen songket cenderung lebih suka dengan warna-warna alam yang menimbulkan kesan eksklusif dan klasik.

“Sedangkan proses pewarnaan bahan baku songket berupa benang, tidak dilakukan sendiri oleh pengrajin sehingga lebih menambah biaya produksi songket dan berdampak terhadap harga jual songket,” sebut pemilik Galeri Poni’s ini.

Jenis-jenis kerajinan tenun songket yang dihasilkan oleh perajin Desa Jinengdalem adalah kain, kemben, saput atau kampuh, ada juga beberapa jenis yang lainnya seperti selendang.

Ada juga kain taplak meja. Semua jenis produk ini sebagai ciri produksi perajin Jinengdalem.

Harga sepotong kain songket pun cukup fantastis. Yakni bisa tembus mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 6 jutaan. Ukurannya mulai dari panjang 2 meter dan lebar 1,1 meter. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#cag cag #tenun ikat #songket #desa jinengdalem #buleleng