Cerita rakyat Lelipi Selaning Bukit di Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang sudah dianggap legenda dan berfungsi sebagai pelestarian hutan dan kebun di desa setempat. Cerita ini masih dipercaya oleh masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan serta masyarakat di sekitar desa tersebut.
Perbekel Tenganan, Ketut Sudiastika menjelaskan, Lelipi Selaning Bukit ini adalah nama ular penjaga hutan dan kebun agar terhindar dari kerusakan dan pencurian hasil-hasilnya. Menurut Sudiastika, nama slan bukit adalah karena ular itu berada di antara perbukitan yang ada di Desa Adat Tenganan Pegringsingan
Ia menjelaskan, ada Cerita rakyat tentang keberadaan Lelipi Slan Bukit adalah sebagai berikut. Diceritakan bahwa pada zaman dulu Ki Pasek Bendesa mempunyai kebun di kawasan hutan dengan berbagai jenis tanaman.
Baca Juga: Antisipasi Golput, KPU Tabanan Siapkan Strategi Ini kepada Warga
Kebun itu dikerjakan oleh seorang penyakap (penggarap) bernama I Tundung. Di kebunnya sering terjadi kecurian.
I Tundung merasa malu terhadap tuan tanah (Ki Pasek Bendesa). Ia khawatir, jangan-jangan dirinya yang dianggap pencurinya. I Tundung mencari akal agar ditakuti oleh pencuri.
I Tundung mendapatkan akal, ia pergi bertapa di bukit dalam salah satu pura, yaitu di Pura Nagasulung.
Ia memohon anugerah Ida Bhatara di sana agar dianugerahi rupa menakutkan agar tidak ada lagi pencurian di tempat itu. Permohonan I Tundung terkabulkan, berupa ular besar yang seram menakutkan.
Suatu ketika anak Ki Pasek Bendesa membawakan I Tundung makanan (nasi) sebagaimana biasanya. Ternyata ia tidak menemukan I Tundung di sana.
Setelah berulang-ulang memanggil nama I Tundung, ternyata yang datang seekor ular besar. Anak Ki Pasek Bendesa ketakutan dan menjerit-jerit, lari kembali menuju rumah.
Kejadian yang dialami itu diceritakan kepada ayahnya. Kemudian Ki Pasek Bendesa ke kebunnya untuk menemui I Tundung. Setelah memanggilnya, ternyata yang datang ular yang besar tersebut.
Ular itu menceritakan hal ikhwal mengapa ia menjadi seekor ular. Inilah saat terakhir bagi I Tundung bisa berbicara sebagai manusia.
Sejak itu ular besar, I Tundung selain diberi tugas menjaga kebun di kawasan bukit juga menjaga wilayah Desa Adat Tenganan Pegringsingan
Lelipi Slan Bukit diyakini oleh warga masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan dan desa lain sekitarnya tetap ada dan yang selalu menjaga kebun dan hutan di sana.
Lelipi Slan Bukit ini akan mencelakai para penjahat yang dengan sengaja merusak hutan serta mencuri hasil kebun dan hutan.
Atas dasar keyakinan itu, warga masyarakat tidak berani merusak hutan misalnya dengan menebang pohon sembarangan tanpa izin dari prajuru desa adat serta mencuri hasil hutan baik berupa kayu maupun buah-buahan yang menjadi larangan desa adat.
Lelipi Slan Bukit dinamakan oleh masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Slan Bukit berarti di antara bukit, karena kenyataanya Desa Adat Tenganan Pegringsingan berada di antara Bukit Kangin, Bukit Kaja, dan Bukit Kauh Tenganan.
cerita rakyat tentang Lelipi Slan Bukit ini adalah dibuat oleh leluhur orang Tenganan zaman dulu untuk melindungi hutan. Dikatakan hutan itu dijaga oleh ular yang menyeramkan yang sebenarnya ular king kobra.
“Memang ular itu ada hingga sekarang di hutan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Hingga saat ini cerita rakyat tersebut sangat diyakini baik oleh warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan maupun masyarakat sekitar Desa Adat Tenganan Pegringsingan,” jelasnya.
Diterangkan pula bahwa Pura Naga Sulung yang terletak di tengah hutan terkait dengan Lelipi Slan Bukit. LeliIipi Slan Bukit itu sejenis ular king kobra berwarna seperti kain gringsing mengkilau.
Sangat diyakini di desa setempat bahwa Lelipi Slan Bukit itu memang benar-benar ada hingga sekarang dan selalu menjaga kebun dan hutan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Dulu menjelang Gunung Agung meletus tahun 1963 dan menjelang penumpasan PKI di Bali tahun 1965 ular ini menampakkan diri sebagai firasat terjadinya bencana alam dan bencana kemanusiaan
Lelipi Slan Bukit yang ada dalam cerita rakyat Desa Adat Tenganan Pegringsingan merupakan suatu cara bagi leluhur masyarakat desa adat setempat untuk menyelamatkan hutan agar tetap lestari.
“Selama warga masyarakat masih menaruh keyakinan terhadap eksistensi cerita rakyat itu, maka selama itu pula hutan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan terhindar dari ancaman kerusakan, dan akan tetap terjaga kelestariannya,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika