Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakralnya Tradisi Sang Hyang Sampat di Desa Pakraman Puluk Puluk: Ritual Penangkal Hama dalam Pertanian Subak

I Dewa Gede Rastana • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 14:09 WIB
Sang Hyang Sampat
Sang Hyang Sampat

BALIEXPRESS.ID - Bali, selain dikenal dengan keindahan alamnya, juga memiliki warisan budaya pertanian yang mendalam, salah satunya adalah sistem Subak yang sudah dikenal dunia.

Dalam menjalankan sistem ini, umat Hindu di Bali berpegang teguh pada filosofi Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama makhluk hidup, dan alam.

Namun, bagaimana implementasi dari filosofi ini dalam keseharian para petani? Di balik tiap langkah pertanian, ada serangkaian ritual sakral yang menyertainya.

Sebelum menanam padi, petani Bali melaksanakan berbagai upacara, mulai dari Ngendagin, upacara saat pencangkulan pertama, hingga Ngawiwit ketika benih mulai ditabur.

Selanjutnya, mereka mengadakan ritual Mapag Toya sebelum pengolahan tanah, dan upacara Mamula atau Nandur ketika menanam padi.

Seiring pertumbuhan padi, upacara Neduh dilakukan pada saat usia tanaman mencapai satu bulan dengan harapan terlindung dari hama.

Namun, yang paling menarik adalah upacara Nangkluk Merana, yang dilakukan sebelum panen tiba.

Ritual ini memiliki tujuan khusus: melindungi padi dari serangan hama. Di Desa Pakraman Puluk Puluk, Tabanan, tradisi turun-temurun ini tetap dijaga dengan gelaran ritual Nedunang Sang Hyang Sampat, yang berlangsung setiap musim tanam padi Bali (padi taun).

Ritual ini diadakan setiap tahun sebelum acara besar Ngusabe Gede di Pura Bedugul.

Konon, Sang Hyang Sampat diyakini muncul pada era pra-Hindu, terkait dengan mitos pertempuran Raja Ki Ngurah Panji Sakti dari Buleleng.

Ketika sang raja mencoba memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah Tabanan, terjadi peristiwa tragis di Pura Batukaru yang merenggut nyawa Patih Gusti Kesunaran, penjaga pura tersebut.

Wafatnya patih ini memicu wabah penyakit yang menyerang masyarakat, hewan, dan tanaman, termasuk padi. Untuk meredam wabah, Sang Hyang Sampat diciptakan sebagai pelindung tanaman di desa tersebut.

Upacara Sang Hyang Sampat sendiri dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan pusat acara di Pura Bale Agung.

Dua wujud Sang Hyang Sampat, Lanang (laki-laki) dan Istri (perempuan), diarak berkeliling Subak Puakan yang terdiri dari enam tempek.

Ritual ini begitu sakral, di mana Sang Hyang Sampat yang telah diberkahi akan bergerak tanpa kendali, diiringi oleh suara lonceng dan para pengiring yang dengan setia mengikuti pergerakannya, bahkan melintasi sawah, sungai, hingga cuaca ekstrem.

Pergerakan Sang Hyang Sampat dianggap memiliki kekuatan gaib, dan selama prosesi, Sang Hyang Sampat mampu membedakan areal sawah mana yang belum diberkati.

Menariknya, lidi yang digunakan dalam ritual ini juga memiliki makna khusus. Jumlah lidi pada Sang Hyang Sampat Lanang adalah 108, yang melambangkan Tuhan dan penjuru dunia, sementara Sang Hyang Sampat Istri memiliki 99 lidi yang juga mengacu pada penjuru dunia.

Secara spiritual, lidi ini berfungsi membersihkan dan melindungi tanaman dari pengaruh negatif.

Prosesi ini juga dimeriahkan dengan lantunan tembang sakral yang mengiringi perjalanan Sang Hyang Sampat saat mengelilingi areal persawahan.

Di akhir perjalanan, Sang Hyang Sampat akan dibawa kembali ke Pura Bale Agung setelah semua area Subak diberkati, biasanya pada hari ketiga.

Sebelum disineb, tembang khusus kembali dilantunkan, menambah kesakralan suasana.

Menurut Pakaseh Subak Puakan, I Wayan Sukayadnya, tradisi ini sangat penting bagi kesejahteraan desa. Selain menjelang panen, Sang Hyang Sampat juga tedun setiap enam bulan sekali dalam rangka pura pujawali.

Dengan prosesi ini, para petani berharap agar hasil panen mereka berlimpah dan terhindar dari hama, membawa kemakmuran bagi seluruh warga desa.

Bagaimana Sang Hyang Sampat mampu membedakan sawah yang belum diberkati? Dan apa rahasia di balik pergerakan tak terkendali Sang Hyang Sampat? Temukan jawabannya dalam ritual yang memukau ini. *** 

 

 

Irish Bella menikah lagi untukbyang kedua
Irish Bella menikah lagi untukbyang kedua
Haldy Sabri suami baru Irish Bella
Haldy Sabri suami baru Irish Bella
Pernikahan Irish Bella dan Haldy Sabri
Pernikahan Irish Bella dan Haldy Sabri
Pernikahan Irish Bella dan Haldy Sabri
Pernikahan Irish Bella dan Haldy Sabri
Suasana pernikahan Irish Bella dan Haldy Sabri
Suasana pernikahan Irish Bella dan Haldy Sabri
Photo
Photo
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #sang hyang sampat #hindu #pertanian #tradisi #Subak #tabanan