BALIEXPRESS.ID - Piodalan di Pura Puseh dan Bale Agung, Banjar Adat Cangwang, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, berlangsung setiap purnama pada bulan kesepuluh (sasih kapat).
Hal ini sesuai dengan catatan dalam lontar kuno yang ada di desa tersebut.
Terdapat tujuh tahap pelaksanaan piodalan setiap tahunnya, di mana tradisi Miardura merupakan puncak dari tahapan tersebut yang dilaksanakan saat Ngusaba Gede di hari keenam.
Kepala Adat Banjar Cangwang, Jro Wayan Madiana, menjelaskan, meski makna tradisi Miardura tidak tertulis jelas dalam lontar, tradisi ini merepresentasikan perjuangan masyarakat Cangwang di masa lalu.
Berbagai tantangan yang mereka hadapi dijadikan simbol keteguhan dan kegigihan komunitas.
Kegiatan Miardura melibatkan para pemuda (teruna) dan pemudi (teruni) dari banjar setempat, yang terbagi menjadi dua kelompok.
Keseruan muncul saat mereka saling beradu bendera kecil dalam sebuah permainan yang disebut madu tanggul, seakan-akan "berperang".
Jro Madiana menekankan bahwa Miardura harus dipentaskan saat Ngusaba Gede, mengikuti rangkaian upacara di Pura Puseh Bale Agung.
Biasanya acara ini dimulai menjelang petang, setelah semua persembahan selesai dipersembahkan. Masyarakat berkumpul di area madya mandala, sementara kedua kelompok pemuda dan pemudi siap berbaris.
Setelah semua bersiap, prosesi dimulai dengan kidung Miardura, yang dinyanyikan secara bergantian oleh teruni dan teruna.
Mereka mengenakan kain berwarna putih dan kuning. Dalam nyanyian, ada saling ejek yang bertujuan untuk membangkitkan semangat.
Baca Juga: Kebakaran Hebat Tak Terduga Terjadi di Parkiran Mall Plaza Renon, Bali, Dua Mobil Ludes Terbakar
Suara gong dan alat musik baleganjur menambah suasana semakin meriah, dan penonton pun turut bersorak.
Pertandingan adu bendera dimulai, di mana kelompok yang benderanya terlepas dinyatakan kalah.
Satu pemangku berperan sebagai pengamat yang mirip wasit, memantau jalannya permainan.
Tiap kelompok menyiapkan empat umbul-umbul kecil berwarna putih dan kuning.
Hanya pemuda yang terlibat dalam prosesi yang boleh menyanyikan lagu sakral tersebut, baik saat latihan maupun pementasan.
Jro Madiana menambahkan bahwa tradisi ini tak terpisahkan dari rangkaian upacara di Pura Puseh dan Bale Agung.
Pelaksanaan Ngusaba Gede dan tahapannya juga bergantung pada kemampuan ekonomi masyarakat untuk melaksanakan upacara.
Berdasarkan lontar, piodalan dilaksanakan setiap purnama pada sasih kapat, dengan tujuh tahap piodalan setiap tahun.
Tahapan tersebut meliputi ngerebus ari (tahun pertama), neker (tahun kedua), sekordi (tahun ketiga), neduh (tahun keempat), nguyuh (tahun kelima), Ngusaba Gede (tahun ketujuh), dan Ngusaba Empying sebagai penutup.
Jika masyarakat tidak mampu melaksanakan upacara sesuai jadwal, mereka dapat memohon kepada Ida Bhatara yang berada di Pura Puseh Bale Agung atau Kahyangan Tiga untuk menjadwalkan ulang upacara ke bulan berikutnya.
Ini menjadi alasan mengapa pelaksanaan tradisi Miardura terkadang tidak pasti.
Editor : Nyoman Suarna