Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Undagi: Arsitek Tradisional Bali dengan Proses Sakral dan 10 Fakta Menarik yang Tak Banyak Diketahui

I Putu Suyatra • Minggu, 20 Oktober 2024 | 15:18 WIB
Prosesi undagi di Bali.
Prosesi undagi di Bali.

BALIEXPRESS.ID - Sebelum seseorang dapat menyandang profesi sebagai Undagi, arsitek tradisional Bali, ada sebuah proses pembersihan yang harus dijalani, baik secara skala maupun niskala.

Terlebih lagi bagi mereka yang secara khusus membuat Wadah atau Bade untuk upacara Ngaben, proses ini menjadi semakin penting dan sakral.

Sebagai seorang Undagi, tidak hanya ilmu rancang bangun yang harus dikuasai, tetapi juga seni, budaya, adat, dan agama Hindu Bali.

Hal ini menjadi keharusan karena karya yang dihasilkan harus sejalan dengan konsep Tri Hita Karana.

Dengan begitu, seorang Undagi tidak hanya mematuhi aturan Asta Kosala Kosali, tetapi juga menjalani prosesi penyucian diri, yang menambah keunikan dan kerumitan profesi ini.

Rahasia di Balik Profesi Undagi yang Sarat Nilai Adat dan Budaya

Undagi adalah perwujudan arsitek tradisional Bali yang diayomi oleh Bhagawan Wiswakarma, arsitek bangunan para Dewa.

Dalam lontar tentang arsitektur Bali, disebutkan bahwa karya seorang Undagi mencerminkan peradaban, seni, dan nilai-nilai budaya yang mendalam.

Asta Kosala Kosali, misalnya, menjadi panduan utama dalam pembuatan bangunan dan tempat suci.

Kayu-kayu yang digunakan dalam bangunan pun harus dipilih dengan cermat berdasarkan ajaran sastra agama.

Profesi Undagi memang penuh dengan keunikan, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pembuatan sarana untuk upacara Ngaben.

Salah satu Undagi terkenal di Bali adalah Komang Gases, yang memimpin kelompok Undagi Gases di Denpasar.

Mereka telah menjadikan pembuatan wadah, bade, lembu, dan sarana lainnya sebagai profesi utama, dengan proses yang penuh aturan dan tata cara adat.

Mawinten: Penyucian yang Wajib Dilalui Seorang Undagi

Menurut Komang Gases, seorang Undagi tidak bisa sembarangan menjalankan profesinya.

Sebelum sah disebut Undagi, mereka harus menjalani pelatihan dan ritual khusus bernama "Mawinten."

Ritual ini berfungsi sebagai proses penyucian diri, yang sangat penting agar karya yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.

Bagi Komang Gases dan kelompoknya, Mawinten adalah bagian tak terpisahkan dari profesi Undagi.

Bahkan profesi lain yang terkait dengan upacara adat Bali, seperti tukang banten dan pande besi, juga diwajibkan menjalani prosesi Mawinten.

Proses ini diyakini dapat menghindarkan mereka dari masalah dan rintangan selama menjalankan tugas.

Mengapa Komang Gases Memilih Profesi Undagi?

Komang Gases, yang juga seorang produser film dan penari, mengaku profesi Undagi tidak direncanakan.

Sejak kecil, ia sering melihat ayahnya membuat bade dan lembu, sehingga profesi ini menjadi hobi yang dijalankan bersama kakaknya.

Meskipun kini fokus pada profesi sebagai Undagi, mereka juga memiliki profesi lain yang ditekuni, seperti politik dan seni.

Profesi Undagi memiliki sejarah panjang di Bali, yang berakar dari zaman Megalitikum. Dalam sejarah Bali, tradisi Megalithik masih terlihat di beberapa pura kuno seperti Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan dan pura-pura di Desa Sembiran.

Batu berdiri, teras berundak, dan arca Menhir menjadi bukti bahwa tradisi arsitektur ini telah berlangsung lama dan terus berkembang hingga saat ini.

