Masyarakat Hindu di Bali dalam melaksanakan yadnya wajib menggunakan beberapa sarana, yaitu seperti api dan air.
Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika menjelaskan, dalam pelaksanaan upacara agama sarana api banyak digunakan, seperti Dhupa yaitu nyala bara api suci yang berisi wangi-wangian atau astanggi dalam upacara.
Dipa yaitu api suci yang nyalanya terbuat dari minyak kelapa, Api Takep yaitu api suci yang nyalanya terbuat dari dua bilah serabut kelapa.
Pasepan yaitu api suci yang nyalanya terbuat dari potongan kayu yang mengeluarkan bau harum seperti; kayu cendana, kayu gaharu, kayu menyan dan lainnya.
Demikian pula halnya dengan air, dalam pelaksanaan yadnya, air bukan lagi berfungsi sebagai air biasa, tetapi air memiliki fungsi yang sakral.
Selain itu juga memiliki magis dan kekuatan religius bersumber dari kekuatan Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk air suci yang sering disebut Tirta.
Seperti Tirta Wangsuhpada, Tirta Penglukatan, Tirta Pabersihan, Tirta Pengentas, Tirta Penembak dan lainnya.
Dari kedua jenis sarana upacara inilah sama-sama memerlukan suatu wadah yaitu dalam bentuk jenis Caratan dan Coblong. Caratan dan Coblong merupakan suatu benda yang tergolong benda keramik atau gerabah.
Penggunaan benda-benda gerabah atau keramik sudah dimulai pada zaman prasejarah.Peninggalan masa lampau menunjukan gerabah banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pemujaan.
Sampai saat ini pembuatan keramik atau gerabah sebagai sarana upacara keagamaan masih ada pada masyarakat Hindu di Bali. “Bahkan di Banyuning, pembuatan sarana ini masih bisa ditemukan,” kata Suardika.
Gerabah dihubungkan dengan kepercayaan agama Hindu Bali memiliki arti tersendiri. Bahwa dalam benda gerabah atau keramik terdapat tiga unsur yaitu air, tanah, dan api.
Ada suatu keyakinan dikalangan masyarakat Hindu Bali ke tiga unsur ini mutlak diperlukan dalam kehidupan sampai kematian, bahwa manusia hidup berasal dari tanah (Ibu Pertiwi), hidup karena air, dan mati kembali pada asal mula yaitu api.
Gerabah atau keramik yang bahannya tanah liat adalah mengandung beberapa unsur, seperti unsur tanah (tanah liat), unsur batu (pasir halus atau serbuk batu padas).
“Unsur air (untuk campuran adonan tanah liat), unsur api (untuk proses pembakaran), unsur udara (angin untuk pengeringan),” ungkapnya.
Unsur-unsur ini merupakan perlambang dari unsur-unsur yang terdapat dalam tubuh manusia, yang disebut Panca Maha Bhuta yaitu Pertiwi (Tanah) adalah unsur padat perlambang kulit dan daging pada tubuh manusia, Apah (Air) adalah unsur benda cair perlambang darah, keringat, air liur, dan lainya dalam bentuk cair dalam tubuh manusia.
Bayu (Udara) adalah unsur Bayu atau udara perlambang nafas pada manusia, Teja (Api) adalah unsur api atau panas perlambang suhu panas badan pada manusia, sedangkan Akasa atau Ether adalah ruang kosong perlambang rongga perut atau bawah hati manusia
Dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Hindu Bali keberadaan gerabah penting artinya, terutama keterkaitanya dengan sarana/ upakara untuk upacara yadnya.
Hampir setiap dalam pelaksanaan yadnya di Bali, baik yang bersifat rutin maupun acara tertentu memakai gerabah atau keramik dalam bentuk Caratan dan Coblong sebagai sarana upacara.
Namun dari seringnya pemakaian gerabah ini masyarakat belum banyak yang mengerti dan memahami makna simbolisnya.
“Penggunaan caratan dan coblong dalam acara yadnya di Bali biasanya sebagai tempat atau wadah air pada suatu jenis upakara (banten), atau ditaruh pada masing- masing pelinggih bangunan suci,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika