Cerita Mistis dan Keajaiban Pamedal Agung di Bali: Gerbang Keramat Warisan Kerajaan Klungkung yang Menantang Waktu
I Putu Suyatra• Kamis, 12 Desember 2024 | 02:16 WIB
Pamedal Agung yang berdiri kokoh di kawasan wisata Kertha Gosa, Klungkung, Bali
BALIEXPRESS.ID – Siapa sangka, di balik megahnya bangunan Pamedal Agung yang berdiri kokoh di kawasan wisata Kertha Gosa, Klungkung, Bali, tersimpan cerita mistis dan sejarah yang begitu memukau.
Bukan hanya menjadi daya tarik wisata, gerbang ikonik ini juga dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Bahkan, tak sedikit orang yang datang khusus untuk bersembahyang memohon keselamatan dan keberkahan.
Jejak Sejarah dari Abad ke-17
Pamedal Agung dibangun sekitar abad ke-17 sebagai pintu utama Puri Semarajaya pada masa Kerajaan Klungkung.
Gerbang ini menghadap ke utara, selaras dengan Gunung Agung, yang dianggap sebagai poros spiritual Bali.
Struktur bangunan ini terbuat dari batu bata, batu padas, dan perekat tradisional berupa pamor bubuk dan gula pasir, menjadikannya kokoh melawan arus waktu.
Uniknya, ketika Perang Puputan Klungkung pada tahun 1908, Pamedal Agung tetap utuh meski bangunan puri lainnya hancur oleh serangan kolonial Belanda.
Keberadaan gerbang ini pun menjadi simbol keabadian budaya dan perlawanan rakyat Bali.
Inspirasi dari Lautan dan Candi Misterius
Ida Bagus Pidada Kaut, panglingsir Griya Pidada Klungkung, menuturkan kisah yang menghubungkan Pamedal Agung dengan keajaiban alam.
Dua bersaudara sangging asal Sesetan, Denpasar, yakni I Gusti Ungu dan I Gusti Kibul, disebut sebagai perancang gerbang ini.
Kibul terinspirasi oleh penampakan Candi Dwarawati yang tiba-tiba muncul dari laut saat ia memancing di Pantai Sidayu, Desa Takmung.
Wujud candi tersebut menjadi acuan desain megah Pamedal Agung.
Aura Keramat dan Pantangan yang Menantang Keberanian
Bagi masyarakat setempat, Pamedal Agung memiliki daya magis yang membuatnya tetap dihormati hingga kini.
Bahkan, saat penjajah Belanda mencoba merusaknya, mereka dikabarkan melihat kawasan tersebut berubah menjadi lautan.
Cerita ini semakin memperkuat anggapan bahwa Pamedal Agung dilindungi oleh kekuatan supranatural.
“Sampai sekarang, tidak ada yang berani merenovasi atau bahkan membuka pintu tengahnya,” ujar Pidada Kaut. Upaya pengecatan pernah direncanakan, namun akhirnya batal karena rasa takut.
Tempat Memohon Taksu dan Kedamaian
Bukan hanya sebagai situs bersejarah, Pamedal Agung juga dipercaya sebagai tempat memohon taksu, terutama bagi para seniman tari.
Ida Bagus Pidada Kaut sendiri mengaku rutin sembahyang di sana sebelum pentas. Pernah suatu kali ia mencoba tidak sembahyang, namun merasa kehilangan energi magis saat tampil.
“Seperti makan tanpa garam. Rasanya ada yang kurang,” ungkapnya, menggambarkan kepercayaan yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Harapan Pelestarian
Pidada Kaut berharap pemerintah terus menjaga warisan leluhur ini agar tetap lestari. Setelah lama terbengkalai pasca-Perang Puputan, kini Pamedal Agung sudah mulai terawat.
“Ini adalah warisan yang tak ternilai. Harus terus dijaga agar tetap menjadi saksi sejarah dan budaya kita,” pungkasnya.
Pamedal Agung: Bukti Nyata Keagungan dan Mistis Bali
Keberadaan Pamedal Agung bukan hanya melambangkan kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi saksi bisu cerita-cerita mistis yang terus hidup hingga kini.
Jika Anda berkunjung ke Kertha Gosa, jangan lupa singgah di gerbang penuh sejarah ini.
Siapa tahu, Anda pun bisa merasakan aura magis yang menyelimuti warisan budaya Kerajaan Klungkung. ***