Berikut adalah beberapa 10 fakta penting terkait profesi Undagi, arsitek tradisional Bali, dan hubungannya dengan adat, budaya, dan agama:

  1. Proses Skala dan Niskala: Sebelum menekuni profesi Undagi, seseorang harus melalui proses pembersihan skala (fisik) dan niskala (spiritual). Ini adalah salah satu syarat utama untuk menjadi Undagi, khususnya dalam pembuatan Wadah atau Bade untuk upacara Ngaben.

  2. Peran Utama dalam Budaya Bali: Undagi bukan hanya sekadar arsitek, tetapi juga penjaga nilai-nilai adat, seni, dan budaya Bali. Mereka harus memahami konsep Tri Hita Karana, yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

    Baca Juga: Unik! Tradisi Ngabaanin Jero Ngurah Wates di Pedawa, Hanya dilaksanakan saat ada Gejala Aneh
  3. Ilmu Asta Kosala Kosali: Seorang Undagi menguasai ilmu Asta Kosala Kosali, yaitu aturan tata letak dan arsitektur dalam tradisi Hindu Bali. Penerapan ilmu ini menjamin bahwa bangunan atau tempat suci yang dibuat memiliki taksu, atau kekuatan spiritual.

  4. Ritual Mawinten: Pawintenan atau ritual penyucian adalah prosesi penting bagi seorang Undagi. Tanpa ritual ini, seorang pengrajin tidak bisa disebut sebagai Undagi. Ritual ini membersihkan diri secara lahir dan batin, memastikan bahwa karya yang dihasilkan memiliki nilai spiritual.

  5. Tanggung Jawab Spiritual dan Filosofis: Selain desain estetika, seorang Undagi harus memahami filosofi dan makna di balik setiap bagian bangunan, terutama ketika membuat Wadah atau Bade untuk upacara Ngaben.

  6. Mengikuti Pakem (Aturan Khusus): Dalam lontar Dharma Laksana, dijabarkan aturan-aturan khusus bagi seorang Undagi. Pakem-pakem ini meliputi bahan, bentuk, dan tata letak yang digunakan dalam pembuatan Wadah dan Bade.

  7. Profesi yang Turun-Temurun: Profesi Undagi sering kali diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak Undagi terkemuka, seperti Undagi Gases di Denpasar, yang memulai profesi ini dari ketertarikan sejak kecil setelah melihat keluarga mereka membuat Wadah dan Bade.

  8. Omset yang Tinggi: Selama musim "duasa" atau hari baik untuk upacara Ngaben, permintaan akan Wadah dan Bade meningkat pesat. Undagi seperti Gases Bali dapat menerima pesanan hingga 150 unit per bulan, dengan kisaran harga antara Rp10-15 juta per unit.

  9. Penggunaan Bahan Modern: Meskipun mengikuti tradisi, bahan-bahan untuk pembuatan Wadah dan Bade kini telah mengalami modernisasi. Pengrajin sering menggunakan bahan seperti styrofoam dan gypsum, meskipun bambu tetap menjadi elemen penting dalam beberapa bagian bangunan yang sakral.

  10. Sejarah Megalithik: Tradisi Undagi memiliki akar yang sangat dalam, termasuk jejak Megalithik di Bali. Contoh penting dapat ditemukan di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan, di mana arca Menhir dari masa Megalithik masih dipuja hingga saat ini.

Fakta-fakta ini memperlihatkan betapa kompleks dan bermaknanya profesi Undagi dalam tradisi dan kehidupan masyarakat Bali. *** 

Baca Juga: Catat! Ini Sederet Bunga yang Dilarang Dipersembahkan dalam Upacara Yadnya, Begini Alasannya

Editor : I Putu Suyatra
#bali #wadah #Mawinten #Komang Gases #niskala #hindu #bade #undagi #asta kosala kosali #arsitektur