Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Warak Keruron Wajib Dilaksanakan Bila Keguguran, Berpengaruh Negatif jika Diabaikan  

I Putu Mardika • Minggu, 1 Desember 2024 | 05:00 WIB

 

Prosesi Ritual Warak Keruron yang dilaksanakan jika terjadi keguguran
Prosesi Ritual Warak Keruron yang dilaksanakan jika terjadi keguguran
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu di Bali sangat meyakini, janin yang mengalami keguguran baik secara sengaja maupun tidak sengaja wajib dibuatkan upacara yang disebut Warak Karuron. Sebab, jika tidak dilaksanakan, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap psikologis dari sang ibu.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan, Upacara Warak Keruron dilakukan untuk mengakhiri penderitaan yang dialami sang ibu.

Karena menurut beberapa sastra suci Hindu, Keguguran adalah peristiwa yang menyebabkan leteh atau cuntaka, sehingga harus dilakukan upacara untuk pembersihan atau penyucian

“Upacara Warak Keruron, hampir dari seluruh peserta mengalami gangguan psikologis yang sangat kompleks setelah mengalami keguguran. Rasa bersalah yang sangat dalam, traumatik hingga menimbulkan halusinasi,” katanya.

Bahkan ada yang sampai setiap saat seperti melihat bayi setiap memejamkan matanya dimalam hari, mendengar suara tangisan hingga seperti tubuhnya ada bayi yang bergelayut.

Tentunya peristiwa ini sangat mengganggu dalam kehidupan sehari harinya.

Bukan tanpa alasan, mengapa Wanita yang mengalami keguguran merasakan hal traumatic. Pasalnya, roh bayi yang mengalami keguguran akan terus terperangkap dalam tubuh prakertinya walaupun tubuhnya masih dalam bentuk gumpalan darah.

Terperangkapnya roh bayi dalam tubuh prakerti yang terbentuk dari unsur Panca Maha Bhuta tersebut menyebabkan roh sang bayi tidak bisa melanjutkan perjalanannya ke alam selanjutnya (sunialoka) untuk seterusnya bisa bereinkarnasi lagi.

Ada sejumlah tahapan yang dilalui jika hendak melaksanakan Upacara Warak Keruron.

Dikatakan Murniti, setelah Ida Sulinggih melakukan berbagai puja, dilanjutkan dengan melakukan prosesi pengresikan untuk menyucikan sarana dan prasarana upacara, peserta dan lingkungan tempat acara, maka acara selanjutnya adalah Panglukatan Untuk si ibu dan ayah dari sang roh bayi.

Tujuannya adalah menyucikan dengan menghilangkan sebel/leteh di tubuh sang ibu dengan tirta panglukatan. Setelah ibunya bersih, lalu diikatkan karowista di kepalanya dan diisi dengan kalpika.

Dengan mengikuti prosesi ini, sang ibu sudah merasa suci kembali untuk bisa beraktifitas terutama datang ke tempat suci, untuk memnuhi kebutuhan kodrati untuk di cintai Tuhan kembali

Prosesi selanjutnya adalah pemanggilan roh sang bayi. Dengan memegang sangga urip sebagai tempat berstana sang roh bayi, lalu Ida Rsi memimpin acara pemanggilan roh tersebut(ngulapin) untuk datang dan masuk (duduk) di dalam sangga urip

Usai acara pemanggilan roh bayi (ngulapin), dan roh bayi dianggap sudah duduk di sangga urip, maka dilanjutkan dengan prosesi untuk si bayi.

Tahap selanjutnya adalah prosesi Ngayab Banten dipimpin oleh Ida Sulinggih, dibantu oleh para Pinandita di setiap banten yang akan di ayab.

Seluruh peserta oleh pemandu acara diminta untuk ikut “ngayab” agar peserta ikut merasakan persembahan yang dihaturkan kehadapan Ida Bhatara-Bhatari.

Usai ngayab banten, maka dilanjutkan dengan prosesi natab banten.

Maknanya adalah dengan natab banten tersebut maka peserta Upacara Warak Keruron dan anaknya yang diikutsertakan ikut mengambil anugerah dari persembahan tersebut, natab banten berupa Sambutan ke Sangga urip, Janganan, Bubur pirata dan nasi angkep dan Ayaban Pulogembal.

Kemudian Sulinggih membuat tirta pralina Usai proses natab banten untuk sangga urip serta dipercikkan tirtha, maka proses selanjutnya adalah Sulinggih membuat tirtha Pralina. Proses pembuatan tirtha pralina ini berlangsung sekitar 10 (sepuluh) menit. Tirta ini akan dipakai saat ngeseng sangga urip.

Prosesi Ngeseng Sangga Urip. Prosesi selanjutnya adalah ngeseng sangge urip. Yang digeseng semua bahan dari organik. Seperti kwangen , wastra, bunga, bahan dari lontar dan beras.

“Makna dari ngeseng sawe ini adalah untuk memisahkan antara roh sang bayi dengan unsur – unsur badan kasarnya (prakerti) agar sang roh bisa melanjutkan perjalanannya. Usai pengesengan sawa maka disiram dengan air yang disebut dengan penyeheb (penyeeb),” sebutnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#warak keruron #keguguran #bayi #hindu bali #roh #Panglukatan #penyucian