Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jadi sarana utama, Ini Makna Banten Ayaban, Lengkap dengan bahan-bahannya

I Putu Mardika • Jumat, 29 November 2024 | 04:48 WIB

 

Banten ayaban yang dijadikan sebagai sarana utama dalam ritual umat Hindu di Bali
Banten ayaban yang dijadikan sebagai sarana utama dalam ritual umat Hindu di Bali
BALIEXPRESS.ID-Bagi umat Hindu di Bali, Banten Ayaban merupakan bagian dari persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Banten ini dikategorikan dalam kelompok persembahan utama yang biasanya digunakan dalam berbagai upacara seperti Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan sebagainya.

Sarana ini terdiri dari berbagai simbol seperti porosan (melambangkan Tri Murti), bunga (simbol ketulusan), beras (lambang kehidupan), dan pisang (persembahan pokok). Selain itu, ada bagian seperti telur itik (melambangkan kesucian), kelapa (simbol dunia), dan tingkih (keselarasan dan kesucian).

Menurut lontar Yadnya Prakerti banten pinaka raganta twi, artinya banten itu adalah simbol dirimu sendiri, dapat dimaknai bahwa persembahan banten bermakna mempersembahkan diri sendiri, badan yang sekala niskala inilah yang sepatutnya dipersembahkan karena badan ini anugerah dari Beliau, Oleh karena itu simbol diri sendiri.

Baca Juga: GPIB Pniel Singaraja: Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kolonial Belanda yang tak Lekang Ditelan Zaman

Lontar-lontar sebagai rujukan pembuatan banten di Bali sangat banyak, di antaranya Rare Angon, Tutur Rare Angon, Dewa Tattwa, Widhi Sastra, dan Pelutuk Dewa Yadnya.Banten sebagai simbol diri, strukturnya dihubungkan dengan tubuh manusia melalui konsep Tri Angga, terdiri dari kepala (hulu), badan, dan kaki.

Misalnya, sekelompok banten odalan terdiri dari tiga bagian yaitu bagian hulu-kepala berupa banten-banten yang dipersembahkan di sanggar, bagian badan berupa banten ayaban (di arepan Widhi), dan kaki berupa banten segehan atau caru.

Cendikiawan Hindu, Dr. I Ketut Rupawan mengatakan kata ayaban berasal dari kata ayab menjadi kata ngayab (menghaturkan sesajen), ayaban (haturan berupa sesajennya). Sesajen dari kata saji, dalam bahasa Jawa Kuno artinya keperluan atau kebutuhan, apa yang disajikan.

“Jadi ayaban berarti kebutuhan manusia berupa makanan pokok yang dijadikan persembahan. Kelompok banten ayaban (sebagai badan dalam sistem banten) banyak jenisnya, dari tingkat nistaning nista sampai tingkatan utamaning utama,” ungkapnya.

Ia merinci, rayunan (terkecil), ajuman, dampulan, kelanan, pejatian, peras-penyeneng (tumpeng 5), sorohan tumpeng 7, sorohan tumpeng 11, sorohan tumpeng 21/22 disebut pamereman (atau pasarean, pakoleman), sorohan tumpeng 33 (pabangkit alit), sorohan tumpeng 38 (pabangkit bogem), dan yang terbesar adalah sorohan tumpeng 44 (pabangkit agung).

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut! Tiga Nyawa Melayang Akibat Kecelakaan Mengerikan Honda HRV Tabrak Truk Tronton: Salah Satunya Bayi Berusia 3 Tahun

Kalau diperhatikan isi banten ayaban terkecil, yang disebut rayunan: wadahnya berupa tamas bundar isinya dua buah pangkonan, satu celemik/tangkih berisi sepotong telor dan kacang-saur.

Di atasnya diisi canang. Pangkonan terbuat dari nasi, telor adalah dagingnya, dan saur bersama kacang sebagai sayur dan kacang adalah biji/buahnya. Tiga jenis bahan pangan ini, nasi, daging, buah/sayur merupakan makanan dasar yang menghidupi manusia.

“Karena bahan-bahan ini menghidupinya maka disebut amerta atau menjadikan tidak mati maksudnya hidup,” paparnya.

Unsur-unsur makanan pokok inilah sebut Rupawan merupakan anugerah bagi umat Hindu yang menghidupinya, oleh karenanya bahan-bahan ini pula dipersembahkan kembali kepada Ida Sanghyang Widhi sebagai wujud rasa terimakasih.

Sebagai persembahan, tiga jenis bahan 1 pokok tadi, oleh umat Hindu diolah dan dibentuk sedemikian rupa sehingga layak menjadi persembahan yang terbaik.

Banten ayaban yang lebih besar tingkatannya adalah ajuman, isinya sama dengan rayunan ditambahkan dengan jajan dan pisang (raka-raka).

Dilihat unsur-unsurnya masih tetap sama yaitu nasi, daging, dan buah/sayur, hanya kelengkapannya yang ditambah/diperbesar. Demikian juga banten dampulan, unsur-unsurnya masih sama dengan rayunan dan ajuman, hanya saja nasinya kini diperbesar menjadi dua buah tipat dampulan.

Ia menambahkan, karena nasinya sebesar tipat 2 buah sudah tentu dagingnya menyesuaikan maka digantilah dengan sebutir telor. Unsur lainnya masih tetap. Demikian juga kelanan, tipat dampulan tadi diganti dengan tipan sebanyak 6 buah yang disebut akelan.

“Walaupun demikian unsur-unsurnya tetap seperti di dahulu. Demikian seterusnya, sekelompok/sorohan peras –penyeneng tumpeng 5, tumpeng 7, tumpeng 11, tumpeng 21/22, sampai yang terbesar tumpeng 44 disebut pabangkit agung unsur-unsurnya dasarnya masih tetap sama hanya bentuk dan kelengkapan lainnya yang ditambahkan sesuai tingkatannya,” paparnya.

Perubahan nasinya dari pangkonan menjadi tipat, tumpeng, sekartaman/pulegembal, pabangkit alit/gerombong, pabangkit bogem/macagak, dan pabangkit agung makaras, bisa juga berubah menjadi sarad.

Baca Juga: Mantan Kabareskrim Polri Ungkap 7 Fakta Memalukan dalam Kasus Kabag Ops Tembak Mati Kasat Reskrim karena Tangkap Temannya

Perubahan dagingnya dari sepotong telor berubah menjadi: sebutir telor, seekor ayam panggang, babi guling, gayah puspus, gayah sari, gayah utuh.

“Perubahan buah/sayur dari kacang saur diganti dengan buah-buahan lebih besar, pajegan buah, palabungkah-palagantung, saji tungguh, barong palabungkah palagantung,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Tri Murti #yadnya #Banten #hindu bali