BALIEXPRESS.ID - Ketika istri tengah mengandung atau hamil, banyak tradisi dan mitos yang menjadi perhatian, terutama bagi sang suami.
Salah satu mitos yang kerap dibicarakan adalah pantangan bagi suami untuk tidak bercukur atau memotong rambut selama masa kehamilan istrinya.
Namun, apakah mitos ini benar adanya atau memiliki makna yang lebih dalam?
Mengupas Pantangan dalam Lontar Tradisional Bali
Menurut Lontar Eka Pertama dan Lontar Ngemban Wang Beling, ada beberapa pantangan yang wajib dijalani seorang suami saat istrinya hamil.
Di antaranya adalah:
- Tidak boleh bercukur atau memotong rambut
- Tidak membangun rumah
- Tidak merakit peralatan kayu
- Tidak menggulung mayat
- Tidak menikah lagi atau memadu istri
- Tidak menengok kematian yang diakibatkan salah pati
Pemuka Agama Hindu Bali, Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika, menjelaskan bahwa pantangan-pantangan ini tidak sekadar larangan tanpa dasar, tetapi memiliki makna mendalam.
Makna Logis di Balik Pantangan
Pantangan seperti tidak memotong rambut ternyata bertujuan untuk menciptakan energi positif bagi pertumbuhan calon bayi.
Pasek Swastika menjelaskan bahwa jika seorang suami terlihat rapi dan bersolek, ada kemungkinan istrinya merasa kurang percaya diri, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi kondisi psikologis bayi.
Namun, ia menegaskan bahwa pantangan ini tidak mutlak harus diikuti. Jika memotong rambut dirasa perlu, hal tersebut tetap diperbolehkan.
“Pantangan ini lebih kepada latihan untuk pola pikir yang positif. Jadi, bukan soal potong rambut bisa bikin bayi cacat, tetapi lebih kepada menghindari hal-hal yang memicu pikiran negatif pada istri,” ungkapnya.
Pantangan Lain yang Perlu Diketahui
Selain larangan bercukur, pantangan lain yang disebutkan dalam Lontar Ngemban Wang Beling adalah:
- Tidak memasang pagar
- Tidak membuat telaga
- Tidak memancing
- Tidak menanam durus (yang memiliki makna metaforis untuk tidak berselingkuh)
Menurut Pasek Swastika, pantangan-pantangan ini memiliki simbolisme yang erat dengan disiplin diri atau brata, yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga selama masa kehamilan.
Mitos yang Sering Disalahartikan
Mitos seperti "jika suami memotong rambut, bayi akan lahir dengan rambut tipis" atau "jika memancing, bayi bisa berbibir sumbing" hanyalah pengertian keliru yang berkembang di masyarakat.
Makna sebenarnya dari pantangan ini adalah mencegah tindakan yang dapat merugikan atau menyakiti perasaan istri, seperti bersolek untuk menarik perhatian wanita lain.
Kembali ke Esensi Positif
Pasek Swastika menegaskan bahwa semua pantangan ini sebaiknya dipahami sebagai cara untuk melatih pikiran tetap positif.
Jika suatu pantangan tidak memungkinkan untuk diterapkan, sebaiknya tidak perlu dipaksakan.
“Pada dasarnya, pantangan-pantangan ini bertujuan baik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga selama masa kehamilan. Jadi, jika dirasa baik, jalankanlah. Tapi jika tidak memungkinkan, jangan sampai itu menjadi beban,” tutupnya.
Pelajaran dari Tradisi
Pantangan suami saat istri mengandung bukanlah aturan kaku, melainkan sarana untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan penuh pengertian.
Apa pun mitos yang berkembang, yang terpenting adalah menjaga pola pikir positif dan saling mendukung dalam menyambut kehadiran buah hati.
Jadi, apakah Anda percaya pada pantangan ini atau memilih untuk mengambil sisi positifnya saja? Bagikan pengalaman Anda! ***
Editor : I Putu Suyatra