Tokoh Adat Sidatapa, Putu Kasma mengatakan, kesakralan Tari Rejang Desa Sidatapa sudah teruji dari berbagai kisah yang diyakini secara turun temurun. Tarian ini pernah tidak dipentaskan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Akibatnya, desa terkena wabah penyakit secara masal.
Dari peristiwa itulah masyarakat kian meyakini, jika tarian ini memiliki nilai magis dan dapat menetralisir energi negative dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Sebagai tarian sakral, maka tidak boleh sembarangan waktu dan tempat mementaskan tarian ini. Ada tahapan yang harus dilewati jika ingin mementaskan Tari Rejang ini di Sidatapa.
Pertama wajib melalui tahapan Mepiuning. Proses Pementasan Tari Rejang di Pura Desa, Desa Sidetapa wajib memohon ijin kepada yang dipuja agar beliau berkenan sekaligus memberikan perlindungan agar prosesi Pementasan Tari Rejang dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada halangan apapun.
Baca Juga: HEBOH Kejar-Kejaran Polisi dengan Pelaku Balap Liar di Sunset Road Kuta, Joki dan Motor Diringkus
Matur piuning sendiri dilaksankana di Pura Desa, Desa Sidetapa. Kegiatan matur piuning dalam Pementasan Tari Rejang merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan karena masyarakat desa Sidetapa percaya bahwa jika hal tersebut tidak dilaksanakan, maka akan terjadi musibah yang tidak diinginkan.
Selanjutnya Persembahyangan bersama dilakanakan oleh seluruh mayarakat Desa Sidetapa serta penari dan sekaa gong yang mengiringi penari nanti ikut melakukan persembayangan bersama yang dilaksanaan di pura Desa yang pimpin oleh pemangku setempat.
“Persembahyangan ini menjadi salah satu proses dalam Pementasan Tari Rejang nantinya,” katanya.
Pementasan Tari Rejang dilakukan ketika penari selasai bersiap-siap dengan kostum ciri khas tari Rejang desa Sidetapa.
Pementasan tari rejang dilaksanakan pada madya mandala pura Desa yang disaksikan oleh seluruh krama Desa Adat Sidatapa. Waktu pelaksanaan Pementasan Tari Rejang di Pura Desa Sidetapa dilaksanakan dari pukul 09.00 pagi-12.00 siang.
“Tempat dipentaskan di area pura Desa yang merupakan tempat suci untuk pemujaan kepada Dewa Brahma dalam prawabanya sebagai pencipta yang merupakan bagian dari pura kahyangan tiga,” imbuhnya.
Baca Juga: Atlet Gianyar Borong Medali, Bonus Mengalir Deras
Kasma menambahkan, Tari rejang dapat diprcayai bisa membawa kedamaain dan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat sehari-harinya.
Pementasan Tari Rejang di Pura Desa Desa Sidetapa juga menggunakan sarana dan banten dalam melaksanakan ritual upacaranya.
banten yang digunakan hanya banten raka, canang sari dan gebogan. merupakan sarana upacara yadnya yang dipersembahkan kepada dewa Brahma yang bertempat di Pura Desa, Desa Sidetapa. Banten raka, canang sari dan banten gebogan berisikan bahan-bahan pada umumnya.
Sedangkan busana pada penari rejang tergolong sangat unik karena berbeda dengan Tari Rejang pada umunya.
Busana yang digunakan tari Rejang menggunakan tapih yang berwarna agak merah, wastra, sabuk, selendang berwarna-warni, sedangkan aksesoris yang digunakan bunga emas dan bunga hiasan lainnya. Dimana itu sudah merupakan warisan dari leluhur terdahulu yang menciptakan Tari Rejang ini.
“Pakaian yang digunakan dalam setiap pementasan tari Rejang ini sangatlah tradisional, dimana itu sudah merupakan suatu warisan dari para leluhur terdahulu yang menciptakan tari rejang ini,” sebutnya.
Pakaian tari rejang termasuk simple dan ringan tidak begitu berat pada riasan kepala dimana para penari bisa lebih leluasa dalam menarikan tari rejang tersebut. (dik)
Editor : I Putu Mardika