BALIEXPRESS.ID - Sejarah berdirinya Desa Penatih yang berada di Kota Denpasar Bali, tak terlepas dari perjalanan spiritual Maha Rsi Markandya.
Dikutif dari ebooks.denpasartourism.com, konon dalam perjalanan ke Bali, Rsi Markandya diiringi para muridnya, salah satunya bernama Bhujangga Sari.
Mereka membangun Pura Gunung Raung dan Pura Payogan, serta mendirikan Pura Tangga Hyang Api di tepian Sungai Oos.
Dalam perjalanan spiritualnya, Bhujangga Sari berkeinginan untuk mendirikan pasraman di sebuah tanah yang dikenal dengan sebutan Tanah Putih.
Ternyata tanah tersebut telah dihuni oleh masyarakat Bali Aga dari daerah Taro. Pura yang didirikan di Tanah Putih ini dinamakan Pura Payogan Hyang Api, yang menjadi tempat pemujaan tri sakti dan pusat pemujaan pakraman.
Tanah Putih ini kemudian menjadi cikal bakal nama Penatih, yang berasal dari kata "pinih" dan "tih" yang berarti "pertama".
Setelah Bali ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit pada abad XIV Masehi, Patih Gajah Mada, atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi, mengutus Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) sebagai Adipati Bali.
Bersama beberapa pengiring, seperti Arya Kanuruhan, Arya Demung, Arya Belog, dan lain-lain, Dalem Ketut Kresna memboyong sejumlah pasukan, termasuk 35.000 rakyat dari Arya Buleteng.
Wilayah Penatih kemudian dipimpin oleh Arya Wang Bang Pinatih, yang bergelar Kyai Anglurah Pinatih Mantra.
Di bawah kekuasaan Kyai Anglurah Penatih Mantra, Penatih mengalami banyak perubahan, terutama dalam pembangunan bangunan suci.
Pura Payogan Hyang Api yang telah ada sejak masa Bhujangga Sari ikut dipugar. Pura tersebut ditambah dengan beberapa palinggih leluhur (kawitan), seperti Palinggih Manik Angkeran, Palinggih Dukuh Blatungan, Palinggih Padma Siwa, dan Palinggih Padma Budha (Padma Kurung).
Penambahan dua Palinggih (Siwa dan Budha) ini merupakan penghormatan terhadap leluhur mereka, Mpu Sidhimantra, penganut ajaran Budha, dan Mpu Sedah, penganut ajaran Siwa.
Setelah pemugaran dan penambahan palinggih, nama Pura Payogan Hyang Api diubah menjadi Pura Penataran Agung Penatih.
Nama ini memiliki makna yang mendalam: "Pura" artinya tempat yang disucikan, "Penataran" berarti yang dimiliki oleh penguasa, dan "Penatih" adalah nama wilayah serta nama penguasanya saat itu.
Saat ini, Pura Penataran Agung Penatih diwarisi kepada warga masyarakat Desa Pakraman/Adat Penatih, yang memuja pura ini sebagai Kahyangan Tunggal dan sebagai Kawitan Arya Wang Bang Pinatih.
Editor : Nyoman Suarna