Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penasaran, Ini Makna Tri Manggalaning Yadnya, Disebut Sang katrini, Wiku Yajaman dan Wiku Tapini Berstatus Dwijati  

I Putu Mardika • Jumat, 6 Desember 2024 | 04:30 WIB

Sulinggih saat muput karya dalam sebuah yadnya sebagai bagian dari Tri Manggalaning Yadnya 
Sulinggih saat muput karya dalam sebuah yadnya sebagai bagian dari Tri Manggalaning Yadnya 
BALIEXPRESS.ID-Dalam pelaksanaan ritual di Bali, Umat Hindu mengenal konsep Tri Manggalaning Yadnya. Ritual ini dipimpin oleh Tiga Pamucuk dalam menuntaskan upacara yadnya. Meskipun, karya dalam tingkatan Nista, Madya dan Utama.

Prof. Dr. Ida Bagus Putu Suamba, M.A. Ph.D selaku Akademisi Poltek Negeri Bali  menyebutkan Tri Manggalaning Yadnya memiliki makna tersendirit dalam pelaksanaan ritual di Bali.

Secara maknawi, kata Tri artinya tiga, manggala artinya pimpinan, dan yadnya artinya persembahan. Dalam pandangan Siwa Tattwa di Bali, ketiga pihak tersebut adalah wiku jayamana, wiku tapini, dan sang adrewe karya.

Ketiganya juga disebut sang katrini (menurut Lontar Dewa Tattwa). Wiku Yajamana dan Wiku Tapini berstatus dwijati. Sementara sang adrewe karya berstatus walaka.

Tiga serangkai mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menyukseskan karya yadnya sesuai tugas masing-masing di bawah pimpinan tertinggi wiku yajamana.

“Yang lain wiku tapini dan sang adrewe karya melaksanakan tugas-tugas sesuai petunjuk wiku yajamana. Wiku yajamana memegang sastra yang digunakan menyelenggrakan yadnya, karena itu beliau wibuhing sastra dan pradnyan,” kata Prof. Suamba.

Wiku yadnya adalah wiku terpilih. Ketiganya dikatakan sebagai antiga sapatalangan (tiga butir telur satu wadah), atunggalan (satu kesatuan) dalam bekerja; masing-masing melaksanakan tugas yang berat, dan perlu dedikasi, bhakti, berhati-hati, rasa pengabdian, dan konsentrasi.

Wiku Yajamana mempresentasikan Siwa atau Purusa, sementara Wiku Tapini mempresentasikan Bhatari Uma atau Pradhana; keduanya bekerja sama. Seluruh banten sebagai wujud pradhana disiapkan di bawah pimpinan/arahan wiku tapini.

Ia menjelaskan, ada ketentuan sastra/indik-indik untuk swaraja karya. Juga, dengan tri manggalaning yadnya diperlukan ketika yadnya yang akan dilaksanakan tergolong uttama (seperti karya ngenteg linggih, ligya, pediksan, dan sebagainya).

“Managemen karya haruslah baik; mengatur banyak orang, sarana, keuangan, waktu, dan tenaga agar semuanya berjalan dengan baik sesuai tujuan,” imbuhnya.

Masing-masing bagian/seksi (bhaga) dalam kepanitiaan bekerja menurut tugas dan tanggung jawabnya. Dengan Tri manggalaning yadnya diharapkan pelaksanaan yadnya berjalan baik dan sukses.

Sumber tentang tri manggalananing yadnya terdapat pada Lontar Indik Panca Bali Krama.

Sumber-sumber di atas tidak hanya menyatakan perlunya ngadegang tri manggalaning yadnya (sang katrini).

Juga yang tidak kalah pentingnya adalah sikap anyambut karya, ada ramabu-rambu yang harus diperhatikan.

Bisa menyediakan sarana/biaya/waktu/tempat untuk membangun yadnya belum cukup, masih sangat perlu sikap bathin anyambut karya seperti disebutkan di atas:

saulah-ulah lumaku, ngulah subal, yan tan hana bener anut linging aji, nirgawe pwaranya, kawalik purihnya ika, amrih hayu byakta atemahan hala. Ayuwa kasingsal, apan ring karya tan wenang kacacaban, kacampuhan manah weci, ambek branta sabda parusya, ikang manah sthiti jati, nirmala juga maka siddhaning karya, marganing amanggih sadya rahayu, kasidhaning panuju, mangkan kengetakna, estu phalania”.

Dijelaskan Prof Suamba, Wiku yajamana sebagai wiku pemuput sekaligus bertanggung jawab penuh secara niskala-sakala atas pelaksanaan suatu karya yadnya.

Beliau yang menentukan pedewasaan, wewantenan, eedan karya, dan wiku-wiku pemuput pada eedan karya tertentu berdasarkan sastra agama.

Wiku tapini bertugas mempersiapkan segala bentuk wewantenan. Dalam pelaksanaannya beliau dibantu oleh mancagrha, yakni tukang banten (sarati banten), tukang olahan wewalungan, tukang wewagahan, tukang orten (sangging, meranggi), dan tukang gambel dan pragina.

Dalam pelaksanaannya wiku tapini dengan pancagrha-nya dibantu oleh krama /pengempon pura. Dalam Lontar Widhi Sastra Tapini menyuratkan bahwa tingkah laku ia yang menjadi tukang banten, jangan berkata-kata keras dan kasar.

Sebab, kata-kata yang baik dan halus hendaknya diucapkan, pikiran selalu berpegang kepada kebenaran, dan lagi jangan mengurangi atau melebih-lebihi di dalam metetandingan, dan juga jangan mementingkan pemberian (dana) yang tidak wajar. Hendaknya tetap mengikuti petunjuk sastra agama.

Bila tidak mengikuti sastra agama, mengurangi atau melebih-lebihi, akan berakibat menderita papa orang yang menjadi tukang banten itu, dan kelak akan menitis menjadi binatang tingkat rendah, yaitu berjalan dengan dada, berkeliaraan di dunia.

Seandainya menjelma menjadi manusia, tentu menjadi cemohan masyarakat. 

Sang adrewe karya adalah ia yang mempunyai karya. Biasanya diwakili oleh prawartaka karya yang dipilih sesuai kesiapan dan kemampuannya.

Prawartakan karya mewakili seluruh krama agar pelaksanaan karya menjadi lebih lancar, efektif, dan berhasil.

Bhaga (seksi) kepanitiaan lebih banyak mengerahkan tenaga termasuk mengundang yang patut diundang. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#ritual #bali #yadnya #karya #hindu #Tri Manggalaning