BALIEXPRESS.ID - Banten, simbol sujud bhakti umat Hindu Bali, sering kali dipandang sebagai sarana penting dalam upacara keagamaan.
Namun, apa sebenarnya makna di balik setiap persembahan Banten?
Banten terdiri dari tiga kategori utama: Banten alit, madya, dan utama, dan menjadi sarana yang sangat vital dalam kehidupan beragama umat Hindu.
Namun, menurut pemuka agama Hindu, Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika, yang lebih penting daripada kategori Banten itu sendiri adalah niat yang mendasarinya.
Banten Alit dan Keikhlasan dalam Persembahan
Menurut Pasek Swastika, Banten alit—meski lebih sederhana—tidak akan dianggap nista jika dipersembahkan dengan tulus.
Sebaliknya, meskipun Banten utama yang mewah dihaturkan, jika dilandasi dengan rasa terpaksa atau hanya demi gengsi, maka itu justru akan menjadi sia-sia.
"Banten yang dilakukan hanya karena gengsi, bukan karena bhakti yang tulus, malah bisa menjadi beban," ujarnya.
Hal ini menjadi kritikan tajam terhadap fenomena masyarakat saat ini, di mana banyak orang lebih memilih membeli Banten dari pedagang, bahkan dari non-Hindu, daripada membuatnya sendiri dengan niat suci.
"Semua serba mudah, tinggal beli," sindirnya.
Banten yang Sesuai dengan Kemampuan dan Niat
Pasek Swastika menekankan bahwa persembahan Banten tidak harus mewah atau mahal.
Dalam lontar Sarwa Bebantenan, ada sloka yang mengingatkan kita untuk menghaturkan Banten sesuai dengan kemampuan dan apa yang kita miliki.
"Jangan memaksakan untuk tampil wah, lebih baik sesuaikan dengan kemampuan kita," tegasnya.
Konsep ini, lanjutnya, sejalan dengan prinsip Tri Hita Karana, yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Bahkan, dalam agama Hindu, tidak ada kewajiban untuk membawa buah impor seperti apel New Zealand.
Buah yang tumbuh di halaman rumah kita sudah cukup untuk dipersembahkan.
Ini menunjukkan bahwa agama Hindu tidak rumit, hanya kita yang terkadang menyulitkan diri sendiri dengan mengikuti tren yang tidak sesuai dengan prinsip dasar ajaran.
Banten dan Enam Faktor yang Harus Diperhatikan
Pasek Swastika menjelaskan bahwa dalam menyusun Banten, terdapat enam faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu:
- Iksa (keinginan yang tulus dan ikhlas),
- Sakti (kemampuan),
- Desa (tempat atau budaya lokal),
- Kala (waktu yang tepat),
- Patra (kategori Banten yang sesuai), dan
- Tattwa (filosofi yang mendalam).
Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa meskipun Banten yang dipersembahkan bisa bervariasi, yang terpenting adalah keikhlasan dan niat yang tulus, bukan karena sekadar mengikuti tren atau memenuhi ekspektasi orang lain.
Tiga Kategori Banten dengan Filosofi yang Sama
Dalam sistem upacara Hindu, ada tiga kategori Banten yang sering digunakan: Banten Pangresikan, Pras, dan Pangambean.
Meskipun kategori Banten ini berbeda, semuanya memiliki filosofi yang sama: untuk membersihkan diri (Pangresikan), memohon berkah (Pras), dan memberi rasa syukur (Pangambean).
"Yang penting adalah rasa ikhlas dalam menghaturkan Banten, meskipun hanya satu jenis Banten yang ada, selama itu dilakukan dengan hati yang bersih, karyanya sudah bisa disebut puput (selesai dengan sempurna)," jelas Pasek Swastika.
Kesimpulan: Banten yang Sederhana Namun Penuh Makna
Akhirnya, Pasek Swastika menegaskan bahwa agama Hindu mengajarkan kita untuk berupacara dengan cerdas dan tulus.
"Jika kita tidak paham makna dari Banten yang kita haturkan, seberapa mewah pun itu, semua akan sia-sia," tandasnya.
Banten yang sederhana, jika dilandasi dengan niat yang ikhlas, lebih berharga daripada Banten mewah yang hanya dilakukan untuk pamer atau memenuhi ekspektasi orang lain.
Dengan kembali ke makna yang mendalam dan sederhana ini, umat Hindu dapat menjalankan upacara dengan lebih berarti, tanpa terbebani oleh kewajiban untuk menampilkan kemewahan. ***
Editor : I Putu Suyatra